Cak Kholiq (kiri) dan TikTok dpwpkbjawatimur yang beredar di Medsos. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Masih pada hari yang sama, Jumat (9/6/23) beredar lagi potongan video pendek tetap melalui akun TikTok dpwpkbjatim. Durasinya kali ini 58 detik, lebih panjang dari video pertama, 23 detik.

Isinya sambutan lelaki yang mirip Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Timur, Abdul Halim Iskandar. Isinya: “Nanti tolong sampaikan, kepada seluruh warga masyarakat Jawa Timur, di wilayah sahabat-sahabat semua, bahwa, hari ini, PKB bukan lagi, bukan lagi menjadi partainya NU. Tolong dicatat, hari ini PKB bukan lagi menjadi partainya NU. Nanti tolong sampaikan,” katanya.

“Tapi PKB adalah partai NU. Artinya, keberadaan PKB betul-betul harus menjadi seperti keberadaan Partai NU pada zaman 1955 sampai zaman orde baru. Visi-misi, ghirah, nilai perjuangan dan sebagainya harus sama persis dengan yang dilakukan oleh pengurus, warga, konstituen partai NU pada saat itu,” tegas lelaki tersebut dalam durasi terbaru.

Drs H Abdul Kholiq, mantan Pengurus PC Ansor Jombang kepada duta.co, memberi komentar tambahan atas video terbaru. Menurutnya, ada sah-sah saja PKB ingin menjadi seperti Partai NU tahun 50-an.

“Pun soal visi-misi, ghirah, nilai perjuangan dan sebagainya, harus sama persis dengan yang dilakukan oleh pengurus, warga, konstituen partai NU pada saat itu. Ini bagus, tetapi, siapa pun tahu, bahwa keinginan menyamai Partai NU dulu, itu bainassama’ wasumur (antara langit dengan dasar sumur),” tegasnya.

Mengapa? Mnurut Cak Kholiq, panggilan akrabnya, ideologi partai sekarang dengan partai yang hidup tahun 50-an, sangat berbeda jauh. “Kepentingannya juga, beda jauh. Sekarang hidup di partai itu, lebih menjadi pekerjaan. Cari hidup. Yang terjadi bukan wakil rakyat yang sesungguhnya. Paradigma inilah yang harus kita bongkar bersama,” jelas Ketua DPC PBB Jombang ini.

Karenanya, tegas Cak Kholiq, memanfaatkan NU, apalagi membawa-bawa bendera NU, harus disudahi. “Selama ini, bendera NU mereka bawa ke mana-mana. Ini merusak keputusan kembali ke Khittah NU. Maka, setiap parpol, termasuk yang merasa paling NU, harus berani bertarung mengedepankan program kerakyatan,” terangnya.

Ia memuji kebijakan PBNU yang, berani menjaga jarak dengan partai mana pun, termasuk PKB. “Kebijakan PBNU ini, sangat penting. NU harus berada di jarak yang sama dengan parpol mana pun. Karena politik NU dengan Parpol, itu berbeda. NU politiknya kebangsaan, bukan partisan. Kalau NU ikut partisan, lama-lama NU terkesan menjadi Banom Parpol,” tutupnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry