MUALAF: Fransiskus Hermawan Priyono bersama istri dan dua anaknya. Dia tak mengganti namanya walau sudah mualaf yang prosesnya tidakmudah dan butuh waktu yang lama. (DUTA.CO/DOK)

SURABAYA | duta.co — Pindah keyakinan menjadi hal besar bagi manusia. Banyak faktor yang bisa membalikkan hati untuk mencapai keimanan. Salah satunya seperti yang dialami penyiar radio Trijaya FM, Fransiskus Hermawan Priyono. Jalan panjang dan pertarungan hati ia lalui, sebelum memutuskan untuk melantunkan dua kalimat sahadat dari lisan dan hatinya meski anak istrinya seorang muslim.

Certita ini berawal saat tahun 2002, Hermawan atau yang akrab di sapa Wawan menikah dengan wanita muslim sedangkan ia merupakan ummat Katolik. Wawan menikah di KUA yang mewajibkannya mengucap dua kalimat sahadat karena akad nikah secara Islam.

Namun, setelah akad nikah, ia tetap beribadah sesuai keyakinanya yakni Katolik. Ini terjadi hingga kedua anaknya lahir tahun 2003 dan anak kedua di tahun 2006.

”Sampai tahun 2008 saya menjalani (ibadah) masing-masing. Istri poso yo dewe, aku tiap Minggu ke gereja ya sendirian, selama itu ndak ada konflik, tapi rasanya kok hampa gitu ya, semuanya sendirian. Ketemu teman ya berusaha menghindar, karena akan ada pertanyaan dan lain sebagainya,” kenangnya.

Hal ini juga dirasakannya saat perayaan Natal. Saat ia pulang kampung untuk bersama keluarganya yang semuanya penganut Katolik, Ia berangkat sendiri tanpa anak dan istri. Pun saat Idul Fitri, saat anak istrinya salat id Dia memilih di rumah sendirian.“Rasane yak opo gitu dan proses itu terus berjalan,”katanya.

Suatu saat, kedua anak Wawan yang sedang berbuka puasa dengan ibunya, meski belum menjalankan puasa secara penuh. Saat akan berbuka puasa, sang anak memimpin doa puasa yang dilantunkan dengan suara keras. Inilah titik yang menggetarkan hati Fransiskus Hermawan Priyono.

“Saat itu hati saya rasanya menangis rasanya berat banget merasakannya,” cerita wawan dengan suara berat.

Maklum, kedua anaknya sejak TK masuk sekolah Islam. Karena, ia telah bersepakat dengan istri, kalau nanti anaknya akan ikut ibunya untuk urusan agama.

Pergolakan hati ini akhirnya Wawan sampaikan ke orang tua dan keluarganya yang semuanya Katolik. Alhasil semuanya menyerahkan keputusan besar itu pada Wawan.

“Saat itu ibuku memberikan kepercayaan penuh, wes monggo terserah, kamu kan sudah berkeluarga sudah punya anak istri”.  Inilah yang membuat Dia merasa dikuatkan orang tua.

Meski begitu, tidak mudah baginya untuk segera pindah agama. Mengingat doktrinasi agamnya yang menancap kuat di hatinya. Wawan takut dianggap penghianat oleh agama yang dianut sebelumnya.

Setelah proses perenungan yang mendalam, tahun 2011 dirinya mantab untuk memeluk agama Islam secara kaffah. Berbekal informasi dari seorang teman, dirinya mendatangi Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.

Prof. Ahmad Zahro MA, adalah tokoh yang menuntunnya berikrar setia mengakui Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai nabinya. Proses ini berjalan singkat dan membuat hatinya senang. Ada keanehan saat proses ini. Menurutnya, saat menjelang ikrar tiba-tiba banyak jamaah yang hadir.

“Saya ndak tau dari mana, karena usai Solat Dzuhur masjid sudah sepi. Tapi pas mau ikrar para jamaah datang, entah itu jamaah dari Prof zahro yang mau kajian atau jamaah lain. tapi usah saya mengucap sahadat mereka memeluk dan menciumi saya memberikan selamat,”imbuhnya.

Tapi tetap ada satu yang membuatnya risau. Yakni soal sholat! Karena ia tidak tahu tata cara dan doa sholat. Sholat jamaah, menurutnya menjadi solusi. Karena Ia cukup mengikuti gerakan dan bacaan imam.

Sudah Mualaf Istri Tak Tahu

Wawan terus berusaha keras untuk menyempurnakan gerakan dan bacaan sholatnya. Karena ini akan menjadi kado dan kejutan untuk istrinya. Karena selama proses dirinya mualaf, istrinya sama sekali tidak diberitahu.

“Saya pingin istri tahu (saat) saya bisa sholat, saya bisa ngimami dia dan anak-anak, saya pingin beri kejutan ke Dia. Saya berusaha keras untuk bisa sholat.  Jadi di rumah saya sholatnya sembunyi-sembunyi,” ujarnya sambil ketawa.

Momen ini akhirnya terlaksana saat subuh. Suatu ketika Ia mengajak istrinya jamaah sholat Subuh. “Ayo sholat tak imami” ajak Wawan. Istrinya menjawab, “Wong kok senengane ndagel (Orang kok sukanya bercanda)”. Setelah berhasil meyakinkan istrinya, menjadi imam sholat subuh pun terlaksana. Hasilnya istrinya menangis bahagia melihat perubahan suaminya. Kemudian istrinya memberikan hadiah sajadah dan baju koko.

Berbagai cara terus Wawan lakukan untuk memperdalam ilmu agama Islam. Ia terus belajar sholat dari lingkungannya bekerja. Wawan yang pernah menjadi tim media eksternal dari Mensos Khofifah Indar Parawansa mengaku terbantu dengan lingkungannya. Ia sering minta jamaah dengan mbah Daim sopir pribadi Khofifah.

Istiqamah Puasa Senin-Kamis

Tahun ini akan menjadi ramadhan yang ke 10 bagi Wawan, banyak hal telah ia lalui. Selain belajar sholat, ia juga belajar puasa. Mulai puasa wajib bulan ramadhan. Wawan juga sudah terbiasa puasa sunnah Senin Kamis hingga sekarang

“Belajarnya berat, wong saya kalau telat makan saja sudah pusing apalagi puasa. Tapi sekarang Alhamdulillah semuanya bisa dilaksanakan,” tuturnya bersemangat.

Hal yang paling membuatnya merasakan nikmat ber Islam adalah intensitas ibadah yang membuatnya merasa bisa setiap saat dekat dengan yang maha kuasa. Jika sebelumnya Ia berdoa 0 beribadah seminggu sekali. Kini dalam sehari minimal Ia bisa bermunajat pada Allah.

Ia juga berusaha istiqomah melaksanakan sholat tahajud dan sholat sunnah lainnya. “Dengan tahajud jika saya ada masalah larinya ke tahajud atau doa ke masjid untuk mendapat kekhusyukan dalam berdoa. Nah ini yang menguatkanku untuk menjalani kehidupan sebagai seorang muslim sampai sekarang,” ungkapnya.

Jika orang lain saat menjadi mualaf mengubah namanya, ini tidak berlaku bagi wawan. Menurutnya, namanya sudah bagus jadi tidak perlu ganti. Meskipun di beberapa kesempatan di tidak mencantumkan nama katoliknya.

“nama saya kan nama jawa jadi tidak maalah, ini juga sebagai bentuk penghormatan saya pada orang tua yang memberikan nama. Kadang nama Faransiskus tidak dipakai yang penting jiwa raga sudah Islam,” pungkasnya. (zal)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry