MUSEUM dr Saleh terletak di Jl dr Saleh Kota Probolinggo (duta.co/fathul)

PROBOLINGGO | duta.co – Kota Probolinggo memasuki hari jadi ke-662 pada 4 September 2021. Kota ini punya tempat bersejarah, salah satunya museum dr Saleh.

Kisah perjuangan dr Mochammad Saleh yang merupakan salah satu pahlawan RI itu banyak dikenang oleh kalangan masyarakat, khususnya yang tinggal di Kota Probolinggo.

Museum dr Saleh yang terletak di Jl Dr. Moch Saleh No.1, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo merupakan salah satu peninggalannya.

Ahmad, petugas pemandu museum dr Saleh menceritakan bagaimana awal mula museum itu ada.

Dokter Saleh merupakan orang asli Boyolali, JawaTengah yang kemudian berpindah ke Kota Probolinggo.

“Pada saat zaman penjajahan dulu, dr Saleh hidupnya selalu berpindah-pindah, mulai dari Pasuruan, Situbondo, Sulawesi dan hingga akhirnya beliau mendiami Kota Probolinggo sekitar tahun 1938 sampai akhirnya wafat tahun 1952,” jelasnya kepada duta.co, Jumat (3/9/2021).

Rumah dinas yang ditempati oleh dr Saleh merupakan rumah sakit (RS) pertama di Kota Probolinggo.

“Dulu, beliau sering menolong rakyat jelata hingga para tentara Indonesia yang sakit. Jasanya pun banyak dikenang oleh masyarakat dan sampai sekarang namanya banyak digunakan untuk jalan dan rumah sakit,” terangnya kepada duta.co.

Ahmad memastikan seluruh peninggalan dr Saleh yang ada di museum tersebut asli 100 persen.

“Banyak peninggalan beliau di sini. Mulai dari baju dinas, alat kedokteran/medis, perabotan dan obat-obatan,” katanya.

Duta.co melihat-lihat beberapa ruangan di sana. Di dalam satu bangunan itu ada banyak kamar. Setiap ruangan berisikan sejumlah barang peninggalan beliau yang tertata rapi. Nilai-nilai sejarah yang ada di rumah tersebut yang akhirnya menjadi awal mula adanya museum ini.

Menurut Ahmad, saat ini museum itu masih hak milik keluarga dan belum dihibahkan. MOU dengan Yayasan Bung Saleh sudah terjalin sejak tahun 2013 hingga saat ini.

“Kalau hanya bangunan kuno, di Kota Probolinggo sendiri ada banyak bangunan seperti itu. Tapi yang dipertanyakan di sini, apakah ada nilai sejarah di bangunan itu?” ucapnya.

Museum itu juga banyak dijadikan rujukan refrensi oleh mahasiswa yang datang ke sana. Untuk masuk ke sana, pengunjung tidak ditarik biaya apapun alias gratis.

“Hanya saja di masa pandemi pengunjung mulai berkurang. Saat PPKM seperti ini kami hanya menerima tamu dari mahasiswa atau tamu-tamu dari dinas luar kota maupun provinsi,” kata pria yang sudah bekerja di museum itu selama 9 tahun.

Ahmad berharap masyarakat khususnya generasi muda mencintai, menghargai dan melestatikan sejarah yang ada di Kota Probolinggo. hul

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry