Oleh: Suparto Wijoyo*

RAMADHAN 1442 ini sangat mengukir kalbu penuh rindu. Mudik menjadi kata yang hambar nan hampa karena sekadar disarakan melalui media digital. Padahal kata Cak Mispon, konco lawasku, soal mudik adalah tentang lembar yang saling bersentuhan. Ditepuk-tepuk pundak atau diusap-usap kepala oleh Mboke adalah sesuatu banget. Maka mesin digital tidak bisa mewakili rasa yang membuncah itu. Tapi semua sadar bahwa pandemi adalah derita dunia saat ini. Menjaga kesehatan wajib hukumnya sementara silaturahmi dalam ukuran sekarang ini sekadar sunahnya. Wajib didahulukan daripada yang sunah-sunah.

Untuk itulah lebaran tahun 1442 Hijriyah nanti sejatinya syawalan Idul Fitri yang paling fenomenal meski tidak genial. Tanpa anjang sana dan cukup silaturahmi digital. Nyaris suasana batin rakyat tidak tercukupi tetapi biarlah demi kebijakan negara yang harus mengatasi Covid-19. Tetapi serentak kita dibuat gelisah, khususnya muslim yang ingat tentang sejarah bagaimana soal Hadratusyekh KH Hasyim As’ari yang tiada dalam agenda buku Kamus Sejarah Indonesia.  Buku ini muncul untuk menterjemahkan “rute perjalanan bangsa” sesuai yang telah berlalu. Tapi kelihatannya, dikononkan bahwa semua hendak menjadikan sejarah sebagai lahan seperti milik golongannya dan keluarga besar yang diperingati sebagai miliknya. Seolah-olah tokoh-tokoh dalam bernegara ini hanya pelengkap penderitaan bangsa saja selain yang diperbuat para kiai. Untunglah, pada akhirnya  petinggi kementerian meminta maaf sehingga masalah ini dianggap tuntas meski belum saatnya lebaran.

Suasana batin rakyat yang sudah teraduk oleh urusan pandemi ini kenapa harus digelisahkan lagi ke arah urusan ideologis ataupun historis yang sudah rampung bahwa pendiri NU ini tokoh penting. Kok sukanya itu selalu membuat gaduh dan gelisah, justru pada saat ramadhan. Ingatlah bagaimana pada saat tahun-tahun ini. Di samping soal pandemi, ada pula pesawat jatuh, kapal selam yang tenggelam, tumpahan minyak pertamina, dan lain sebagainya.  Bahkan dulu ada yang risih soal azan dengan pengeras suara tinggi-tinggi. Termasuk suara seruan sahur … sahur saja ada yang usil. Padahal di kita semua ini, mendengar seruan puasa, azan atau panggilan peribadatan  itu sejatinya tanda menaruh jeda untuk beberapa jenak waktu agar manusia berkesempatan beraudiensi dengan Rabbnya.

Sepanjang Ramadhan 1442 Hijriyah saat ini saya sangat menikmati gerakan umat, ibu-ibu dan anak-anak yang  melangkah menuju Mushollah, Langgar, Surau dan Masjid terdekat. Beberapa kawan lama memberikan sebersit kenangan betapa saat-saat  pergi menuju Rumah Tuhan yang mewarnai sisik-melik Ramadhan amatlah membekas. Berpuluh tahun peristiwa berjalan beriring guna meramaikan Tarawih ternyata menyiratkan nilai dan menggelarkan tikar hikmah paseduluran yang mengesankan. Anak-anak melanjutkan tradisi bertarawih yang terkadang guyon-gegojekan yang menyelingi. Suara anak-anak itu  manabuh lubuk hati kekhusukan shalat tetapi tidaklah  membatalkannya. Karena suara anak-anak itu bukanlah “penistaan” melainkan buncahan keceriaan yang dipanggul dalam kenangan sepanjang hayatnya.

Untuk itulah kehadiran anak-anak yang meramaikan tempat-tempat terawih biarlah demi membangun “sepasukan” GM (Generasi Muslim) yang kelak tetap memakmurkan masjid-masjidnya. Gang-gang sempit ternyata terasa longgar dalam jejak orang sembahyang, termasuk di kampung-kampung nun jauh dari metropolitan. Gemerlap mukena yang memanjang memutih dengan kelebat ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak tangan pengenanya, terpotret seperti labirin yang mengabarkan “jalan surga”. Mukena itu  seperti sayap-sayap merpati putih yang amat tertata. Iringan itu mengingatkan pada “ajaran sai” di kala Siti Hajar menempuh takdirnya “mendaki dan menuruni” Bukit Shofa dan Marwah. Betapa kelebat mukena itu menyuarakan damainya batin dan energiknya raga penyusur “ihdinashshiratal mustaqim”.

Belalak mata tidak bisa berdusta. Dalam persaksian di jalan-jalan medsos, di ruas-ruas pinggiran maupun jantung perkotaannya, dalam pekan-pekan ini terus berkelebat spanduk-spanduk yang “menari ditiup angin” dalam selongsong “festival kain” yang belum kupahami: sebagai  kebencian ataukah kewaspadaan. Saya  mengerti betapa luka menghunjam dalam,  menyayat perih. Ucap duka dan doa bersama lintas iman, bahkan  saya gelar  dengan “telungkup doa keselamatan” sambil mengkristalkan tekad menjaga daerah terbebas dari pandemi. Atas gelegak pandemi itulah semua orang beradab dituntun tetap menjaga nalar sehat yang terawat tidak mudik dengan vulgar. Kenapa, karena ada yang telah berjalan dengan senyap. Mudiknya diberangkatkan seperti kafila. Anak instrinya disuruh mudik dengan  metode khsus”. Alhamdulillah berhasil. Itulah mudiknya keluarga “kolega”.

Spanduk-spanduk “ojok mudik” iu  mengaduk ruhani pembuatnya maupun pembacanya. Keteradukan yang bisa saja menjadi sangat “kelam” hingga tidak mampu lagi membedakannya dengan  ajaran agama. Telunjuk ungkapan yang beredar dan dapat dibaca siapa saja yang melewatinya, amatlah jelas, meski terkadang mudah dielak. Ramainya spanduk-spanduk itu menunjukkan tingginya tingkat solidaritas warga  dan wujud  kesigapan. Pun pesitiwa ini “menimbulkan produk kebijakan lintas negara”.  Niat baik ini  pastilah “tanda simpati” yang tidak elok untuk ditepikan. Terima kasihlah atas jasa mulia dari siapapun  dengan tetap menjaga marwah dan daulat kampung halamanmu. Paling tidak dengan cara digital dan kiriman belanja, ojok lali.

Ya … di sebuah kota yang orang-orangnya konon amat terdidik itu ternyata ada yang tega menuliskan sebuah kata yang ujungnya mungkin tidak disadarinya.  Marilah semua komponen di bulan Ramadhan 1442 Hiriyah ini meneduhkan hati umatnya dan bertindak bijak tanpa menjejak ajaran agama dengan pandemi yang berkepanjangan. Emosi jangan dimobilisasi pada “pasar gelap” perkotaan. Kini mari disongsong   lebaran 1442 H dengan mudik virtual, meski ini tidak sempurna.

*Penulis adalah Wakil Direktur Bidang Penelitian, Pengmas, Digitalisasi dan Internasionalisasi Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry