SURABAYA | duta.co – Tagline ‘Revolusi Akhlaq’ yang digaungkan Habib Rizieq Syihab (HRS) dinilai sangat tepat. H Abdul Rozaq, salah satu pengurus Komita Khitthah Nahdlatul Ulama 1912 (KKNU’26) menyebutnya (akhlaq) sebagai problem utama bangsa ini.

“Betul! Saya salut dengan Habib Rizieq. Beliau masuk ke jantung masalah anak bangsa, akhlaq. Negeri ini babak belur karena rendahnya akhlaq. Kini, semakin banyak orang tidak paham, mana masalah bangsa yang harus segera diselesaikan,” jelas Gus Rozaq, panggilan akrabnya, Rabu (25/11/2020) kepada duta.co.

Gus Rozaq juga menyesalkan adanya warga NU Surabaya yang ikut-ikutan hendak mengadang kedatangan Habib Rizieq di Surabaya. Padahal, apa yang dilakukan HRS adalah dalam rangka dakwah, mengusung kebenaran di tengah-tengah banyak orang terhipnotis kekuasaan.

“Kalau kita tidak berani melakukan, doakan. Kalau kita tidak sempat berdoa, dukung secara diam. Jangan sampai kita menjadi penghalang,” tegasnya.

Berikut wawancara dengan Gus  Rozaq yang diturunkan secara tanya jawab:

Gus, kini rame video tentang kedatangan Gus Aam (KKNU 1926) di acara Habib Rizieq. Bagaimana tanggapan Anda?

Tergantung. Kalau ditanggapi sebagai silaturahmi, sebagai bentuk memperkokoh ukhuwah islamiyah, ya… baik-baik saja. Begitu juga dilihat dari prespektif ukhuwah insaniya, sangat bagus. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang orang yang berpolitik, punya kepentingan, apalagi orang yang jadi korban buzzer, penuh kebencian kepada Habib Rizieq, maka silaturrahmi Gus Aam dianggap masalah besar.

Banyak orang NU keberatan Gus?

Kita ini sering menjungkir-balikkan masalah. Mestinya orang NU itu justru keberatan kalau ada tokoh yang datang ke Pak Luhut, apalagi sampai berani ngomong bahwa Pak Luhut ini NU Cabang Katolik. Tapi faktanya kita diam.

Anehkan! Kok nggak ada masalah. Begitu pula ketika Katib Am pergi ke Israel, semua noproblem. Lah sekarang  datang ke sesama muslim memperkuat ukhuwah islamiyah kok diributkan. Ini namanya jungkir balik.

Masalahnya: Bukankah FPI itu memusuhi NU…?

Mulai kapan NU punya musuh? FPI itu sama dengan kita, Aswaja, madzhab Syafi’i. Kalau ada perbedaan kepentingan dengan elit NU, itu perbedaan pandangan pribadi, bukan dengan ajaran NU. Memang dalam hal tertentu, pasti ada perbedaan, tapi yang jelas banyak kesamaan. Bukankah kita diajarkan cari persamaan buang perbedaan.

Ditengarai FPI akan memecah belah NKRI. Jadi orang-orang NU menjadi gerah…?

Apa gak keliru? Coba camkan! Yang getol memecah belah NKRI itu yang punya gagasan ingin mengubah Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila. Lha ironisnya, Ketua Umum PBNU bersama satu atap, kok gak dimasalahkan. Mikir dong!

Bukankah menurut Permadi, HRS itu sangat Pancasilais . Yang berpotensi merusak NKRI ya mereka yang punya rencana dan sudah dijalankan mau mengubah eka sila. Bukan FPI kan!

Beda gaya dakwah?

Lha iya-lah! FPI itu konsen ke nahi munkar, dan nahi munkar itu bukan makar. Mestinya kita bersyukur ada yang mau nahi munkar. Sementara kita beraninya hanya amar ma’ruf. Jadi kalau dilihat dari segi itu, pembagian tugas. Pas. Kalau eksistensi FPI dianggap mengancam NKRI, jelas itu sudah jadi korban buzzer.

Begini gus  sampean kan ikut dalam lembaga KKNU, yang lalu dipersoalkan seakan-akan sampean memecah-belah NU?

Komite Khitthah itu gerakan moral, ini didirikan Gus Solah. Beliau berharap ini murni gerakan moral yang tidak boleh di lembagakan ketika itu. Tetapi perkembangan baru, ketika kita kumpul-kumpul sedikit, sudah dicurigai, dilaporkan dan selalu dipersalahkan secara hokum. Jadi situasi ini yang memaksa gerakan moral ini dilembagakan dan sifatnya sementara, sampai muktamar. Sebab kami melihat ada tanda tanda muktamar hitam di Jombang akan diulang lagi di Lampung.

Masak kita lupa, kala muktamar Jombang. Kalau orang NU sekarang keberatan dengan KKNU, berarti rela NU diolok-olokan seperti berita Jawa Pos waktu itu, Muktamar NU gaduh, muktamar Muhammadiyah teduh.

Jadi apa tujuan KKNU didirikan?

Ingin memberikan pencerahan bahwa gagasan Ashabul Qoror (merebut kekuasaan) yang diusung Ketua PBNU dan Rais Syuriah itu, salah. Sudah politik praktis, padahal NU itu politik keumatan dan kebangsaan.

Kenapa tidak disampaikan langsung saja kepada yang bersangkutan. Kenapa harus disampaikan di luar, tuh kan jadi rame gus?

Lho dulu, almarhum Gus Sholah sudah menemui ke Kiai Miftah, tapi malah bilang khittoh itu kondisional. Artinya tetap ngotot untuk menjalankan keinginan ashabul qoror, padahal itu melanggar Khitthah NU. Pilpres semua digiring ke politik, akhirnya gagal total, lalu marah marah ke Jokowi ..  ini kan bahasa sekarang Wis Angel…. Angel… he he..

Masalahnya Habib Rizieq mengusung revolusi akhlak tapi pidatonya tidak berakhlaq?
Memang akhlaq jadi problem serius. Kita mestinya muhasabah, lihat di Muktamar Jombang jauh lebih tidak berakhlak, bahkan sudah mengarah ke premanisme dan politik uang. NU sudah dikuasai partai politik, kiai kiai dibentak-bentak Banser. Ini jauh lagi dari akhlaq.

Bicara akhlak mestinya muhasabah dong, melihat dirinya sendiri jangan menunjuk orang lain. Belum lagi bicara system AHWA bodong, itu jauh tidak berakhlaq. Lihat sekelas Almaghfurlah Kiai Mukhith Muzadi, murid mBah Hasyim Asy’ari, tidak masuk AHWA gara gara bodong. Masak ini berakhlaq?

Termasuk rencana pengadangan Habib Rizieq?

Ialah. Itu semua jauh dari akhlaq. Apa salah Habib Rizieq? Terus terang, kalau benar ada pengadangan di Surabaya, kami siap bersama sang Habib Rizieq. Ini sudah kelewatan. Itu saja,  terima kasih. (*)

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry