(Silsilah Sanad Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Mursyid Syekh Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

TAREKAT Naqsyabandiyah Khalidiyah merupakan salah satu jalur thariqah mu‘tabarah (diakui secara keilmuan dan sanad) yang menekankan perpaduan antara dzikir khafi (dzikir dalam hati), mujahadah (latihan spiritual), dan adab (etika ruhani).

Salah satu pilar utama keabsahan sebuah tarekat adalah keberadaan sanad atau silsilah yang bersambung hingga kepada Rasulullah Muhammad ﷺ, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an:

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوااليه الوسيلة
وجاهدوا في سبيله لعلكم تفلحون

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (Q.S. Al-Mā’idah: 35)

Dalam konteks ini, Mursyid Syekh Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, ulama، tokoh nasional Indonesia, yang kini sedang mengemban amanah sebagai Mudir Ali Idarah Aliyyah JATMAN Masa Khidmat 2025 – 2030 merupakan salah satu pengemban amanah rohani dalam jalur Naqsyabandiyah Khalidiyah yang memiliki silsilah bersambung (muttasil) hingga Rasulullah ﷺ melalui jalur para wali agung, auliya’, dan salafus shalih.

Berikut Jalur Emas Silsilah Ruhani (Silsilah Dzahabiyyah), garis besar sanad yang beliau emban:

1. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā
2. Malaikat Jibril
3. Nabi Muḥammad ﷺ
4. Khulafā’ Abū Bakar aṣ-Ṣiddīq
5. Sayyidinā Salmān al-Fārisī
6. Shaykh Ja‘far aṣ-Ṣiddīq
7. Shaykh Abū Yazīd
8. Shaykh Yazīd al-Bisṭāmī
9. Shaykh Ṭufūrī
10. Shaykh Abū al-Ḥasan al-Ḥaraqānī
11. Shaykh ‘Alī al-Farmādī
12. Shaykh Yūsuf al-Hamadānī
13. Shaykh Khwājah ‘Arīf Riwgarī
14. Shaykh Khwājah Maḥmūd Anjīr-Faġhnawī
15. Shaykh Khwājah ‘Alī ar-Rāmītānī
16. Shaykh Amīr Kulāl
17. Shaykh Muḥammad Bahā’uddīn Naqsyabandī
18. Shaykh ‘Alā’uddīn al-‘Aṭṭār
19. Shaykh Ya‘qūb al-Jarḥī
20. Shaykh Abdullāh al-Aḥrār
21. Shaykh Muḥammad Qāḍī
22. Shaykh ‘Ālim Qāḍī
23. Shaykh Muḥammad Rūmī
24. Shaykh Muḥammad Bāqī
25. Shaykh Muḥammad al-Fārūqī
26. Shaykh Sayfuddīn al-Ma‘ṣūm
27. Shaykh Aḥmad Rūmī
28. Shaykh Shamsuddīn
29. Shaykh ‘Abdussalām
30. Shaykh Mawlānā Khālid al-Baghdādī
31. Shaykh ‘Abdullāh
32. Shaykh Sulaimān
33. Shaykh Sulaimān (generasi selanjutnya)
34. Shaykh Sāqid Ismā‘īl
35. Shaykh ‘Alī Riḍā
36. Shaykh Yaḥyā
37. Shaykh ‘Umar Sufyān
38. Shaykh Bisṭāmī
39. Shaykh Miftāḥ al-Azhar Bisṭāmī
40. Shaykh ‘Alī Masykūr Mūsā

Memahami sanad suci dan mulia Thariqah Naqsyabandiyah ini bukan hanya berarti menghafal deretan nama yang tersambung dari satu mursyid ke mursyid lainnya, melainkan menyadari bahwa setiap nama dalam silsilah ini memuat warisan ruhani, adab, dan cahaya dzikir yang bersambung tanpa terputus.

Sanad ini adalah rantai cahaya ilahiyah yang mengalir dari sumber segala hakikat, Allah SWT, melalui Malaikat Jibril AS, hingga kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan diteruskan oleh para pewaris sejati, seperti Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq RA, yang menjadi poros awal jalur dzikir khafi dalam Tarekat Naqsyabandiyah.

Jalur suci ini terus mengalir hingga Syekh Bahā’uddīn Naqsyaband, pendiri utama aliran ini, yang menjadi nama jalur thariqah, Syekh Abdullah al-Aḥrār (pembaharu Naqsyabandiyah di Asia Tengah) /, Syekh Ahmad al-Fārūqī as-Sirhindī (Imam Rabbani), penyelamat ruhani Islam dari sekularisasi di India. Dan Syekh Khālid al-Baghdādī, pendiri cabang Khalidiyyah, sebagai penyebar tarekat ke Anatolia, Syam, dan Nusantara.

Setiap tokoh dalam sanad ini tidak hanya menjadi pengemban ilmu lahir, tetapi juga penjaga amanah batin, hingga akhirnya warisan tersebut sampai ke tangan para mursyid akhir zaman, termasuk Syekh Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, yang dengan bimbingan rohaniahnya menjadi pelita bagi para salik (penempuh jalan Allah) di era modern ini.

Beliau adalah Mursyid yang menanamkan nilai-nilai spiritual Naqsyabandiyah di era modern, terutama di kalangan Nahdlatul Ulama dan pesantren-pesantren di Ibukota, Banten, Cirebon, Jawa, luar Jawa dan di seluruh pelosok nusantara.

Makna Sanad dalam Praktik Tarekat

Sanad dalam thariqah bukan sekadar catatan nama-nama. Ia adalah rantai ruhani (silsilah dzikrullah dan akhlaq) yang menghubungkan seorang murid (salik) dengan mata air kenabian melalui jalur ruhani yang tak terputus.

Dalam Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah, setiap nama dalam silsilah tersebut bukan hanya penjaga ilmu, tetapi juga pemikul cahaya dzikir, pembawa adab, dan pengajar ma’rifah.

Dengan bersambungnya sanad kepada Rasulullah ﷺ, seorang mursyid Naqsyabandiyah seperti KH. Ali Masykur Musa tidak hanya menjadi guru zikir, melainkan juga penjaga warisan ruhani Islam yang otentik.

Refleksi dan Hikmah

Dengan silsilah yang kuat, teruji, dan bersambung hingga Nabi Muhammad ﷺ, Syekh Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa menjadi salah satu titik pancar cahaya dalam jaringan spiritual Islam global.

Dalam bimbingan beliau, ribuan salik (penempuh jalan ruhani) di Indonesia menemukan makna kedekatan dengan Allah melalui dzikir, adab, dan suluk yang terjaga sanadnya.

#PewarisRasul
#SanadRuhani
#KHAliMasykurMusa
#MursyidNaqsyabandiyah
#ThariqahMuktabarah

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry