
Muhammad Thamrin Hidayat – Dosen PGSD, FKIP
MODEL pembelajaran permainan (game-based learning models) adalah metode pembelajaran yang menggunakan elemen-elemen permainan (game) untuk menyampaikan materi. Dalam hal ini akan meningkatkan motivasi serta membantu pemahaman konsep.
Dalam model ini, aktivitas pembelajaran dirancang menyerupai permainan untuk menciptakan suasana yang interaktif, menyenangkan, dan penuh tantangan. Mengapa hal ini sangat diajurkan dalam pembelajar di tingkat sekolah dasar? Karena pada tingkatan sekolah dasar anak-anak kehidupannya masih dalam suasana bermain.
Tujuan utama model pembelajaran permainan adalah, pertama meningkatkan keterlibatan peserta didik akan lebih termotivasi dan terlibat secara aktif. Kedua menfasilitasi pemahaman melalui pengalaman langsung. Ketiga memupuk keterampilan lain seperti kerjasama, mengambil keputusan, serta pemecahan masalah.
Masih banyak hal yang masuk ke dalam pembelajaran tergantung apa permainan yang dilaksanakan. Mungkin ada beberapa pendidik merasa bahwa pembelajaran dengan bermain hanya ada pada mata pelajaran tertentu saja, pada hal materi pembelajaran apapun bisa menggunakan dengan bermain misalnya matematik dengan permainan gamifikasi kelas, yaitu matematika sebagai balapan.
Siswa bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah matematika, bila tim itu menjawab benar maka akan maju selangkah dan seterusnya. Selain permainan cepat-tepat, tim akan bekerjasama untuk memenangkan pemaianan tersebut. Adapula permaian teka teki sejarah.
Siswa diberi petunjuk dan teka teki sejarah yang harus dipecahkan untuk “menyelesaikan misi” suatu peperangan di kota Surabaya misalnya, bagaimana menyelamatkan penduduk sipil agar tidak menjadi korban peperangan. Misalnya dianjurkan mengungsi keluar kota Surabaya sampai di Mojokerto. Dan sampai saat ini diperingati hari pahlawan sepuluh Nopember yang dimanifestasikan berupa gerak jalan Mojokerto Surabaya.
Dengan demikian pembelajaran dengan menerapkan permaianan akan membuat peserta didik lebih termotivasi daan terlihat lebih aktif. Di samping itu juga menfasilitasi pembelajaran dengan mendorong pemahaman melalui pengalaman langsung, dan yang lain adalah memupuk keterampilan diantaranya kerjasama, pengambilan keputusan secara kritis dalam memecahkan masalah, serta gotong royong sesama siswa.
Selain dari pada itu yang perlu diperhatikan dalam penerapan pembelajaran dengan bermain adalah tujuan pembelajaran harus jelas dimana permainan harus terkait langsung dengan materi pembelajaran. Kedua permianan harus ada keseruan dan tantangan, namun yang perlu diperhatikan yaitu tanpa siswa merasa frustasi dan yang ketiga adanya umpan balik langsung sebagai evaluasi atau skor sehingga siswa dapat mengetahui kemajauan mereka pada materi pembelajaran tersebut.
Kalau kita lihat kunggulan penerapan pembelajaran dengan bermain rupanya seharusnya guru-guru sering menerapkannya. Namun ada beberapa yang perlu diperhatikan ada beberapa kelemahannya atau kekurangnnya, pertama: butuh waktu yang lama dan perencanaan lebih rumit, kedua: penilaian kunatitatif sulit dilakukan, ketiga: tidak semua guru terbiasa dan terlatih, keempat: resiko kacau atau tidak terarah bisa terjadi, kelima: keterbatasan sarana prasarana, dan yang keenaam yaitu kurangnyaa dukungan dan orang tua serta lingkungan. Hal ini penulis pernah di protes oleh orang tua siswa belajar kok bermain-main.
Karena mereka anggap belajar adalah menghafal, menulis dan mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh guru. Orang tua yang demikian mengganggap bahwa mengasah kognitif itu adalah belajar, tidak menyadari bahwa hasil belajar adalah selain kognitif, psikomotorik, dan afektif itu perlu dikembangkan sejak dini. Semoga tulisan ini menjadikan kesadaran untuk semuanya. Aamiin Ya Robb. *








































