
JOMBANG | duta.co – Libur Lebaran 2026 menjadi titik balik bagi Waterboom Tirta Wisata Jombang. Sempat lama tutup dan nyaris dilupakan, destinasi milik pemerintah daerah di Desa Keplaksari, Kecamatan Peterongan ini justru bangkit dengan kejutan diserbu ratusan pengunjung sejak hari pertama dibuka kembali.
Baru dibuka pada H+1 Lebaran, Tirta Wisata langsung menunjukkan geliat. Dalam tiga hari pertama, jumlah pengunjung rata-rata mencapai 200 hingga 300 orang per hari. Tak hanya warga lokal, pengunjung juga datang dari luar daerah seperti Kediri hingga Mojokerto.
Kepala Bidang Destinasi dan Industri Wisata Disporapar Jombang, Yudha Dewandrianto, mengungkapkan, sejumlah inovasi sederhana menjadi kunci kebangkitan. Mulai dari wahana mandi busa, hiburan musik elektronik, hingga kualitas air yang diklaim lebih bersih tanpa kaporit.
“Selama libur Lebaran ini, kita tambahkan wahana dan hiburan. Yang penting juga airnya kita jaga tetap bersih, ditambah harga yang sangat terjangkau,” ujarnya, Selasa (24/3)
Harga tiket memang menjadi magnet utama. Selama masa promo Lebaran hingga libur sekolah, tiket masuk dipatok Rp5.000 dari harga normal Rp10.000. Dengan harga tersebut, pengunjung tetap bisa menikmati wisata air yang relatif bersih dan ramah keluarga.

Dampaknya langsung terasa. Meski dalam masa promo, pendapatan harian rata-rata mencapai Rp1,5 juta, bahkan sempat menyentuh Rp3 juta dalam sehari angka yang cukup menggembirakan untuk destinasi yang baru kembali beroperasi.
Ke depan, pengelola merencanakan operasional terbatas, yakni hanya buka pada akhir pekan dan hari libur nasional, mengingat masih dalam tahap pemulihan.
Fenomena ini seolah menegaskan satu hal di tengah tekanan ekonomi pasca-Lebaran, masyarakat tak benar-benar berhenti berwisata mereka hanya menggeser pilihan. Dari destinasi mahal ke tempat yang lebih rasional, dekat, dan ramah kantong.
Tirta Wisata Jombang membaca celah itu. Dengan sentuhan sederhana air yang lebih bersih, wahana ringan, dan harga yang “membumi”tempat ini menjelma jadi alternatif realistis bagi keluarga.
Bagi Sriana (50), warga Kepuhkembeng, Peterongan, pilihan itu bukan sekadar rekreasi, tapi juga strategi bertahan.
“Dekat, murah, dan sekarang bersih. Anak-anak juga senang, jadi tidak jenuh di rumah,” tuturnya sambil mengawasi anak-anaknya bermain air.
Ia mengaku sudah dua kali berkunjung. Menurutnya, kondisi ekonomi pasca-Lebaran menjadi pertimbangan utama. “Kalau ke tempat lain kan butuh biaya lebih. Di sini cukup, tapi tetap bisa liburan,” imbuhnya. (din)






































