Oleh Bey Arifin*

KEPUTUSAN Nahdlatul Ulama tentang lokasi Muktamar yang akan diputuskan pada 7 Juli mendatang adalah bagian penting dari perjalanan organisasi. Instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kepada takmir masjid dan mushalla untuk menggelar munajat serta riyadhoh menunjukkan satu hal mendasar: bahwa setiap langkah besar dalam NU tidak hanya ditentukan oleh kalkulasi organisasi, tetapi juga dilandasi ikhtiar spiritual.

Tradisi ini sesungguhnya mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar lahir dan ikhtiar batin. Dalam NU, keputusan besar bukan sekadar soal teknis, melainkan bagian dari amanah sejarah yang harus dijaga dengan kebijaksanaan. Karena itu, munajat dan riyadhoh bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk tawadhu’ bahwa manusia berikhtiar, sementara hasil akhir tetap dalam genggaman Allah.

Di tengah dinamika menjelang muktamar, seluruh warga Nahdliyin perlu menjaga suasana tetap sejuk. Perbedaan pandangan, dukungan, bahkan aspirasi adalah hal yang wajar dalam organisasi besar. Namun semuanya harus tetap berada dalam koridor ukhuwah, adab, dan kemaslahatan jam’iyah. Sebab kekuatan NU selama ini bukan terletak pada seragamnya pilihan, tetapi pada kemampuannya merawat perbedaan dalam persaudaraan.

Yang lebih penting dari lokasi muktamar sesungguhnya adalah substansi muktamar itu sendiri: bagaimana NU mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis dan kepemimpinan yang membawa maslahat bagi umat. Tempat hanyalah wadah, tetapi ruh muktamar adalah arah perjuangan. Karena itu, energi warga NU seharusnya lebih banyak diarahkan untuk memperkuat visi, memperdalam gagasan, dan menyiapkan agenda besar jam’iyah ke depan.

Munajat yang digerakkan PBNU patut dimaknai sebagai panggilan bersama agar seluruh elemen NU kembali merapatkan barisan, membersihkan niat, dan meletakkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Sebab muktamar bukan milik elite, melainkan milik seluruh warga Nahdliyin dan masa depan umat.

Oleh karena itu, NU akan tetap besar jika setiap prosesnya dijalani dengan kesejukan hati, kejernihan akal, dan ketulusan niat. Sebab dari tradisi doa dan riyadhoh itulah NU selama ini mampu melewati banyak ujian sejarah dengan tetap kokoh, teduh, dan bermartabat.

*Bey Arifin adalah Pengurus LKSPHK PRESNAS IKAPETE

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry