HARI KELIMA: Pencarian korban longsor Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kec Pulung, Ponorogo, melibatkan escavator spider pada Rabu (4/4/2017) hari ini. (ist)

PONOROGO | duta.co – Di tengah ketidakpastian menunggu pencarian 25 korban tanah longsor Dusun Tangkil, Desa Banaran, Pulung, Ponorogo yang masih tertimbun, warga masih didera trauma. Kehilangan saudara dalam bencana sekejap pada Sabtu (1/4/2017) pagi, yang juga mengubah permukiman yang awalnya ramai tiba-tiba hilang ditelan bumi, membuat para korban selamat sering takut.

Berkumpul dengan sesama korban serta petugas evakuasi sambil bercerita menjadi hiburan tersendiri. Beredar cerita bahwa sempat ada warga yang mendengar suara minta tolong pada tengah malam di area longsor. Dikira suara itu korban longsor, namun saat dicari tidak ada orang.

“Kalau suara minta tolong, katanya sih pas hari pertama (Sabtu, 1/4/2017 lalu, red). Itu ada yang dengar. Lalu dilaporkan kepada polisi yang jaga di lokasi. Oleh Pak Polisi dikorek-korek gundukan tanah longsoran asal suara itu, dengan sebatang kayu. Ternyata tidak ada apa-apa. Pak Polisi itu lari terbirit-birit,” terang Tumeni (70), warga RT3/RW2 Dusun Tangkil kepada duta.co, Rabu (4/4/2017).

Tumeni yang kehilangan kerabatnya terbawa longsor mengaku masih trauma atas persitiwa itu. Ditambah lagi kendati listrik sudah menyala sejak kemarin, tapi air tidak ada. Sumber air satu-satunya  yang berada di Kedung, kini penuh dengan tanah longsoran.

Bukan hanya Tumeni, warga lainnya juga masih trauma dan sering dihinggapi rasa takut. “Mau ngasih makan kambing di kandang saja, saya takut kalau tidak ada temannya. Bayangkan di depan rumah tadinya ada 12 rumah, tiba-tiba hilang ,” timpal Prayitno (45).

Rasa ketakutan jelas terpancar dari ayah satu anak itu. Kini hari-hari ketidakpastian diisi dengan membantu petugas penyelamat mencari korban yang masih tertimbun. Rasa hampa baru menyergap tatkala senja menjelang.

Harapannya agar semua bisa ditangani oleh pemerintah. Sebab sejak hari pertama di pengunsgian Posko 4 Baguna, di RT1/RW3 Dusun Krajan, Prayitno bersama 70 orang lainnya merasa terabaikan oleh pemerintah.

“Kami hanya minta diperhatikan, kami ini juga korban. Kami ketakutan dan tidak bisa bekerja. Mau pulang takut,” imbuh lelaki berkulit gelap itu kepada duta.co di Posko 4, yang hanya berjarak  200 meter dari lokasi bencana.

Sampai Rabu (4/4/2017) hari ini, pencarian korban longsor terus dilakukan. Bahkan Basarnas mendatangkan escavator spider guna menggali gundukan tanah longsoran yang total mencapai 80 ribu meter kubik. Sejauh ini baru tiga korban yang ditemukan.

Yakni pada Minggu, 2 April 2017, ditemukan jasad atas nama Katemi (65) dan cucunya, Iwan (28), keduanya tinggal satu rumah di  RT03 RW01 Dusun  Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Satu korban lagi ditemukan Senin, 3 April 2017, lakilaki atas nama Nadi (45) juga warga RT03 RW01 Dusun Tangkil.

Sementara, sebanyak  102 orang selamat masih mengungsi di Posko Rumah Kades Banaran Sarnu. Selain itu,  70 orang warga mengungsi ke rumah sanak saudara desa tetangga.

Menurut catatan, ada 29 rumah rusak tertimbun tanah, hewan ternak tertimbun berupa sapi empat ekor baru ketemu 2 ekor,  kambing 150 ekor baru ketemu 2 ekor, mobil 2 unit rusak, sepeda motor 20 unit tertimbun baru ketemu 5 unit.

Selain itu, dilaporkan pula potensi longsor susulan. Antara lain sekitar 30 cm dari titik atas tanah masih retak sekitar 25 meter. Kemungkinan apabila hujan terus turun tanah akan longsor. Selain itu, kondisi  tanah di titik atas longsor masih gerak.

Yang mengkhawatirkan, ada sekitar 18 kepala keluarga (KK) di RT 3 RW 1 Dusun Krajan, sekitar 500 meter dari lokasi titik longsor di Dusun Tangkil belum mau mengungsi. Di bawah longsoran ada sungai yang tertutup oleh tanah apabila air penuh di kawatirkan akan berbahaya bagi rumah warga di bawah. sna

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry