Arif Helmi Setiawan, S.Kep., Ns., M.Kep – Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

PADA tulisan saya sebelumnya menjelaskan pentingnya pembelajaran klinik bagi institusi penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan dan kunci keberhasilan dalam pembelajaran klinik bagi mahasiswa keperawatan.

Maka pada tulisan saya minggu ini membahas tentang model pembelajaran klinik.  Pembelajaran klinik sangat dibutuhkan mahasiswa keperawatan karena output penyelenggara pendidikan adalah kemampuan lulusan untuk mengaplikasikan ilmunya dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien.

Sehingga tidak cukup mahasiswa dibekali dengan konsep teori belaka, namun mahasiswa harus dibekali kemampuan untuk belajar pada tatanan nyata yakni berinteraksi dengan pasien, tenaga kesehatan lain dan lingkungan wahana klinik.

Ada beberapa beberapa metode pembelajarn klinik yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan belajar mahasiswa di wahana klinik seperti metoda pengalaman, penyelesaian masalah, konferensi, observasi, menggunakan media, self directed, preceptorship, dan sistem yang difokuskan pada praktek.

Dari metode diatas metode pengalaman sering digunakan pada proses pembelajaran klinik mahasiswa keperawatan.   Metode ini bagian dari model pembelajaran student centered learning yakni mahasiswa secara aktif berpikir tentang sesuatu yang dipelajari dan kemudian bagaimana menerapkan yang sudah dipelajari dalam situasi nyata melalui proses membangun pemahaman dan transfer pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

Pada metode ini menurut penulis perlu dikembangkan bahwa model pembelajaran klinik yang tepat harus mempertimbangkan karakteristik peserta didik, kemampuan pengamatan, proses berpikir, dan perilaku belajar peserta didik.

  Aspek karakteristik peserta didik merupakan atribut yang melekat pada diri peserta didik dan mengambarkan kondisi atau kualitas perseorangan peserta didik.  Aspek ini didalam teori sistem pendidikan tinggi termasuk dalam komponen input yang memberikan pengaruh terhadap keberhasilan tujuan belajar.

Pembimbing klinik sebelum mengawali proses pembelajaran klinik harus memahami karakteristik peserta didik seperti usia dan lama belajar saat tahap akademik.

Pembimbing klinik harus menyadari bahwa umur mempengaruhi kematangan berpikir dan kemampuan belajar peserta didik untuk memahami sesuatu yang dialami atau dipelajari.

Namun tidak semua orang yang lebih tua memiliki pengalaman lebih banyak apabila tidak diikuti dengan proses belajar sesuai bidang ilmu yang dipelajari dan kebutuhan belajar peserta didik.  Sehingga pembimbing klinik harus menentukan metoda belajar yang tepat dan sesuai kebutuhan belajar peserta didik.

 Setelah digali dan dipahami karakteristik didik, dilanjutkan dengan kemampuan pengamatan.  Pembimbing klinik merupakan role model bagi mahasiswa yang mengikuti proses pembelajaran klinik.

Sehingga apapun yang dilakukan oleh pembimbing klinik menjadi bagian yang diamati, dialami dan dimaknai sebagai hasil belajar oleh peserta didik, misalkan seorang pembimbing klinik melakukan tindakan memberikan oksigen, maka sejak persiapan alat hingga terminasi dengan pasien akan diamati, dialami.

Dan dimaknai mahasiswa yang kemudian hari akan di adopsi/ditiru dan dilakukan hal yang sama dikemudian hari. Peran pembimbing klinik pada tahap pengamatan ini adalah mengevaluasi sejauh mana kemampuan mahasiswa merekam dan menjelaskan ulang, dan memahami hasil pengamatan.

Tahap selanjutnya setelah pengamatan, model pembelajaran klinik dibutuhkan kemampuan berpikir untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa saat pengamatan dan menginterpretasikan hasil pengamatan.

Kepercayaan mahasiswa melakukan pengamatan terhadap pembimbing klinik sebagai role model akan sangat membantu mahasiswa menemukan adanya kesenjangan antara fakta dan teori, mahasiswa dituntut untuk melihat hubungan sebab akibat, menganalisa masalah, membentuk generalisasi, dan menarik kesimpulan agar didapatkan argument dan pemahaman yang tepat.

Pada tahap ini pembimbing klinik diharapkan mampu memberikan solusi yang tepat terhadap temuan kesenjangan mahasiswa untuk dijadikan sebagai referensi.

Selama belajar sebagai care giver di tatanan nyata, mahasiswa saat melakukan asuhan keperawatan akan menggunakan referensi yang diperoleh dari pembimbing klinik tersebut sebagai landasan perilaku belajar dalam bentuk tindakan keperawatan, yakni memenuhi kebutuhan dasar pasien selama dirawat di rumah sakit. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry