“…Saatnya  Paslon nomor urut 2 melakukan perubahan strategi, agar publik Jatim mengetahui dan menjadi simpati kepada Cawagubnya, sehingga yang tampak bukan sekedar berselebrasi di depan kalangan se-ideologi sendiri.

Oleh: Dr Sri Setiyadji*

SEMANGAT warga Jawa Timur untuk mengetahui kemampuan calon gubernur dan wakil gubernurnya, semakin kuat. Ibarat main bola, hari ini memasuki babak semi final. Debat II Pilgub Jatim yang digelar KPU pada Selasa malam tanggal 8 Mei 2018, menjadi pertarungan sengit dalam kontestasi Pilkada kali ini.

Dari debat tersebut, ekspektasi publik Jawa Timur begitu menggelora, ingin mengetahui kecakapan Paslon (pasangan calon) dalam menerjemahkan VISI, MISI. Tetapi, sayang harapan itu seakan pupus karena yang kita saksikan dalam debat itu, justru seperti sedang melihat ujian tesis, atau uji disertasi saja.

Ini terlihat dari amplop yang berisi pertanyaan para panelis, isinya baik narasi maupun substansi pertanyaan begitu normatif dan akademik. Dari pertanyaan tersebut, jelas substasi pertanyaan  kurang ‘membumi’ dalam konteks Pilkada, karena dalam melihat dan memilih Paslon kontestasi  tidak diukur dari pertanyaan yang akademis atau jawaban yang akademis.

Sehingga yang tampak dari kedua Paslon dalam debat kemarin, secara person siapa yang agresif dalam memberikan atau merespon jawaban serta mengulas dengan lugas setiap pertanyaan dari panelis. Padahal seharusnya, setiap pertanyaan harus ada relasi dan korelasi dengan VISI, MISI dari masing-masing Paslon, agar masyarakat Jatim dapat memahaminya. Sudah benarkah program yang ditawarkan?

Dalam arti apakah VISI, MISI Paslon yang disusun dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Jawa Timur atau tidak. Atau hanya sekedar membual, membuat, sehingga tidak sadar bahwa programnya kelihatan ‘ngecap’, sekedar janji yang tidak mungkin ditepati.

Untungnya, dalam debat kemarin, masih terlihat oleh publik adanya ’kreatifitas’ dari salah satu Paslon yang mengoreksi program lawan, karena dianggap impossible alias tidak masuk akal. Ini mestinya yang harus ditekankan.

Di sisi lain ada perubahan strategi yang ditunjukan dalam debat tersebut. Kita semua melihat penampilan Paslon nomor urut 1 (Khofifah-Emil) dengan apik. Cagub Khofifah berhasil memberikan space (ruang bicara) dan mengeksplore Emil Dardak sebagai wakilnya secara kwalitatif.

Ditambah perfomance penampilan Cawagub nomor urut 1, yang berubah dari model dan gaya berpakaian. Diakui atau tidak, dengan model dan style berpakaian (pakai jas dan berdasi) itu nampak pesona dan pasti akan mempengaruhi publik Jawa Timur.

Sudah begitu masih ditambah dengan keleluasan dalam mengupas, mengulas, menarasikan setiap pertanyaan dengan jawaban yang begitu akademis. Emil Dardak, peraih gelar doktor termuda di Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang, dalam persepsi dan perspektif akademis, diakui atau tidak, pada debat kedua kemarin tampil is the best.

Tetapi, KPU sebagai penyelenggara, harusnya paham, bahwa, sekali lagi, Pilkada bukan ujian tesis dan desertasi, melainkan ujian terhadap apa, mengapa dan bagaimana  program yang ada dalam VISI, MISI direlasikan dengan data dan realita kekinian terhadap kondisi Jawa Timur. Ini penting sekali untuk dibawa dan diimplementasikan dalam membangun, mengembangkan Jawa Timur dalam lima tahun ke depan.

Di sisi lain posisi paslon nomor urut 2, masih belum mau berubah dan masih dalam strategi konvensional. Ini tampak dari performance maupun dalam merespon setiap pertanyaan,  baik pertanyaan dari panelis maupun tanya jawab antar Paslon.

Gaya Paslon nomor urut 1 cenderung defensif, hanya  mendiskripsi berdasarkan pengalaman (hampir 10 tahun) selama memimpin Jawa Timur. Padahal, dan ini seharusnya dilakukan oleh Paslon nomor urut 1 adalah ofensifitas dalam  merespon pertanyaan, khususnya pertanyaan dan jawaban antar Paslon. Mengapa? Karena  sudah semestinya, yang lebih  menguasai data dan arah tujuan hendak ke mana Sustainable Development bagi Jawa Timur, adalah dia.

Begitu juga bagi paslon nomor urut 2, harus bisa segera keluar dari konvensional untuk mengubah strategi baru, misalnya dengan membuka space dan mengeksplorasi Cawagubnya agar publik Jawa Timur mengetahui secara riil kapasitas, kwalitas ataupun kompetensi serta integrasi bersinergi dalam berpasangan sebagai Paslon.

Dari berbagai pengamatan dalam kontestasi Pilkada Jawa Timur, akhir-akhir ini pertarungan hanya terfokus pada Cawagub, Emil vs Puti. Patron politik dan kondisi geografi Jawa Timur yang, dalam sejarahnya sudah terbentuk sejak Mojopahit, dapat dilihat dalam pemetaan bagaimana  head to head antara Paslon Gubernur.

Pertanyannya, bagaimana dengan kontestasi posisi Cawagub kali ini, jikalau dikaitkan dengan patron politik dan trah biologis? Di sinilah pertarungan Cawagub seharusnya mendapat perhatian khusus dan adu strategi bagi tim pemenangan.

Perubahan strategi sudah terlihat dalam debat kedua untuk meraih simpati bagi publik Jawa Timur. Lihatlah bagaimana Paslon nomor urut 1, khususnya Cawagub sudah mengubah strateginya. Terlihat sederhana, tetapi ini memiliki efek yang luar biasa. Perubahan penampilan Cawagub dengan model berpakaian akan sangat berpengaruh terhadap pemilih pemula dengan sebutan kaum milenial.

Maka, saatnya  Paslon nomor urut 2 melakukan perubahan strategi, agar publik Jatim mengetahui dan menjadi simpati kepada Cawagubnya, sehingga yang tampak bukan sekedar berselebrasi di depan kalangan se-ideologi sendiri.

Dari debat kedua ini, ada dua catatan penting, pertama, untuk KPU, debat berikutnya,  hendaknya menentukan panelis sedapat mungkin yang bervariatif. Ada teknokrat, birokrat, praktisi dan akademisi. Dengan demikian debat kontestasi Pilkada dapat dinikmati, dipahami secara menyeluruh bagi strata sosial publik Jawa Timur.

Kedua, bagi masing-masing Paslon, adakan keseimbangan dan keserasian dalam berpasangan menjadi pemimpin Jawa Timur 5 tahun ke depan. Dengan begitu menjadi terang kapasitas, kwalitas Paslon bagi Cawagub. Ini perlu ditampilkan dalam debat yang akan datang dan diberbagai kesempatan guna memperoleh simpati publik Jatim. Jangan dimonopoli! Bukankah begitu? Waallahu’alam. (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.