Siswa baru SMP dan SMA Shafta antusias mendengarkan sosialisasi tentang bahaya pedofilia saat kegiatan MPLS hari pertama, Senin (18/7/2022). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Sekolah Islam Shafta Surabaya menggelar sesuatu yang berbeda pada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP dan SMA, Senin (18/7/2022).

Sekolah itu menggelar sosialisasi bahaya pedofilia bagi seluruh siswa baru tahun pelajaran 2022-2023.

Pada kesempatan tersebut, guru Bimbingan Konseling (BK) Fikri, menjelaskan kepada siswa bahwa pedofilia merupakan salah satu bentuk kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak sebagai dampak pergaulan bebas. Yakni bentuk perilaku menyimpang yang melanggar norma agama maupun norma kesusilaan.

Di mana dalam beberapa tahun terakhir, kasus kekerasan seksual anak di Indonesia mengalami peningkatan. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tahun 2021 menyebutkan bahwa terdapat 10.247 kasus kekerasan seksual. “Di mana 15,2 persen adalah perempuan,” katanya.

Ia juga memaparkan kasus yang baru-baru ini terjadi di lingkungan pondok pesantren yang memakan korban santriwati usia remaja.

“Kenapa bisa seperti itu? Makanya sebagai seorang remaja, sekarang harus bersikap dewasa terhadap siapapun itu,” kata Fikri.

Dhea Revaliana, siswa kelas 10 SMA Shafta mengaku antusias saat mengikuti sosialisasi psikologi tersebut.

Ia mencatat sejumlah materi. Antara lain tentang cara menghindari bahaya pedofilia, faktor-faktor dan ciri orang pedofilia dan cara membatasi diri.

“Sangat bermanfaat bagi kita semua, terutama kita yang perempuan dan minor usianya yang masih under age, jadi kita bisa tahu gimana sih pedofilia itu. Bagus juga kita jadi tahu, oh ini nggak boleh lho kita umur segini berdekatan sama orang ini. Kita jadi saling tahu dan memahami,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Al Insanul Kamil Ahmad Nashruddin mengatakan, Sekolah Islam Shafta berupaya membentengi siswa dari ancaman kejahatan seksual, yakni dengan berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi psikologi anak. Salah satunya tentang bahaya pedofilia.

“Karena marak kita temui sekarang berbagai kasus yang lagi viral dan happening, jadi kami mendatangkan psikologi yang memang memiliki kapabilitas untuk memberikan arahan dalam rangka self defense. Jadi, anak-anak kita beri pemahaman untuk tidak mudah dekat dengan siapapun. Termasuk gurunya,” kata dia.

Kedua, lanjut pria yang akrab disapa Gus Ahmad ini, sekolah juga memberikan motivasi belajar dalam masa MPLS tersebut. Motivasi itu berkaitan tentang cara menghargai orang lain, sikap saling bekerja sama dan tenggang rasa agar menghindari aksi bullying di lingkungan sekolah.

“Jadi mereka bisa saling support, bukan saling membully atau menjelekkan teman-temannya,” imbuhnya.

Seluruh agenda tersebut merupakan wujud dari program sekolah ramah anak di lingkungan pendidikan.

Kepala Sekolah SMP Islam Shafta, Sugiharto juga menambahkan, tujuan sekolah memberikan materi bahaya pedofilia adalah satu cara pengenalan kepada siswa ketika di SMP agar mereka memahami bahwa bahaya ini memang tidak kelihatan. “Tapi dampaknya sangat besar buat anak-anak ke depannya,” kata dia.

Hal ini menjadi perhatian pihak sekolah, agar anak-anak tetap hati-hati di mana saja mereka berada. Sekaligus sebagai bentuk antisipasi dan edukasi bagi calon generasi penerus bangsa. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry