Siswa mengikuti Pembelajaran secara tatap Muka (PTM) secara terbatas di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, Kamis (09/09/2021). DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA | duta.co – SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya mulai menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sejak Rabu (8/9/2021).

Pihak sekolah menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat, agar semua warga sekolah aman dan terhindar dari penularan Covid-19.

Siswa yang berjumlah 1.230 dibagi dalam beberapa gelombang. Setiap tingkatan mendapat jatah dua hari ke sekolah sisanya daring. “Jadi kita konsepnya masih hybrid, perpaduan luring dan daring,” ujar Kepala Smamda Surabaya, Astajab, Kamis (9/9/2021).

Dalam setiap kelas yang berjumlah 35 siswa, masuknya diatur bergantian. Nomor absen ganjil mendapat jatah masuk pagi mulai pukul 07.00 hingga 09.45 WIB. Sementara yang masuk siang dimulai pukul 11.30 hinga 14.00 WIB.

Siswa yang mendapat giliran masuk siang harus mengikuti pembelajaran pagi melalui daring. Begitupun siswa yang masuk pagi wajib mengikuti pembelajaran siang melalui daring. Sehingga tidak ada siswa yang ketinggalan pelajaran. “Setiap hari siswa harus mengikuti 10 jam (satu jam pelajaran selama 30 menit) pelajaran itu terpenuhi,” tutur Astajab.

Dengan adanya jarak waktu antara siswa pagi dan siang, diharapkan tidak ada kontak fisik antar siswa dan tidak ada kerumunan. “Kita kasih jeda waktu agar ada pertukaran udara di dalam kelas. Kita tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” tandas Astajab.

Siswa sebelum masuk ke sekolah, memang disarankan sudan vaksin Covid-19 minimal satu kali. Selain itu, orang  tua memberikan izin dan siap mengantar jemput. Kalau pun siswa  mengendarai motor harus sendirian tidak boleh berboncengan.

Fasilitas cuci tangan, hand sanitizer serta prokes lainnya diterapkan sangat ketat dan dijaga Satgas Covid-19 sekolah.

Bahkan, Smamda Surabaya juga tidak mewajibkan siswa-siswinya mengenakan seragam. Ini menjaga keamanan siswa itu sendiri. “Lebih aman itu menggunakan baju lengan panjang, kalau pakai seragam, yang cowok seragamnya lengan pendek. Makanya kita beri kelonggaran pakai baju lengan panjang walau tidak seragam. Nanti kalau kondisi sudah kodusif kita akan kaji ulang,” jelasnya.

Nabila Callisya, siswa kelas X mengaku senang bisa ke sekolah. Walau masih bertemu sebagian temannya, baginya tak menjadi masalah. Begitupun tidak diwajibkan pakai seragam.

 “Tidak apa-apa, yang penting bisa ke sekolah dan bertemu teman-teman.  Pelajaran kalau di sekolah akan jauh lebih masuk ke otak daripada daring,” tandasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry