Suasana pengamanan kotak pemilihan AHWA dari PCNU dan PWNU se-Indonesia. (FT/IST)
“Yakin, tidak semua orang mampu sesabar itu, menghadapi sekian banyak orang yang ngeyel, tidak bisa mau saling mengerti, ketika orang lain bicara dan berebut microphone.”
Dr H Ahmad Fahrur Rozi (Ket. foto suarakarya.id)
Oleh Dr H Ahmad Fahrur Rozi*

MENGIKUTI DUA agenda persidangan pleno penting di Muktamar NU hari Rabu dan Kamis (22-23/12) rasanya wajib mengapresiasi kecerdasan emosional (EQ) Prof Dr M Nuh DEA, saat ia memimpin sidang pleno tatib dan sidang tabulasi AHWA.

Kepiawaiannya memimpin sidang, menunjukkan, bahwa, beliau mempunyai kemampuan sempurna  untuk memahami, mengendalikan dan mengevaluasi emosi peserta sidang.

Kemampuan mengekspresikan dan mengendalikan emosi sangat penting dalam memimpin sidang. Demikian juga kemampuan memahami, menafsirkan, dan menanggapi emosi orang lain.

Bayangkan, sebuah pleno dengan ribuan orang dan berlangsung keras, penuh hujan interupsi dan teriakan keras yang membuat sidang harus di skors puluhan kali.

Penulis yakin tidak semua orang mampu sesabar itu, menghadapi sekian banyak orang yang ngeyel tidak bisa mau saling mengerti ketika orang lain bicara dan berebut microphone.

Para psikolog menyebut kemampuan ini sebagai kecerdasan emosional. Beberapa ahli bahkan menyatakan  kecerdasan itu lebih penting daripada IQ dalam keseluruhan kesuksesan dalam hidup.

Ketika poin pembahasan tentang keabsahan peserta dalam sidang tatib misalnya, sekelompok pria maju bareng di sisi kanan dan kiri panggung. Saling berdebat dan ada yang  saling menudingkan jari sambil mengatakan ketidaksetujuan pada pembahasan rapat pleno tersebut.

Pak Nuh tetap tenang dan berulang kali menskors sidang sambil tetap tersenyum untuk mengendalikan situasi.

Ketika hujan interupsi semakin gencar, beliau mendinginkan situasi dengan melakukan skors, lalu turun panggung melakukan lobi kepada tokoh dua kandidat yang bersaing di arena, situasi pun akhirnya terkendali dengan trik dia pending di satu bagian yang disengketakan.

Sungguh tidak mudah untuk bisa memahamkan banyak orang. Biasanya orang dengan EQ rendah akan suka berdebat tentang sesuatu yang remeh sementara menolak untuk mendengarkan apa yang orang lain katakan.

Bahkan jika Anda memberi mereka bukti, bahwa mereka salah, mereka tetap akan berargumen bahwa fakta Anda yang  salah.

Dalam sidang kadang ada orang yang merasa harus selalu menang, dengan segala cara dan merasa tidak mungkin untuk hanya “setuju untuk tidak setuju.” Ketidakmampuan untuk mengatasi situasi bermuatan emosi, ini dapat menjadikan sidang berakhir dengan baku hantam.

Penulis melihat kesabaran dan kecerdasan Pak Nuh patut diacungi jempol. Beliau dengan sangat ramah dan rendah hati dapat mengolah dan membelokkan emosi peserta sidang sehingga mampu menyelesaikan rapat pleno tatib yang sangat alot sampai malam hari.

Selanjutnya dalam sidang tabulasi AHWA di UNILA tadi siang (Kamis, 23/12) penulis memimpin delegasi para pimpinan wilayah NU untuk menjadi saksi perhitungan suara bagi calon anggota AHWA.

Ketika memasuki ruang rapat, sebelum dimulai penghitungan suara penulis dengan berbicara kepada petugas persidangan agar menyetujui klausul untuk mengesampingkan usulan sejumlah PCNU yang dianggap bermasalah keabsahannya sesuai keputusan rapat pleno tatib.

Petugas persidangan yang masih berusia muda, menolak dengan nada agak keras sehingga kita bersilang pendapat beberapa saat. Lalu penulis berinisiatif menelpon Panitia untuk memberikan penjelasan sesuai kesepakatan sidang pleno tatib sebelumnya.

Pihak panitia persidangan tetap bersikukuh menolak untuk memisahkan berkas usulan dari PCNU yang bermasalah. Hingga hampir dua jam tidak ada titik temu karena saling ngotot, padahal dalam rapat pleno sebelumnya sudah disepakati untuk di pending dan diselesaikan di sidang abitrase secara terpisah.

Bersyukur kemudian Pak Nuh datang dan memberikan keputusan tepat sesuai keputusan pleno sehingga penghitungan sapat segera dimulai, bahkan Pak Nuh memimpin sendiri proses awal pembukaan kotak suara dengan sangat santun dan melegakan semua pihak, sampai penulis berkelakar  “masak untuk buka kotak suara  saja perlu bantuan Profesor Nuh“.

Alhamdulillah, segera kemudian rapat tabulasi rekap suara AHWA dimulai dan berlangsung lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Menghasilkan data yang valid secara manual.

Usai penghitungan manual ada sedikit masalah karena panitia sidang telat menyiapkan semua form berita acara. Para saksi  harus sabar, lama sekali menunggu untuk bertanda tangan sampai Paspampres datang mengosongkan ruang sidang. Penulis keukeuh bertahan di dalam ruangan tidak mau keluar karena bermaksud  menjaga agar pengetikan  tabulasi sesuai data.

Sampai sidang dibuka kembali, data tetap belum tersedia secara fisik sehingga perlu skors lagi menunggu, karena dirasa terlalu lama, maka, Pak Nuh kemudian meminta ditampilkan segera di layar saja. Eh lagi-lagi panitia agak berbelit, tidak langsung kepada data akhir, penulis sudah berdiri siap meminta interupsi. Sekilas Pak Nuh menoleh dan langsung meminta data akhir yang sesuai dengan rekap yang penulis kirim WA ke beliau dan keluarlah data yang dimaksud sesuai rekap saksi dan semua peserta sidang menjadi puas dan merasa senang.

Maturnuwun Pak Nuh, semoga bapak panjang umur, senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus berkhidmat di NU.

Lampung, Jumat 24 Desember 2021.

*Dr H Ahmad Fahrur Rozi adalah Wakil Ketua PWNU Jatim, Pengasuh PP ANNUR 1 Bululawang Malang.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry