Gus Yahya (kiri) dan Gus Ipul. FT/IST
 Oleh M Sholeh Basyari*

THOK… thok thok, secara resmi rapat gabungan Syuriah Tanfidziah PBNU, Selasa (7/7/2026) malam, berhasil menetapkan lokasi muktamar NU ke-35. PBNU menunjuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur sebagai lokasi muktamar. Muktamar diselenggarakan mundur 3 Minggu dari jadwal semula 1-5 Agustus, menjadi 27-31 Agustus 2026.

Last Battle Kubu Yahya dan Ipul

Penentuan lokasi muktamar, yang gagal disepakati pada Munas alim ulama dan konbes NU Juni kemarin di Ploso, bisa disebut sebagai last batle antara kubu Yahya dengan Ipul. Kenapa?

Pertama, ishlah PBNU Kramat versus PBNU Sultan sekedar lips service, abang-abang lambe, pemanis bibir. Serangkaian fakta dan dinamika menguatkan adanya islah abang-abang lambe ini. Hal ini mulai dari tandatangan tunggal Rois Aam, yang dibalas dengan tandatangan tunggal ketum Yahya Tsaquf. Juga, perdebatan dan tarik ulur pembahasan pasal-pasal krusial di arena Munas dan Konbes, Ploso. Hingga tindakan mengabaikan maklumat Ploso yang ditandatangani 13 kyai paling dihormati di lingkup NU menyangkut komposisi keanggotaan ahlul Halli wal ‘aqdi (AHWA).

Kedua, baik kubu Yahya maupun Ipul, sama-sama menggunakan semacam manajemen iron hand dalam mengelola PBNU. Manajemen tangan besi ini, tidak saja menjadi tipikal mantan dua aktivis organisasi ekstra kampus terbesar di Indonesia, menyangkut penentuan lokasi muktamar, tetapi nyaris sepanjang lima tahun semenjak pengukuhan kepengurusan hasil muktamar ke-34 Lampung.

Tatakelola jam’iyah tidak sepi oleh turbulensi, gontok-gontokan serta kubu-kubuan. Turbulensi, gontok-gontokan serta kubu-kubuan tidak saja terjadi secara internal, bahkan setelah tidaj ada lagi musuh di internal, mereka mencari keluarga dekat untuk dimusihi. Konflik PBNU dengan partai kebangkitan Bangsa (PKB), jelang pemilu, pilpres dan muktamar PKB Bali, adalah side jobs dah side effect dari manajemen iron hand ini.

Sebelum muktamar PKB di Bali Agustus 2024, Saifullah Yusuf, Sekjen PBNU dan tentu saja dibackup oleh Yahya Tsaquf ketua umum, membentuk tim pengambilalihan PKB dari Muhaimin Iskandar (ketum PKB). Tipikal manajemen iron hand Yahya dan Ipul, tentu saja mendapat angin dan lampu hijau dari Kiai Miftahul Akhyar, Rois Aam.

Ketiga, miris dan menariknya, kepengurusan PBNU produk muktamar Lampung, menghasilkan tokoh-tokoh “jago kandang’, berantem sesama teman. Disebut jago kandang’, sebab setelah tidak ada figur yang dianggap lawan, mereka “baku pukul” sendiri.

Jelang pemilu dah pilpres 2024, figur dan tokoh yang dianggap sebagai kerikil dalam sepatu yang menghalangi misi politik trio: Kiai Miftahul Akhyar-Yahya Tsaquf-Saifulah Yusuf, dibabat habis. Marzuki Mustamar dan Abdussalam Shohib adalah korbannya.
Ngerinya hingga kini, pinjem diksinya Kiai Miftahul Akhyar dalam rapat gabungan Syuriah Tanfidziah semalam, “nyawa kita tingal 20 hari”, tidak ada isu maupun usulan agar Marzuki Mustamar dan Salam Shohib direhabiitasi.

Rehab menjadi penting tidak saja bagi karir kedua tokoh tersebut, tetapi juga sebagai investasi kepemimpinan NU. Lebih dari itu rehab bagi Marzuki dan Salam Shohib harus dibaca bahwa (lagi-lagi pinjem nomenklatur Kiai Miftahul Akhyar) dinamika apapun, sepanjang kepengurusan PBNU hasil muktamar Lampung, tidak keluar dari niat luhur dan tulus khidmah pada umat.

Keempat, kepengurusan kwartet Miftahul Akhyar, Said Asrori, Yahya Tsaquf dan Saifullah Yusuf, agendanya penuh nuansa kawan lawan, ana wal Akbar, we and the others, enyong dan liyan. Pemecatan Marzuki dan Salam Shohib, pembentukan tim penggulungan dan penggulingan Cak Imin jelang muktamar Bali hingga gontok-gontokan lokasi muktamar, yang semuanya konon melibatkan Kiai Miftakhul Akhtar, Said Asrori, Yahya Tsaquf dan Saifullah Yusuf, dibaca publik nahdliyin sepi senyap dari agenda dan program strategis jam’iyah.Publik membaca serangkaian “tindakan keji” organisatoris ini, penuh nuansa “kawan-lawan”.

Hingga ketika tidak ada lawan eksternal lagi, secara internal saling tikam sesama mereka. Tentu dinamika seperti ini karena terjadi secara estafet dan manifest, sudah pasti merugikan kaum nahdliyin. Bahkan konflik terus dipamerkan hingga detik-detik akhir masa Khidmah mereka berempat, sekali lagi mereka berempat.

Penutup

Ala kulli hal, late not to be last, munculnya petisi agar empat orang itu tidak lagi nyalon, macung atau konsolidasi pada muktamar Tambakberas akhir Agustus nanti, adakah ikhtiar para Muhibbin, nahdliyin dan santri-santri Mbah Hasyim untuk merawat dan menjaga jam’iyah ini.
Upaya rehabilitasi terhadap semua figur yang dipecat, menjadi niscaya jika para pemecat menyadari bahwa “tidak mungkin Mbah Hasyim memecat santri” dengan alasan non-syar’i.

Kalau dua hal ini (petisi dan rehabilitasi) belum cukup menyadarkan 4 tokoh hebat tersebut, ada baiknya mereka berempat menyimak dengan seksama himbauan sekaligus desakan Gus Irfan Yusuf (menteri haji) “idealnya semua yang terlibat dalam konflik, tidak masuk dalam kepengurusan mendatang”. Wallahu A’lam

penulis: Alumnus pesantren Cabang Ploso, Darunnaja, Jalen, Ngrukem, Mlarak, Ponorogo.
wakil sekjen PB IKA PMII. Dosen Insuri, Ponorogo
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry