“PKB sangat memahami bahwa Presiden Prabowo kurang nyaman dengan hiruk pikuk, kegaduhan apalagi gontok-gontokan.”

M Sholeh Basyari

SERANGKAIAN agenda terkait Muktamar Luar Biasa (MLB) NU, digeber di Bangkalan, Cirebon, Surabaya dan (terbaru) Jombang.

Sudah muter-muter sejak sebelum Pemilu Februari 2024 hingga kemarin Jumat 20 Desember. Agenda tersebut diselenggarakan atas nama Presidium Penyelamat Organisasi (PPO), MLB NU.

PPO (bukan jenis minyak oles pereda pusing ), dari serangkaian kegiatan tersebut merilis sembilan rekomendasi. Kegandrungan terhadap angka sembilan, tampaknya begitu kuat bagi kaum nahdliyin, sehingga apapun kurang afdhal kalau tidak berbau angka sembilan.

Dari 9 rekomendasi pra MLB, yang paling menarik adalah klausul tentang calan Ahli halli (bukan hilli) wal ‘aqdi (Ahwa), berikut calon ketua umum pengganti Yahya Staquf (ketua umum incumbant).

Sepertinya tidak ada gebrakan kuat yang mampu mengguncang jagat NU. Wahasil publik bertanya: MLB NU ini kucing atau macan?

Tidak Ada “Tangan Negara”

Rumornya pemerinrah malah risau dengan gerakan ini. Kabarnya seorang kepala Intelijen diutus untuk menyadarkan shohibul isu.

Sejauh ini, memang, tidak terdeteksi keterlibatan apalagi campur tangan negara dalam gerakan dan operasi MLB ini. Agenda pra MLB yang “sembunyi- sembunyi”, memvisualkan pada publik bahwa negara steril dari gerakan dwi tunggal: Abdussalam Shohib-Imam Jazuli Ini.

Sterilnya tangan negara dari agenda ini juga terbaca dari sepi senyapnya dinamika di PWNU maupun PCNU “se-Indonesia”. Kata se-Indonesia ini perlu diberi tanda kutip, untuk memberi ruang PWNU maupun PCNU yang bisa saja setuju atau setidaknya wait and see dengan agenda MLB ini. Nyatanya nihil.

Tidak Ada “Buah Tangan” dari PKB

Publik juga semakin susah diyakinkan bahwa PKB turut bermain atau setidaknya memberi “buah tangan” demi kelancaran agenda ini.

Sebagai Partai, posisi PKB dalam pemerintahan Prabowo, nyaman, stabil dan diperhitungkan. Pemberian “buah tangan” atau bahkan campur tangan PKB dengan agenda ini justru tidak strategis. Tidak strategis bagi agenda kepartaian apalagi kenegaraan.

PKB sangat memahami bahwa presiden Prabowo kurang nyaman dengan hiruk pikuk, kegaduhan apalagi gontok-gontokan. Lebih dari itu, warga NU sulit diyakinkan bahwa Muhaimin Iskandar, cucu Mbah Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU, berminat mengotori tangannya dengan setidaknya menyetujui agenda MLB apalagi turut campur.

Isu MLB NU Jadi Arus Balik

Pinjam salah satu judul buku Pramudya Ananta Toor: Arus Balik. Gerakan MLB tak ubahnya arus balik dari kebijakan iron hand PBNU selama ini. Iron hand yang dimaksud adalah serangkaian pemecatan maupun pembekuan kepengurusan. Pemecatan dan pembekuan itu “mulus” dilakukan sebagai gambaran kuatnya dukungan suprastruktur pada PBNU era Jokowi.

Sementara gerakan MLB disebut arus balik, sebab tokoh-tokoh yang digusur, kini melawan. perlawanan itu nampak seperti macan, bisa jadi karena posisi politik PBNU yang lemah saat ini. Pasca Jokowi dan pasca Prabowo dilantik, belum sekalipun PBNU bisa menghadirkan presiden Prabowo dalam agenda keorganisasian.

Penutup

Dengan ketidakhadiran negara dan “absennya” PKB, .maka, PPO MLB NU sejatinya tidak serius serius amat mengusung agenda MLB. Ia hanya bisa mengeong seperti kucing. Meski gerakan ini ideal menawarkan gagasan perubahan ke publik, sebagai antisipasi sekaligus investasi suksesi kepemimpinan 2027. Masalahnya: Bagaimana mereka mengakhiri?(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry