Kondisi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong Lamongan ramai pembeli. (FT/Ardi)

LAMONGAN | duta.co – Memasuki masa peralihan menuju musim kemarau, para nelayan di kawasan perairan laut Kabupaten Lamongan mulai bersiap menyambut puncak musim tangkap rajungan yang diprediksi akan terjadi dalam waktu dekat.

Perubahan pola angin dan arus laut yang mulai mengarah ke musim kemarau diyakini akan membawa dampak positif terhadap peningkatan hasil tangkapan, khususnya komoditas rajungan yang selama ini menjadi andalan nelayan setempat.

Ketua Forkom Nelayan Rajungan Simpul Lamongan, Muchlisin Amar, mengungkapkan bahwa dalam satu bulan terakhir hasil tangkapan rajungan justru mengalami penurunan. Kondisi ini terjadi sebelum memasuki puncak musim kemarau.

“Untuk satu bulan terakhir hasil tangkapan rajungan menurun. Kalau yang jarak tempuhnya sampai 30 mil, pendapatan hasil tangkapan rajungan bisa mencapai 20 hingga 25 kilogram. Sedangkan yang jarak tempuhnya 10 sampai 17 mil, rata-rata sekitar 10 kilogram per hari,” terang Muchlisin, Rabu (29/4/2026).

Menurutnya, capaian tersebut masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan hasil tangkapan saat musim puncak. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, peningkatan signifikan biasanya mulai terjadi pada bulan Mei, seiring dengan mulai bertiupnya angin timur yang menjadi penanda masuknya musim kemarau di wilayah perairan utara Jawa, termasuk Lamongan.

Kondisi tersebut memengaruhi pergerakan rajungan yang cenderung berkumpul di area tertentu, sehingga lebih mudah ditangkap oleh nelayan.

“Kalau sudah masuk Mei dan angin timur mulai kuat, biasanya hasil tangkapan rajungan akan meningkat cukup signifikan. Itu yang sedang ditunggu oleh para nelayan saat ini,” imbuhnya.

Dari sisi harga, komoditas rajungan saat ini justru menunjukkan tren positif. Muchlisin menyebutkan, harga rajungan mengalami kenaikan cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun lalu harga berada di kisaran Rp90 ribu per kilogram, kini telah melonjak hingga sekitar Rp135 ribu per kilogram atau naik sekitar 40 persen.

“Untuk rajungan, harga saat ini cukup tinggi. Tahun lalu sekitar Rp90 ribu per kilogram, sekarang sudah di kisaran Rp135 ribu. Ini tentu menjadi peluang besar bagi nelayan jika hasil tangkapan juga meningkat,” jelasnya.

Kenaikan harga tersebut menjadi angin segar bagi nelayan yang selama beberapa waktu terakhir menghadapi hasil tangkapan yang belum optimal. Dengan kombinasi antara potensi hasil melimpah dan harga jual yang tinggi, musim kemarau tahun ini diharapkan mampu mendongkrak pendapatan nelayan secara signifikan.

Sementara itu, pelaku usaha perikanan di Lamongan, Ir Sudarlin, menyampaikan bahwa harga ikan laut selain rajungan relatif stabil. Meski terdapat kenaikan, angkanya tidak terlalu signifikan dan masih dalam batas wajar.

“Untuk jenis ikan lainnya, terutama produk olahan seperti kurisi, swangi, kapasan, dan bijih nangka, kenaikannya hanya sekitar 7 sampai 10 persen,” ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk kategori ikan premium atau yang kerap disebut ikan super seperti kakap merah, kerapu, dan kuwe, harga di pasaran cenderung stabil tanpa lonjakan berarti. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga saat ini lebih dominan terjadi pada komoditas rajungan yang tengah mengalami peningkatan permintaan.

Lebih lanjut, Sudarlin menjelaskan bahwa musim kemarau tidak hanya berdampak pada rajungan, tetapi juga membuka peluang bagi nelayan untuk mendapatkan tangkapan lain seperti kepiting serta berbagai jenis ikan laut lainnya.

Dengan menggunakan alat tangkap berupa jaring yang sama, nelayan berpotensi memperoleh hasil tangkapan yang lebih beragam dalam sekali melaut.

“Biasanya kalau musim kemarau, tidak hanya rajungan, tapi kepiting dan ikan lainnya juga ikut banyak. Jadi sekali melaut, hasilnya bisa lebih variatif,” jelasnya.

Para nelayan di Lamongan pun menaruh harapan besar terhadap datangnya musim kemarau tahun ini. Setelah melalui periode hasil tangkapan yang menurun, mereka berharap kondisi alam yang lebih bersahabat mampu memberikan hasil laut yang melimpah sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Dengan berbagai persiapan yang mulai dilakukan sejak sekarang, para nelayan optimistis dapat memanfaatkan momentum musim kemarau secara maksimal.

Dukungan cuaca, potensi peningkatan populasi rajungan, serta harga jual yang tinggi diharapkan menjadi kombinasi ideal untuk mendorong pertumbuhan sektor perikanan tangkap di wilayah Lamongan. (ard)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry