TAMAN : Hutan Joyoboyo terlihat gelap tanpa ada penerangan lampu (duta.co/Nanang Priyo)

KEDIRI | duta.co – Pemadaman lampu di lokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Hutan Joyoboyo Kota Kediri membuat muncul isu angker. Hutan Joyoboyo yang memang dikelilingi pohon besar kalau malam hari terkesan sinyup dan angker.

Atas masalah tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP), Didik Catur, lebih dikarenakan keterbatasan tidak adanya anggaran membayar rekening listrik. Atas pengaduan ini, Didik menjelaskan, justru pihaknya sengaja melakkan pemadaman dikarenakan mengantisipasi kegiatan negatif pada lokasi RTH tersebut. Pihaknya juga keterbatasan petugas penjaga taman, yang bekerja sejak pagi hingga malam.

“Memang ada batasan kunjungan di atas jam 23.00 wib malam, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Namun tetap ada beberapa lampu yang dihidupkan. Ini karena anggaran rekening listrik yang kami tanggung juga masih belum mencukupi,” kata Didik Senin (16/4) saat dikonfirmasi atas gelapnya lokasi taman terkesan angker dan dijadikan ajang berkumpul sejumlah waria, seperti dikeluhkan warga dan pengunjung.

Menurutnya, jika tidak ada pemadaman pada jam yang ditentukan, tentunya pengunjung akan masih bertahan pada Hutan Joyoboyo.

“Karena keamanan kita juga terbatas di sana, mas. Kalau kita tambah personel ataupun menambah jam kerja sampai malam, kan juga butuh tambahan gaji dan mereka kan juga butuh istirahat,” jelas Kepala DLHKP Kota Kediri.

Meski demikian, pihaknya sangat berharap agar taman tersebut bisa dikunjungi 24 jam dengan didukung penerangan dan tenaga pengamanan.

“Sampai saat ini kami belum mendapat laporan kejadian artinya tidak ada kejadian seperti itu. Namun kami juga tidak berharap hal – hal negatif terjadi di sana. Kemudian ke depan, saran dan masukan ini semoga bisa terealisasi dan bisa dibuka selama 24 jam. Penambahan personel keamanan juga perlu,” jelasnya.

Sejumlah warga Kota Kediri mengaku saat melintas di Kawasan Taman Hutan Joyoboyo merasa ngeri, menginggat terdapat bangunan water torn serta bangunan lainnya peninggalan Belanda.

“Ternyata ngeri saat melintas, padahal lokasinya sangat bagus. Setidaknya dipasang lampu dari empat sudut untuk menerangi. Kemudian dipasang papan pengumuman atas waktu berkunjung,” jelas Puguh Pambudi, warga Kelurahan Dermo Kecamatan Mojoroto saat dikonfirmasi. (ian/nng)

 

Tinggalkan Balasan