
JOMBANG | duta.co – Meski sudah banyak media online, media siber (cyber media) ternyata kerinduan nahdliyin terhadap media cetak (koran) tak bisa disembunyikan. “Saya membayangkan Koran Duta Masyarakat hadir sebelum dan sesudah Muktamar ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas. Jombang. Ini bisa menjadi file (hard copy) salinan cetak bagi peserta muktamar,” demikian disampaikan Dr Romadlon Sukardi MM kepada duta.co, Selasa (21/7/26).
Menurut Doktor Romadlon, meski ada banyak media siber (cyber media) nahdliyin butuh file cetak untuk memahami NU secara utuh. “Dari edisi cetak itu, nahdliyin bisa melihat secara utuh bleger NU sesungguhnya. Baik soal ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan bahkan sampai soal politik. Dengan catatan redaksi Koran Duta Masyarakat , tidak boleh terlibat dukung-mendukung kandidat,” tegas Cak Dlon, panggilan akrabnya.
Pengasuh Ponpes Al-Huda, Kediri Jawa Timur ini, menambahkan, bahwa, kita butuh potret lengkap NU. Dari potret itu, nahdliyin menjadi paham, bahwa, NU memiliki kekuatan yang dahsyat. Selama ini banyak nahdliyin yang belum tahu kekuatan NU. “Di samping itu, kita perlu membedah kebutuhan penting warga NU. Karena berbicara masa depan Indonesia, tanpa melibatkan NU, itu impossible,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan ET Hadi Saputra, pegiat media di Indonesia. Pemilik website ethadisaputra.com itu menilai, alangkah indahnya jika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang pada akhir Agustus 2026 itu juga menjadi kepedulian khusus awak Koran Duta Masyarakat. “Bagi media berakar nahdliyin seperti Duta Masyarakat (duta.co), liputan muktamar idealnya tidak sekadar menyoroti bursa pimpinan, tetapi juga kedalaman gagasan keumatan, relasi struktural-kultural, serta khittah organisasi,” tegasnya.
ET Hadi Saputra lalu menyuguhkan beberapa sudut pandang (angle) yang tajam dan berbobot. Pertama, perihal kegiatan Istightsah dan Spiritual. Ini penting karena telah menjadi akar pesantren: Spirit Tambakberas dan Khittah Keumatan. Fokus Utama bisa soal Penetapan Tambakberas sebagai tuan rumah. “Ini membawa pesan simbolis yang kuat: mengembalikan napas Muktamar ke ekosistem pesantren. Luar biasa,” tegasnya.
“Lalu sudut pandang atau analisis kritis mengenai sejauh mana Muktamar ke-35 mampu meresapi nilai-nilai perjuangan pendiri NU (seperti Mbah Hasyim dan Mbah Wahab) di tengah godaan akumulasi kekuasaan dan dinamika politik praktis. Dalam hal ini seluruh kiai, pengasuh pesantren, dan tokoh kultural NU akan membacanya,” terangnya.

Koran Duta Masyarakat juga bisa membedah Dynamic Leadership dan Regenerasi. Format Pimpinan PBNU Pasca-2026: Rekonsiliasi, Independensi, atau Kooptasi? “Peta politik internal dan dinamika figur bakal calon Ketum PBNU dan Rais Aam menjelang Muktamar. Ini bisa dengan meninjau bagaimana relasi antara struktur PBNU, partai politik, dan panggung pemerintahan nasional. Artikel dapat mengulas batas tegas antara “sinergi kebangsaan” dan pilar khittah agar PBNU tetap berdiri independen di atas semua golongan,” tambahnya.
ET Hadi Saputra juga menyorot soal ekonomi nahdliyin. “Ketiga, tak kalah penting menyorot ekonomi dan kemandirian jam’iyyah. Koin Digital hingga Kemandirian Ekonomi: Menguji Cetak Biru Abad Kedua NU. Media ini bisa berkonsentrasi pada transformasi tata kelola keuangan dan kemandirian ekonomi warga nahdliyin. Mengevaluasi efektivitas program-program kemandirian (seperti digitalisasi koin NU, tata kelola aset jam’iyyah, dan pemberdayaan UMKM warga),” urainya.
Harapannya, lanjut ET Hadi, Muktamar ke-35 melahirkan keputusan strategis (bahtsul masail waqiiyyah) yang konkret terkait ekonomi kerakyatan. “Pembacanya bisa macam-macam dari kademisi, aktivis ekonomi NU, dan pengusaha warga nahdliyin. Tak kalah penting adalah Budaya dan Pemikiran Islam, soal Menjaga Sanad Tradisi di Tengah Arus Gelombang Disrupsi Digital. Peran kebudayaan Islam Nusantara (termasuk seni tradisi seperti ISHARI, Lesbumi, dan tradisi pesantren) dalam membendung radikalisme dan polarisasi,” tegasnya.
Ia juga melihat pentingnya NU merumuskan strategi dakwah digital tanpa mengikis keluhuran tradisi lisan, keilmuan kitab kuning, serta penghormatan pada guru dan kiai. Generasi muda NU seperti IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat dan penggerak seni budaya bisa menumpahkan ide-ide bagusnya. “Jangan lupa isu haji hingga perlindungan data warga. Ingat turunan hasil Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 menuju Muktamar, ini bisa menjadi sikap PBNU terhadap isu-isu kebangsaan yang menyentuh hajat hidup orang banyak, misalnya transparansi tata kelola haji, perlindungan data pribadi, krisis iklim, serta ketahanan pangan,” pungkasnya.
Pemred Duta Masyarakat Mokhammad Kaiyis mengamini gagasan tersebut. Menurutnya Muktamar ke-35 NU memang memiliki nilai yang sangat strategis. Apalagi tempatnya di Ponpes Tambakberas, Jombang. Ia mengaku segara menghitung kebutuhan yang harus disiapkan, termasuk Sumber Daya Manusia (SDM)nya. “Soal materi banyak sekali profesor dan doktor dalam NU yang siap membantu. Sekarang sedang dibuat rancangan, termasuk contoh (isi) perhalamannya. Kita siapkan 8 halaman warna, setiap hari selama seminggu,” tegasnya. Semoga! (mky)




































