
SURABAYA | duta.co – Di usianya yang telah menginjak 85 tahun, langkah Muslichah tetap tegap mendorong rombong cilok sejauh sekitar satu kilometer setiap hari. Dari kerja keras sederhana itulah, warga Bugul Kidul, Kota Pasuruan ini akhirnya mewujudkan impian berhaji setelah menabung sedikit demi sedikit selama puluhan tahun.
Perempuan lansia ini mengaku mulai berjualan sejak usia muda, bahkan setelah menikah di umur 18 tahun. Sejak saat itu, hidupnya dihabiskan untuk bekerja demi keluarga. Hingga kini, di usia senja, ia masih membuat cilok sendiri sejak dini hari.
“Subuh sudah di dapur, jam dua sudah mulai persiapan. Ciloknya saya buat sendiri,” tuturnya kepada wartawan duta.co
Setiap hari, Muslichah berjalan kaki sambil mendorong rombong roda tiga miliknya menuju tempat berjualan sekitar satu kilometer dari rumah. Jika badan terasa pegal, ia hanya mengandalkan jamu tradisional agar tetap kuat beraktivitas.

Dari penghasilan sekitar Rp 50 ribu per hari saat berjualan di kantin sekolah di antaranya di SMP 5 Jalan Trunojoyo Pasuruan ia menyisihkan uang Rp10 ribu hingga Rp15 ribu untuk ditabung. Bahkan sebagian tabungan itu disimpan di bambu.
“Sedikit-sedikit saya sisihkan. Kalau tidak nabung ya tidak bisa berangkat, karena kebutuhan banyak,” katanya.
Selain menabung dari hasil jualan cilok, Muslichah juga rutin mengikuti arisan mingguan Rp80 ribu. Dari kebiasaan sederhana itulah ia akhirnya bisa mendaftar haji pada 2017. Setelah menunggu selama sembilan tahun, kini ia berangkat dengan penuh rasa syukur.
Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Suaminya telah meninggal dunia 12 tahun lalu. Dari delapan anak yang dilahirkannya, dua di antaranya telah berpulang. Namun semangatnya tidak pernah padam.
“Saya berdoa semoga anak-anak sehat semua,” ucapnya pelan.
Meski mendaftar haji seorang diri, keberangkatannya kali ini ditemani putri bungsunya, Mariyatul Kibtiyah (35), yang ikut melalui penggabungan mahram sebagai pendamping lansia.
Mariyatul mengaku tergerak menyusul mendaftar haji pada 2020 setelah melihat perjuangan ibunya menabung dari hasil jualan cilok.
“Saya ingin mendampingi emak. Beliau orangnya sabar sekali. Saya ikut nabung dari sisa belanja tepung, bawang, dan kebutuhan jualan,” katanya.
Selama lima tahun terakhir, Mariyatul juga membantu ekonomi keluarga dengan berjualan cilok pada malam hari di depan gang dekat rumah. Sebelumnya, ia sempat bekerja di pabrik sebelum akhirnya memilih mendampingi usaha ibunya.
Kini, kebahagiaan menyelimuti hati Muslichah. Penantian panjang selama sembilan tahun akhirnya terbayar. Ia pun bersyukur bisa berangkat bersama putrinya dan bertemu banyak teman seperjalanan. “Senang sekali rasanya. Alhamdulillah bisa berangkat,” ujarnya haru. (gal/imm)








































