
SURABAYA | duta.co – Di awal tahun 2026, publik dikejutkan dengan lonjakan harga sapi hidup siap potong yang berdampak pada aksi mogok jualan oleh Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi), pada Selasa (6/1/2026) besok.
Menyikapi kondisi tersebut, Muthowif selaku Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar Jawa Timur (PPSDS-Jatim) turut menyoroti aksi mogok tersebut.
Menurutnya, aksi mogok jualan itu merupakan bentuk kegelisahan para pedagang atas kenaikan harga sapi hidup siap potong yang terus merangkak naik. Sebelumnya, harga sapi hidup siap potong berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp53.000 per kilogram, tergantung kondisi sapi. Namun saat ini, harga tersebut naik menjadi Rp53.000 hingga Rp55.000 per kilogram.
”Kenaikan harga sapi siap potong tersebut, akan berdampak terhadap harga daging segar menjadi Rp130.000,- sampai dengan harga Rp140.000,- perkilogram,” ujarnya, pada Minggu (4/1/2026).
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa jika aksi mogok jualan di wilayah Jabodetabek telah dimulai, maka daerah lain berpotensi akan mengalami gejolak serupa, termasuk Jawa Timur.
“Kalau di Jabodetabek sudah mulai gejolak, daerah lain akan mengikuti seperti di Jawa Timur kondisi sapi siap potong juga mulai langka seperti, daerah Lumajang, Probolinggo, Malang, dan Madura,” imbuhnya.
Muthowif juga mengingatkan, bahwa dalam dua bulan ke depan umat Islam akan menyambut bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H/2026, di mana kebutuhan daging segar biasanya meningkat dan kerap diiringi gejolak kenaikan harga.
”Mumpung ada waktu dua bulan, pemerintah provinsi Jawa bisa mengambil langkah-langkah kebijakan yang bersifat strategis, dalam upaya mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga pada saat bulan Ramadhan dan idul Fitri yang akan datang,” paparnya.
Dengan demikian, Muthowif berharap adanya peran aktif dari pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga daging sapi di Jawa Timur.
“Saya berharap dinas peternakan Jawa Timur, ada koordinasi dengan para jagal, peternak dan pelaku penggemukan yang ada di Jawa Timur, untuk mengantisipasi gejolak harga daging sapi segar di Surabaya terutama, akibat dari gejolak di Jabodetabek,” tutupnya. (rud)






































