
CATATAN PINGGIR
DR ROMADLON SUKARDI*
MENJELANG Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, hati saya justru dipenuhi kegelisahan. Bukan karena siapa yang akan menjadi Rais Aam atau Ketua Umum PBNU, melainkan karena yang paling awal diperdebatkan justru adalah soal tempat pelaksanaan Muktamar. Sebelum Muktamar dimulai, sebelum forum musyawarah dibuka, sebelum doa-doa dipanjatkan, kita sudah menyaksikan silang pendapat yang begitu keras. Padahal, Muktamar adalah perhelatan ruhani sekaligus organisasi, bukan sekadar agenda administratif.
Sesungguhnya semua usulan memiliki argumentasi yang patut dihargai. Ada yang berpandangan bahwa Muktamar seyogianya dilaksanakan di pondok pesantren karena pesantren adalah rahim lahirnya NU, tempat para ulama menempa ilmu, akhlak, dan keikhlasan. Ada pula yang mengusulkan di luar Jawa sebagai bentuk keadilan, pemerataan, serta penguatan jam’iyyah di seluruh Nusantara. Ada pula yang mempertimbangkan aspek infrastruktur, keamanan, aksesibilitas, dan kapasitas pelayanan kepada puluhan ribu peserta. Seluruh pertimbangan tersebut sama-sama memiliki dasar yang rasional.
Namun, menurut hemat saya, kondisi internal NU hari ini sedang membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar pemerataan wilayah. Yang sedang dibutuhkan adalah pemulihan suasana batin. Yang harus disembuhkan adalah hati. Yang harus dipulihkan adalah persaudaraan.
Karena itu, untuk Muktamar kali ini, pertimbangan teknis, politis, bahkan pemerataan geografis semestinya dapat diletakkan sementara di belakang. Prioritas utamanya adalah bagaimana menghadirkan Muktamar yang paling mampu menciptakan suasana teduh, damai, khusyuk, dan penuh keberkahan. Dalam keadaan organisasi yang sedang menghadapi banyak dinamika, pilihan yang paling bijaksana adalah kembali ke rumah besar NU, yakni pondok pesantren.
Pesantren bukan sekadar lokasi. Pesantren adalah ruh. Di sanalah para muassis membangun NU dengan air mata, tirakat, puasa, qiyamul lail, khatmil Al-Qur’an, dzikir, dan munajat. NU tidak dilahirkan dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari sajadah para kiai yang basah oleh air mata pada sepertiga malam.
Saya membayangkan, alangkah indahnya apabila Muktamar ke-35 diawali dengan gerakan spiritual yang melibatkan seluruh warga Nahdliyin di Indonesia. Selama 17 hari, 27 hari, atau bahkan satu bulan sebelum Muktamar, seluruh pesantren, masjid, musala, majelis taklim, badan otonom, dan keluarga besar NU melaksanakan *khatmil Al-Qur’an* secara berjamaah hingga ribuan kali, memperbanyak istighfar , tahlil, shalawat, dzikir hingga jutaan kali. Selain itu, shalat taubat, shalat tasbih, shalat hajat, shalat syukur, dan doa bersama untuk memohon khusus untuk NU sesuai bimbingan para masyayikh. Biarlah keputusan Muktamar lahir dari hati-hati yang telah dibersihkan, bukan dari hati yang dipenuhi prasangka dan ambisi.
Kita semua tentu masih mengingat dawuh Hadratussyaikh pada Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin. Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak larut dalam pertikaian mengenai persoalan-persoalan cabang, sementara persaudaraan justru hancur. Beliau menyerukan agar para ulama memperkuat ukhuwah, menjaga persatuan, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Pesan itu terasa sangat relevan bagi NU hari ini.
Begitu pula wejangan yang selalu menggetarkan hati: “Jangan sok gede rumangsa iso ndandani NU. Justru kita yang harus didandani oleh NU.”
Kalimat sederhana ini sesungguhnya merupakan filsafat kepemimpinan NU yang sangat dalam. Menjadi pengurus bukan berarti merasa paling benar, paling hebat, atau paling berhak mengatur semuanya. Justru menjadi pengurus berarti bersedia ditempa, direndahkan ego, dibersihkan niat, dan dididik agar semakin ikhlas mengabdi kepada agama, para ulama, dan umat.
Menjaga Ruh Muktamar: Kembali kepada Jalan Para Muassis
Di tengah suasana menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, saya teringat pesan-pesan para muassis dan masyayikh NU. Mereka mewariskan kepada kita bukan hanya organisasi, tetapi juga adab, akhlak, dan ruh perjuangan. NU tidak dibangun dengan uang, intrik, ataupun perebutan jabatan, melainkan dengan air mata, doa, tirakat, dan pengorbanan para ulama.
Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Mau’idhah Muktamar NU XI di Banjarmasin tahun 1936 telah memberikan peringatan yang hingga hari ini tetap relevan. Beliau mengingatkan agar para ulama tidak menghabiskan tenaga untuk bertengkar dalam masalah-masalah cabang (furu’iyyah), sementara tantangan besar umat justru diabaikan. Beliau juga mengingatkan agar perbedaan pendapat jangan sampai menjadi sebab perpecahan, permusuhan, dan hilangnya kewibawaan ulama di tengah masyarakat. Pesan beliau seolah sedang berbicara kepada warga NU hari ini: persatuan lebih utama daripada kemenangan kelompok.
Hadratussyaikh juga mengutip firman Allah:
“Janganlah kamu berselisih, karena nanti kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal: 46).
Ayat inilah yang semestinya menjadi kompas moral seluruh peserta Muktamar.
Begitu pula wejangan KH. Abdul Muchith Muzadi, seorang ulama sepuh NU yang dikenal sangat istiqamah menjaga Khittah 1926. Beliau berulang kali mengingatkan: “Jangan sok gede rumongso iso ndandani NU. Justru kitalah yang harus didandani oleh NU.”
Kalimat sederhana ini mengandung makna yang sangat dalam. Pengurus NU jangan merasa dirinya penyelamat NU. Sebaliknya, NU-lah yang harus menjadi madrasah akhlak yang memperbaiki pribadi para pengurusnya. Jabatan di NU bukan tanda kemuliaan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Dalam kesempatan lain, Mbah Kiai Muchith Muzadi juga sering mengingatkan substansi khidmah: “Jangan bertanya, apa yang kita dapat dari NU. Bertanyalah, apa yang sudah kita berikan untuk NU.”
Inilah filosofi pengabdian yang diwariskan para masyayikh: memberi tanpa menghitung, mengabdi tanpa berharap imbalan.
Sementara itu, KH. MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU, sepanjang hidupnya memberikan keteladanan yang luar biasa tentang kesederhanaan. Beliau tidak pernah membangun wibawa melalui kemewahan, tetapi melalui ilmu, akhlak, dan ketawadhuan. Saya sendiri menjadi saksi ketika Muktamar NU ke-30 di Lirboyo Kediri. Saat sebagian tamu penting menginap di hotel, Mbah Kiai Sahal justru memilih tinggal di rumah yang sangat sederhana di kawasan Mrican bersama sopir dan pengawalnya. Seolah beliau sedang mengajarkan bahwa kehormatan seorang ulama tidak pernah ditentukan oleh fasilitas, melainkan oleh keikhlasan dan istiqamah dalam mengabdi.
Pandangan beliau yang sangat terkenal juga patut menjadi renungan: “Fiqh harus menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan bagi umat.” Artinya, setiap keputusan organisasi harus selalu berpijak pada maslahat yang lebih besar, bukan pada kepentingan pribadi ataupun kelompok.
Demikian pula pesan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang berulang kali mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Salah satu ungkapan beliau yang sangat dikenal ialah: “NU itu didirikan untuk mempersatukan, bukan mempertentangkan.”
Dan nasihat Gus Mus yang lain sangat relevan menjelang Muktamar: “Jangan merasa paling NU, jangan merasa paling benar.”
Karena kesombongan adalah awal dari rusaknya ukhuwah, sedangkan tawadhu’ adalah pintu lahirnya keberkahan.
Maka, jika hari ini kita menyaksikan perbedaan pilihan, perbedaan pandangan, bahkan perbedaan strategi menuju Muktamar, marilah semuanya dikembalikan kepada adab para muassis. Berbeda adalah keniscayaan, tetapi menjaga persaudaraan adalah kewajiban. Muktamar bukanlah arena untuk saling menjatuhkan, melainkan majelis musyawarah untuk mencari ridha Allah SWT demi kemaslahatan jam’iyyah.
Semoga Muktamar ke-35 NU melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan organisatoris, tetapi juga kuat secara spiritual, rendah hati dalam kepemimpinan, bersih dari kepentingan pribadi, serta mampu mengembalikan ruh khidmah, ikhlas, ukhuwah, dan Khittah 1926 sebagaimana diwariskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan para masyayikh Nahdlatul Ulama.
Muktamar bukan arena untuk saling mengalahkan. Muktamar adalah momentum untuk saling memuliakan. Bukan tempat mencari kemenangan pribadi, tetapi mencari ridha Allah SWT.
Kalau sejak menentukan tempat saja kita sudah saling mencurigai, saling menyerang, bahkan saling melukai, bagaimana mungkin masyarakat akan melihat NU sebagai rumah besar yang meneduhkan? Bagaimana para santri akan belajar tentang akhlak apabila para orang tuanya justru mempertontonkan pertengkaran?
NU terlalu besar untuk dipertaruhkan oleh kepentingan sesaat. NU diwariskan oleh para muassis dengan darah, air mata, dan pengorbanan. Jangan sampai kita hanya mewariskan luka kepada generasi berikutnya.
Saya percaya, mayoritas warga Nahdliyin merindukan Muktamar yang damai, penuh adab, penuh dzikir, penuh doa, penuh senyum, penuh pelukan, dan penuh saling memaafkan. Sebab kemenangan terbesar dalam Muktamar bukanlah kemenangan seseorang menjadi pemimpin, melainkan kemenangan ketika seluruh keluarga besar NU pulang dengan hati yang lebih bersih daripada ketika mereka datang.
Semoga Allah SWT menurunkan sakinah kepada seluruh peserta Muktamar, melembutkan hati para pemimpin NU, menjauhkan jam’iyyah ini dari penyakit hubbud dunya dan perpecahan, serta mengembalikan NU menjadi rumah besar yang teduh, tempat para ulama mempersatukan umat, sebagaimana cita-cita agung Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dan para muassis Nahdlatul Ulama. Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.(*)





































