“Penting penguatan wawasan global. Saat ini NU telah dikenal dunia sebagai representasi Islam moderat yang berakar kuat pada tradisi dan terbuka terhadap modernitas.”
Oleh Bey Arifin*

MENJELANG Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, perhatian warga NU tidak semestinya hanya tertuju pada siapa yang akan memimpin organisasi lima tahun ke depan. Yang jauh lebih penting adalah arah besar yang akan dibawa NU dalam menyiapkan generasi penerus perjuangannya.

Sebab, sesungguhnya kekuatan NU sepanjang sejarah tidak hanya terletak pada struktur organisasinya, melainkan pada kualitas ulama yang lahir dari rahim pesantren dan mengabdikan hidupnya untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Di tengah perubahan global yang semakin cepat, NU menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, krisis lingkungan, perubahan geopolitik dunia, menguatnya individualisme, hingga pergeseran otoritas keagamaan di media sosial menuntut hadirnya model kepemimpinan ulama yang lebih komprehensif.

Karena itu, Muktamar NU ke-35 perlu menjadi momentum strategis untuk memperkuat fondasi kaderisasi ulama yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.

Warisan terbesar Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bukan hanya berdirinya organisasi NU, melainkan lahirnya tradisi ulama yang memadukan ilmu, amal, adab, dan pengabdian. Model ulama seperti inilah yang perlu diperkuat kembali dalam agenda besar NU ke depan. Ulama yang kokoh spiritualitasnya, mendalam ilmunya, kuat komitmen kebangsaannya, bertanggung jawab terhadap jam’iyyah, dan memiliki wawasan global yang luas.

Spiritualitas harus tetap menjadi fondasi utama. Di tengah meningkatnya pragmatisme dan budaya instan, NU membutuhkan ulama yang mampu menjaga keikhlasan perjuangan serta menjadikan nilai-nilai ketakwaan sebagai dasar pengambilan keputusan. Organisasi sebesar apa pun akan kehilangan ruhnya apabila terlepas dari nilai-nilai spiritual yang diwariskan para masyayikh pendiri.

Di saat yang sama, penguatan kapasitas keilmuan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Muktamar NU ke-35 perlu mendorong lahirnya kebijakan strategis yang memperkuat tradisi intelektual pesantren, pengembangan riset keislaman, digitalisasi khazanah turats, serta peningkatan kualitas kader ulama yang mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern tanpa kehilangan identitas Aswaja An-Nahdliyah.

Komitmen kebangsaan juga harus menjadi salah satu pilar utama. Sejarah membuktikan bahwa ulama NU selalu hadir dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di tengah berbagai potensi polarisasi sosial dan politik, NU membutuhkan ulama yang mampu menjadi perekat bangsa, penguat moderasi beragama, dan penjaga harmoni dalam masyarakat yang majemuk.

Lebih dari itu, Muktamar NU ke-35 perlu memperkuat tanggung jawab organisasi di kalangan kader ulama. Kepemimpinan masa depan tidak cukup hanya bertumpu pada karisma personal. NU membutuhkan kader yang memahami tata kelola organisasi modern, mampu membangun jaringan kolaborasi, menggerakkan potensi umat, serta mengelola berbagai program strategis secara profesional dan berkelanjutan.

Yang tak kalah penting adalah penguatan wawasan global. Saat ini NU telah dikenal dunia sebagai representasi Islam moderat yang berakar kuat pada tradisi dan terbuka terhadap modernitas. Posisi strategis tersebut harus diikuti dengan lahirnya ulama-ulama yang memahami isu-isu global, mampu berdialog dengan berbagai peradaban, serta berkontribusi dalam penyelesaian persoalan kemanusiaan internasional tanpa meninggalkan karakter keislaman Nusantara.

Karena itu, salah satu agenda besar yang patut menjadi perhatian Muktamar NU ke-35 adalah memperkuat sistem kaderisasi ulama paripurna. Ulama yang tidak hanya unggul dalam spiritualitas dan keilmuan, tetapi juga memiliki komitmen kebangsaan, tanggung jawab organisasi, serta wawasan global yang memadai. Inilah investasi peradaban yang akan menentukan arah perjalanan NU pada masa mendatang.

Dengan demikian, keberhasilan Muktamar NU ke-35 tidak hanya diukur dari terpilihnya pemimpin baru atau tersusunnya program kerja organisasi. Keberhasilan sejati terletak pada kemampuannya menyiapkan generasi ulama yang sanggup menjaga warisan para muassis, menjawab tantangan zaman, dan mengantarkan Nahdlatul Ulama tetap menjadi kekuatan moral, intelektual, dan spiritual bagi Indonesia serta dunia.

Muktamar boleh berlangsung beberapa hari, tetapi keputusan yang lahir darinya akan menentukan kualitas ulama dan arah peradaban NU untuk puluhan tahun ke depan.

*Bey Arifin adalah pengurus IKAPETE JOMBANG.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry