
SURABAYA | duta.co – Sabar! Nahdliyin diminta sabar melihat fakta (kabar) yang tersebar di media sosial. “Shobar, shobar, warga NU harus shobar. Apakah ini kelanjutan dari episode ‘Jenengan Jangan Tersinggung’, Pj Ketum PBNU adalah KH Zulfa Mustofa?” demikian warganet mengomentari dua undangan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), terbaru, Sabtu (27/12/25).
Ironisnya, dalam dua undangan itu, selisihnya hanya sehari. Yang pertama, tertanggal 26 Desember. Perihalnya undangan Rapat Koordinasi, Sabtu 27 Desember 2025. Yang teken Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan Wakil Sekretaris Jenderal H Faisal Saimima. Tempatnya di Plaza PBNU Lantai 1, Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Jamnya 19.00 Wib.

Jelas! Tapi, aneh, tidak jadi. Sampai pukul 20.00 Wib tidak ada kabar. “Pindah ke rumah Pak,” demikian kata salah seorang sumber duta.co. Rumah? “Kalau rumah Ketua Umum ada di Menteng,” kata sumber lain.
Tidak lama, muncul undangan baru, undangan kedua. Nomornya 4962/PB.01/A.I.01.08/99/12/2025. Surat tertanggal 27 Desember. Perihalnya Undangan Silaturahmi Minggu 28 Desember 2025. Yang tekan berubah menjadi 4 orang, tanpa Rais Aam dan Sekjen PBNU. Adalah KH Muhib Aman Aly (Rais), Ahmad Nadhif (Katib), Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan Wakil Sekretaris Jenderal H Faisal Saimima. Tempatnya justru di Surabaya, Pondok Pesantren Miftachussunnah (Kediaman Rais Aam PBNU). Anehnya Rais Aam — dalam undangan itu — tidak teken, hanya tembusan. Jamnya agak maju, Wib 12.00 sampai dengan selesai.

Komentar nahdliyin serba tidak jelas, penuh rekaan. Ahmad Purwanto M Ali, misalnya, melihat dua undangan yang berbeda ini menilai konflik PBNU belum rampung. “Memang, kalau Islah, maka konsekuensinya seluruh kendali berada di Rais Aam dengan mengikuti aturan Jamiyah (AD/ART),” tegasnya.
Kedua, lanjutnya, Gus Yahya mestinya tidak perlu sibuk mengaku kembali sebagai Ketum PBNU. Tidak melakukan ativitas apa pun atas nama PBNU sebelum ada rapat pleno PBNU yang meralat keputusan Rapat Pleno sebelumnya.
“Ketiga, sebelum itu ada, Gus Yahya harus menerima bahwa sekarang Tanfidziyah PBNU dalam kendali Pj Ketum KH Zulfa Mustofa. Ini karena belum ada Pleno yang menghentikannya,” tegasnya. (mky)





































