Suasana Mujahadah Kubro di Malang.

Pelaksanaan Mujahadah Kubro PWNU Jawa Timur di Malang yang dihadiri oleh Presiden RI, Prabowo Subianto, dibandingkan acara lainnya dalam rangka 1 Abad NU, mengingatkan kisah spiritual Nabi Musa AS dalam menghadapi kezaliman, penindasan, dan ketakutan kolektif umatnya.

Dalam kisahnya, Nabi Musa AS diutus Allah mengumpulkan semua umatnya untuk berdoa  saat paceklik. Namun, setelah dilakukan, hujan tidak kunjung turun, dan pada akhirnya kekasih Allah “protes”.

“Ya Allah, kami telah melakukan apa yang Engkau perintahkan. Namun mengapa hujan belum juga turun?” keluh Nabi Musa AS dalam munajatnya.

Nabi Musa tak sanggup lagi menyaksikan penderitaan kaumnya. Paceklik panjang telah melumpuhkan kehidupan. Tumbuhan layu, ternak kurus tak berdaya, dan bayi-bayi lahir dalam kondisi kekurangan gizi—tubuh mereka ringkih, wajah-wajah kecil menanggung beban zaman.

Allah SWT pun menjawab munajat itu. Bukan tanpa sebab doa kolektif tersebut tertahan.

“Di antara kaummu ada satu orang yang menjadi provokator. Ia belum bertobat dan belum memohon ampun kepada-Ku,” firman Allah SWT.

Mendengar itu, Nabi Musa meminta seluruh kaum yang berkumpul di ladang agar bersungguh-sungguh memohon ampunan. Selama masih ada satu hati yang belum bertobat, doa bersama tak akan terangkat ke langit.

Kaum Nabi Musa pun mengangguk penuh kesadaran termasuk sang provokator. Dalam sunyi batinnya, ia bersimpuh.

“Ya Allah, ampunilah aku. Jangan Engkau buka aibku di hadapan orang banyak. Aku telah membuat kekacauan, memprovokasi sesama, tanpa kusadari dampaknya. Ampuni aku, ya Allah,” pintanya dengan linangan air mata.

Tak lama setelah itu, rintik hujan mulai jatuh. Tanah yang retak mulai basah, udara yang kering berubah sejuk. Lalu hujan turun semakin deras. Kaum Nabi Musa bersuka cita. Ada yang menangis haru, ada yang menari di bawah guyuran hujan sambil melantunkan asma Allah—bahagia yang lahir dari pengampunan dan ketundukan.

Dalam sejarah kenabian, Nabi Musa hadir di tengah bangsa yang lama hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan Fir’aun. Bani Israil kehilangan keberanian, harapan, bahkan kepercayaan diri. Maka yang pertama kali dibangun Nabi Musa bukanlah kekuatan fisik atau strategi politik, melainkan keyakinan kepada Allah melalui doa, munajat, dan kesabaran yang panjang.

Mungkin, para pengurus PWNU Jatim melihat di tengah kegelisahan zaman, ketimpangan sosial, krisis moral, dan tekanan ekonomi yang dirasakan umat hari ini, mujahadah menjadi jalan sunyi untuk menguatkan batin bersama. Doa yang dilantunkan secara kolektif adalah ikhtiar ruhani agar umat tidak tercerabut dari sumber kekuatannya tawakal dan kesadaran ilahiah.

Sebagaimana Nabi Musa mengajarkan bahwa pertolongan Allah datang setelah kesungguhan iman, mujahadah ini mengingatkan bahwa perubahan besar selalu diawali dari ketundukan hati. Laut Merah tidak terbelah oleh kalkulasi kekuasaan, melainkan oleh keyakinan yang tak goyah.

Mujahadah Kubro yang dilakukan PWNU Jatim di Malang, menjadi simbol bahwa NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah tetap menempatkan kekuatan spiritual tersendiri sebagai fondasi gerakan sosial. Dari doa-doa inilah diharapkan lahir keteguhan untuk menghadapi “Fir’aun-Fir’aun” zaman modern dalam wujud ketidakadilan, keserakahan, dan krisis kemanusiaan.

Semoga Mujahadah Kubro bukan bernostalgia masa lalu seperti kisah Nabi Adam. Namun, sebuah ikhtiar dengan kesadaran menjemput masa depan dengan cara para nabi berjuang, bersabar, dan bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT.

Penulis: Zaenul Abidin, S.H., Kabiro duta.co Jombang

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry