Keterangan foto (ist/medsos)

SURABAYA | duta.co – Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha mengatakan bahwa, perubahan formasi dari duet Jokowi-Mahfud MD menjadi Jokowi-KH Ma’ruf Amin, bukan merupakan perubahan sandiwara. Karena sebelumnya nama Mahfud MD benar-benar menguat, lebih dari itu, Mahfud sudah menyerahkan sejumlah persyaratan dan sudah berada di dekat lokasi.

“Saya melihat yang terjadi ada 4 ketakutan yang berkelindan, terkait. Dan ini kemenangan PKB dan PDI-P (untuk menutup ketakutan itu). Pertama,  PDI-P takut Cawapres nanti akan menjadi Capres 2024. Padahal PDI-P ingin saat itu berada di titik nol. Kedua, PKB takut sosok Mahfud MD yang bisa jadi menjadi bumerang bagi PKB bahkan PBNU sendiri. Ketiga, ketakutan Jokowi sendiri terhadap ancaman PKB perihal munculnya poros ketiga (Gatot-Imin) yang bisa mengancam kekuatan Jokowi. Keempat, melihat penantang kemungkinan Cawapres Sandiaga Uno, maka, tidak berat untuk menghadapinya,” jelas Yudha dalam dialog khusus dengan TvOne, Kamis (9/8/2018).

Tetapi, lanjutnya, formasi ini bukan tanpa tantangan. Justru ini bisa membuat blunder pasangan Jokowi-KH Ma’ruf. Setidaknya ada dua hal penting. Pertama, untuk pemilih muda atau millennial, ini bisa menjadi ancaman dengan tampilnya Sandiaga Uno. Kedua, saat debat Capres-Cawapres nanti, akan sangat menentukan bagi pemilih rasional. Ini bisa membuat pasangan petahanan kedodoran.

Kalah, Habis Marwah NU

Pengamat politik Surabaya Survey Center, Mochtar W Oetomo, menilai pilihan Joko Widodo menggandeng KH Ma’ruf Amin merupakan solusi tepat di tengah kebuntuan kontestasi terbelah partai-partai koalisi pendukung Presiden RI Joko Widodo dua periode. “Kalau isu agama menjadi isu mainstrem maka KH Makruf pilihan terbaik, karena dianggap menyejukkan,” ujar Mochtar kepada duta.co.

Di sisi lain perubahan mendadak yang ditangkap publik dari Mahfud MD ke KH Makruf Amin, kata Mochtar juga dapat meminimalisir polarisasi politik identitas. “Perubahan ini jelas karena kepentingan kuat dari PKB dan PDI Perjuangan,” dalih dosen Universitas Trunojoyo Madura.

PKB sudah mendatangi PBNU untuk mempertanyakan ke-NU-an Mahfud MD dan mendesak Jokowi supaya menggandeng Cak Imin sebagai Cawapres. “Publik tentu tahu, bahwa Mahfud MD dalam konflik PKB tak sejalan dengan Cak Imin sehingga wajar dia kurang sepakat dengan Mahfud MD,” bebernya.

Sementara PDI Perjuangan, lanjut Mochtar adalah Pilpres 2024. Karena itu Megawati selaku Ketum DPP PDI Perjuangan meminta syarat kepada Jokowi agar Cawapres yang digandeng bukan calon potensial di Pilpres 2024. “Mahfud MD maupun kandidat Cawapres yang lain tak dikehendaki PDI Perjuangan karena memiliki potensi maju di Pilpres 2024,” jelas Mochtar W Oetomo.

Masalahnya adalah untuk kepentingan khittah dan marwah NU. Menurut Mochtar dipilihnya KH Makruf Amin sebagai Cawapres berpasangan dengan Capres Jokowi maka dia harus segera mengundurkan diri dari Rais Aam PBNU. “Tak ada pilihan lain bagi NU kecuali harus menang. Karena NU sudah masuk politik. Kalau sampai Pilpres mendatang kalah, maka marwah NU akan habis,” tegasnya.

Kendati demikian, dipilihnya KH Makruf Amin sebagai Cawapres Jokowi diharapkan bisa menyatukan kembali case-case kiai-kiai NU yang berserakan paska Pilkada serentak lalu yang cukup banyak mengalami kekalahan. Lagi-lagi lantaran syahwat kekuasaan.

“Majunya KH Makruf Amin di Pilpres mendatang bisa menyatukan kembali kekuatan NU khususnya di Jatim yang sempat terbelah di kekuatan Gus Ipul dan Khofifah,”  pungkasnya.

Mahfud Tak Kecewa

Mahfud MD sendiri mengaku tidak akan kecewa, hanya kaget saja. “Saya tidak kecewa, kaget saja, karena sudah diminta mempersiapkan diri, bahkan sudah agak detail,” kata Mahfud, dalam sebuah wawancara di Kompas TV, pada Kamis (9/8/2018) sore.

Kini mulai banyak komentar dari nahdliyin. Sejumlah mahasiswa mengunggah kalimat RIP Khitthah NU, atau Rest In Peace Khitthah NU, beristirahatlah (khitthah NU) dengan tenang alias mati. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.