Oleh Fahmi Arif El Muniry. Anggota LSBPI MUI Pusat. Mantan Pengurus PWNU DKI Jakarta

MUKTAMAR NU ke-35 di Jombang memiliki wajah yang lebih luas daripada agenda inti persidangan. Di sekelilingnya tumbuh berbagai kegiatan kebudayaan dan keilmuan, dari pameran lukisan, foto, manuskrip, tahqiq kitab, ijazah sanad, hingga seminar internasional. Semuanya mengingatkan bahwa Nahdliyyin bukan hanya memiliki organisasi, tetapi juga memiliki peradaban yang hidup dan berakar.

Peradaban, kata yang terdengar besar, kadang justru bekerja melalui perkara sederhana. Sebuah manuskrip tua dibuka, sebuah foto lama dipajang, sebuah kitab dibaca, sebuah sanad disambungkan. Tidak ada tepuk tangan yang terlalu gaduh. Tetapi dari pekerjaan sunyi semacam itulah ingatan sebuah masyarakat diselamatkan dari penyakit lupa yang datang diam-diam setiap zaman.

Pameran Lukisan NU dan Kaligrafi, 20 sampai 31 Agustus di Al Wahabiyyah 1 dan Al Lathifiyyah 2 Bahrul Ulum, memperlihatkan bahwa sejarah NU dapat dibaca melalui bahasa seni. Lukisan dan kaligrafi bukan hiasan tambahan belaka. Keduanya menawarkan cara lain untuk mengenang tokoh, tradisi, nilai, dan pengalaman keagamaan Nahdliyyin secara manusiawi.

Pameran Foto KH Abdul Wahab Chasbullah dan Perjalanan Muktamar NU, 22 sampai 31 Agustus di kawasan makam beliau, memiliki daya gugah. Foto bekerja seperti jendela. Dibuka, kita melihat wajah yang pernah hadir, suasana yang pernah berlangsung, dan perjalanan organisasi yang dahulu dianggap biasa, tetapi kini menjadi sejarah berharga bagi generasi berikutnya.

KH Abdul Wahab Chasbullah bukan sekadar nama yang dicetak dalam buku sejarah. Pemikirannya memperlihatkan keberanian mempertemukan tradisi pesantren dengan gagasan pembaruan. Kajian tentang pemikirannya menunjukkan keterlibatan beliau dalam Taswirul Afkar, Nahdlatul Wathan, dan Nahdlatut Tujjar. Pameran tentang beliau karena itu semestinya menjadi ajakan membaca kembali kecerdasan sosial para muassis NU.

Merawat Ingatan, Menghidupkan Turots

Di Denanyar, Ihya Turots Wali Songo, Pameran dan Ngaji Manuskrip, 26 sampai 30 Agustus, membawa persoalan. Turots tidak seharusnya diperlakukan seperti barang antik yang cukup dipajang lalu dilupakan. Ia adalah percakapan yang tertunda. Manuskrip menyimpan pertanyaan, jawaban, kegelisahan, dan kecerdasan ulama Nusantara pada zamannya sendiri, dalam bahasa dan persoalan khas.

Di sinilah gagasan tentang menghidupkan turots menjadi penting. Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (Mizan, 1995) menunjukkan eratnya hubungan kitab, pesantren, dan tradisi keilmuan Islam Indonesia. Turots bukan benda mati. Ia hidup ketika dibaca, diteliti, diajarkan, dikritisi, dan dipertemukan dengan persoalan zaman oleh generasi untuk generasi berikutnya.

Pameran dan Klinik Turots di kawasan makam KH Abdul Hamid Chasbullah, 27 sampai 31 Agustus, membawa pekerjaan itu ke ranah praktis. Ada kebutuhan merawat, membaca, mendokumentasikan, dan mendigitalisasi manuskrip. Ini sangat penting karena naskah tua tidak hanya terancam oleh lupa, tetapi juga oleh usia, kelembapan, kerusakan fisik, dan keterbatasan pembaca.

Daurah Tahqiq Kitab Muassis NU, 28 sampai 29 Agustus di Hidayatul Quran Peterongan, memberi pelajaran yang lebih serius. Mengedit kitab lama bukan pekerjaan memoles huruf agar tampak cantik. Tahqiq adalah ikhtiar memastikan teks dapat dipertanggungjawabkan. Kesalahan satu kata kadang dapat mengubah maksud. Karena itu, ketelitian adalah bentuk penghormatan kepada ulama.

Kegiatan ini sekaligus menjawab kegelisahan lama pesantren. Banyak kitab berharga berada dalam keadaan sulit dibaca, belum terdokumentasi, atau hanya dikenal dalam lingkaran terbatas. Solusinya tidak cukup dengan seruan mencintai turots. Diperlukan pusat digitalisasi, pelatihan filologi, katalog nasional, beasiswa peneliti muda, dan penerbitan edisi kritis yang dapat diakses luas oleh masyarakat.

Pada 29 Agustus, Mubes Pegiat Turots di Al Muhajirin 3 Bahrul Ulum mempertemukan para pegiat dari berbagai daerah. Forum semacam ini penting sekali karena pekerjaan merawat warisan intelektual tidak boleh berjalan sendirian tanpa jejaring. Diperlukan jejaring, standar kerja, pembagian pengetahuan, serta keberanian membangun ekosistem turots yang berkelanjutan setelah perhelatan bersama.

Malam harinya, Ijazah Sanad di Masjid Bahrul Ulum Induk membawa kita kepada perkara yang khas pesantren. Sanad mengingatkan bahwa ilmu memiliki silsilah. Ada guru, murid, kitab, majelis, dan tanggung jawab. Ilmu bukan sekadar informasi yang berpindah dari layar ke layar. Ia juga memerlukan adab, keteladanan, dan hubungan antarmanusia, bukan sekadar kecepatan menerima informasi pula.

Dari Sanad dan Sejarah Menuju Imaji NU Masa Depan

Seminar Turots Internasional pada 30 Agustus di MAN 3 Tambakberas membuka jendela lebih lebar. Turots Nusantara tidak seharusnya hanya menjadi kebanggaan domestik. Ia perlu masuk percakapan dunia melalui riset, terjemahan, katalog digital, konferensi, dan kerja sama akademik. Warisan lokal bernilai global ketika dibaca dengan metodologi akademik secara lebih luas bersama.

Bedah buku Sejarah Masyayikh dan NU dalam Perang Sabil karya Erwien Kusuma menambah dimensi. Sejarah tidak cukup dipakai berkata dahulu para kiai hebat. Sejarah mestinya mengajukan pertanyaan yang penting. Nilai apa yang mereka perjuangkan? Bagaimana mereka mengambil keputusan? Dan apa yang masih sanggup menjawab kebutuhan masyarakat hari ini, secara jernih?

Pertanyaan tentang hari depan muncul melalui bedah buku Imaji NU Masa Depan, Konvergensi Kemitraan dan Kekritisan. Judul itu menarik karena NU yang membutuhkan dua kemampuan sekaligus. Kemitraan tanpa kekritisan mudah berubah menjadi ketergantungan. Kekritisan tanpa kemitraan dapat menjadi kegaduhan. Masa depan membutuhkan keduanya, secara seimbang, dalam keseimbangan yang matang, kritis, dan tetap beradab bersama.

Dari seluruh rangkaian itu terlihat urutan. Lukisan dan foto merawat ingatan. Manuskrip merawat warisan. Tahqiq menjaga ketepatan teks. Klinik menjaga keberlanjutan. Mubes membangun jejaring bersama. Sanad menjaga kesinambungan. Seminar membuka cakrawala baru. Bedah buku menghubungkan sejarah dengan masa depan. Ini sebuah kurikulum peradaban yang utuh, saling terhubung dengan masa depan.

Karena itu, kegiatan non-inti Muktamar jangan dianggap sebagai keramaian tambahan. Justru di situlah Muktamar memperoleh kedalaman kulturalnya. Agenda utama menentukan keputusan organisasi, sementara agenda pendamping memperlihatkan sumber daya batin yang membuat organisasi memiliki jiwa. NU membutuhkan struktur yang kuat dan tata kelola yang baik, tetapi juga membutuhkan ingatan, ilmu, seni, sanad, dan imajinasi masa depan.

Tambakberas dengan demikian bukan hanya tempat orang berkumpul untuk menentukan pemimpin. Ia dapat menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana Nahdliyyin memperlakukan warisan dan masa depan sekaligus. Jangan sampai setelah lampu Muktamar padam, manuskrip kembali masuk lemari, foto kembali tersimpan, dan diskusi kembali sepi. Warisan harus terus bekerja setelah perhelatan selesai nanti.

Itulah sebabnya rangkaian kegiatan ini layak dibaca sebagai Festival Peradaban Nahdliyyin. Bukan festival dalam pengertian pesta semata, melainkan perayaan atas ingatan, ilmu, seni, sanad, manuskrip, sejarah, dan gagasan masa depan. Muktamar menjadi lebih bernilai ketika di sekelilingnya tumbuh ruang-ruang yang membuat tradisi tidak hanya dikenang, tetapi juga bekerja.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan festival peradaban bukan banyaknya orang yang datang, melainkan berapa banyak gagasan yang pulang bersama mereka. Berapa manuskrip yang kemudian dirawat. Berapa kitab yang ditahqiq. Berapa sanad yang diteruskan. Berapa anak muda yang tertarik menjadi peneliti. Dan berapa banyak gagasan masa depan yang benar-benar dikerjakan setelah Muktamar usai. Wallahul musta’an.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry