“SIAPA saja, yang berada di sekitar penderita berpenyakit jantung, perlu kesabaran. Termasuk dokter yang menanganinya. Jika tidak, maka, penderitaan mereka akan lebih hebat.”

Oleh : Mokhammad Kaiyis*

25 TAHUN, 5 bulan, 25 hari, saya mendampingi istri (Sri Wilujeng) dengan jantung lubang (bocor) bawaan. Bahasa medisnya, Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Tapi, saya lebih suka menggunakan kata ‘kelainan’ dari pada ‘penyakit’, karena PJB ini bukan disebabkan oleh virus atau bakteri, melainkan bawaan sejak lahir. Penyebabnya, masih misteri. Persis sumbing di bibir, dll.

Di Indonesia, setiap 1.000 bayi lahir, ada 8-10 bayi hidup mengalami kelainan jatung bawaan. Sepertiganya bermanifestasi dalam kondisi kritis pada tahun pertama kehidupan, dan 50% dari kegawatan pada bulan pertama kehidupan berakhir dengan kematian.

Di Amerika Serikat (AS), kategori negara maju,  setiap tahun sedikitnya 35.000 bayi menderita kelainan ini dan 90% di antaranya meninggal dunia, bila di tahun pertama kehidupan bayi tidak dilakukan perawatan secara adekuat alias memenuhi syarat.

Melawan sakit. Tampak Almarhumah, tahun 2010 diberikan kesempatan Allah swt untuk menunaikan ibadah haji. (FT/IST)

Children Heart Foundation sebuah yayasan yang menangani jantung anak, merilis, bahwa setiap tahun ada 1.000.000 (satu juta) bayi di seluruh dunia lahir dengan penyakit jantung bawaan. Sepuluh persen, atau sekitar 100.000 bayi diantaranya tidak akan dapat melewati tahun pertama kehidupannya, dan ribuan bayi lainnya meninggal sebelum mencapai usia dewasa.

Angka ini kelihatan kecil, tetapi jika dikaitkan dengan posisi jantung yang sangat vital dalam tubuh kita, menjadi serius. Karena tugas utama jantung itu menerima dan memompa darah ke seluruh tubuh. Untuk itu, diperlukan pemahaman yang utuh bagi generasi milenial (gen Y), untuk memperkecil kemungkinan kelainan jatung bawaan tersebut.

Sampai hari ini, 90% penyebab kelainan jantung bawaan belum diketahui, misteri. Faktor lingkungan seperti: ibu merokok, minum obat di luar resep dokter, infeksi waktu hamil dikatakan memegang peranan 3%. Sisanya 7% karena turunan. Karena sebagian besar (penyebab) belum diketahui dan faktor turunan hanya 7%,, maka, kemungkinan penyandang kelainan jantung bawaan saat melahirkan anak dengan kelainan yang sama, menjadi sangat kecil. Alhamdulillah, kedua anak saya, sehat.

Almarhumah lolos melewati antre panjang di Imigrasi Madinah Almunawwarah.

Kebanyakan ahli menduga timbulnya PJB pada bayi-bayi baru lahir disebabkan oleh gabungan beberapa faktor, diantaranya adalah infeksi virus TORCH pada saat kehamilan, penyakit gula pada saat kehamilan, kebiasaan merokok, konsumsi obat tertentu seperti asam retinoat untuk pengobatan jerawat, alkohol, dan faktor genetik atau keturunan.

Apa Infeksi TORCH (toksoplasma, rubela, cytomegalovirus/CMV dan herpes simplex) itu? Ialah infeksi yang ditularkan dari wanita hamil kepada bayinya. Ibu hamil yang terinfeksi TORCH berisiko tinggi menularkan kepada janinnya yang bisa menyebabkan cacat bawaan atau kelainan jantung bawaan tersebut. Kalau bocornya kecil, ada kemungkinan menutup sendiri saat dewasa.

Antisipasi/Pencegahan

Lalu bagaimana mencegahnya? Setidaknya, lakukan pemeriksaan rutin saat kehamilan. Dengan kontrol kehamilan yang teratur, maka, PJB dapat dihindari, minimal dikenali secara dini. Hindari konsumsi obat-obatan tertentu saat kehamilan, karena beberapa obat diketahui dapat membahayakan janin yang ada di kandungan.

Penggunaan obat dan antibiotika bisa mengakibatkan efek samping yang potensial bagi ibu maupun janinnya. Penggunaan obat dan antibiotika saat hamil seharusnya digunakan jika terdapat indikasi yang jelas. Prinsip utama pengobatan wanita hamil dengan penyakit adalah dengan memikirkan pengobatan apakah yang tepat jika wanita tersebut tidak dalam keadaan hamil.

Biasanya terdapat berbagai macam pilihan, dan untuk alasan inilah prinsip yang kedua adalah mengevaluasi keamanan obat bagi ibu dan janinnya. Sekali lagi, teliti keamanan obat bagi ibu dan janin.

Saat berada di Masjid Quba

Hindari paparan sinar X atau radiasi dari foto rontgen berulang pada masa kehamilan. Hindari paparan asap rokok baik aktif maupun pasif dari suami atau anggota keluarga di sekitarnya. Hindari polusi asap kendaraan dengan menggunakan masker pelindung agar tidak terhisap zat-zat racun dari karbon dioksida.

Ada lima macam kelainan jatung lubang bawaan. Pertama, VSD (Ventracular Septal Defect)/ Sekat Bilik Jantung Berlubang, kedua, PDA (Persisten Duktus Arteriosus Persisten), ketiga, PS (Pulmonary Stenosis)/ Penyempitan Katup Paru, keempat, ASD (Atrial Septal Defect) / Sekat Serambi Jantung Berlubang dan kelima, TF (Tetralogi Fallot) komplikasi kelainan jantung bawaan yang khas, dan melibatkan empat-empatnya kondisi sebelumnya.

Perlu tahu, bahwa, Jantung ini punya ukuran sedikit lebih besar dari kepalan tangan kita, yakni sekitar 200-425 gram. Letak jantung berada di antara paru-paru, di tengah dada, tepatnya di bagian belakang kiri tulang dada. Maka, lazimnya, orang yang memiliki problem jantung, lebih nyaman tidur miring ke kiri.

Tiga Hal Penting

SIAPA saja, yang berada di sekitar orang berpenyakit jantung, perlu kesabaran. Termasuk dokter yang menanganinya. Jika tidak, maka, penderitaan mereka akan lebih hebat. Sebaliknya, jika orang di sekitar cukup memahami, derita bisa berkurang, bahkan terlupakan. Selain itu, ada beberapa hal yang kelihatan sepele, tetapi sangat menentukan.

  1. Jauhkan dari serangan debu di Tanah Suci

    Jauhkan dari Debu. Tahun 2010 saya dan istri pergi haji. Dokter yang menangani dia, mengizinkan dan mendoakan lancar. Ini sebuah motivasi yang membuat dia bangkit, mesti tidak jarang nafas terengah-engah. Antre super panjang di Imigrasi Madinah, bisa dilalui dengan indah. Semua jamaah harus berhadapan dengan petugas, tidak boleh diwakili. Plong rasanya, begitu melihat dia bisa lolos antren panjang imigrasi dalam kondisi badan tetap segar.

Medan (jalan) Madinah tidak jadi masalah, termasuk panas yang menyengat. Mesti dia harus hati-hati dalam volume air (minum), tetapi, Masjid Nabawi terasa memberikan stamina tersendiri. Begitu juga di Makkah Al-Mukarromah. Naik turun jalan, tidak banyak mengganggu, mesti harus super hati-hati. Gagahnya Masjidil Haram serasa obat penenang hati.

Semangatnya membuat ringan menuju Jabal Uhud.

Problem pertama terjadi di Padang Arafah, panas dan debu yang bertebaran membuatnya nyaris jatuh pingsan. Apa sesungguhnya yang terjadi? Ternyata debu yang datang bersama angin secara tiba-tiba. Dia harus saya amankan di tempat yang jauh dari debu.

Beres? Belum, masih soal debu. Saat mabit di Muzdalifah, debu kembali menghajar. Apalagi suasana malam, di mana debu tidak terdeteksi. Di sini lagi-lagi dia nyaris pingsan. Bersyukur, giliran mau masuk bus berangkat ke Minna, berangsur pulih. Begitu juga saat baling jumroh, problemnya debu. Karenanya, bagi mereka yang menderita kelainan jantung lubang bawaan, sebaiknya bersih dari debu.

  1. Jauhkan dari Bau Menyengat

Awalnya tidak mengira, mengapa setiap masuk mobil selalu pusing dan sesak nafas. Usut punya usut, ternyata bau menyengat (wewangian) mobil berpengaruh. Bisa jadi tidak semua orang, tetapi, tidak ada salahnya bagi penderita kelainan jantung lubang bawaan memperhatikan masalah ini.

  1. Duduk Lebih Aman

Awal tahun 2002, istri saya ‘pamitan’, mengaku sudah tidak kuat dan siap menghadap Allah swt. Saya bilang: Bangkit! Urusan mati, prerogative Allah swt. Malam itu juga saya naikkan mobil Jeep Feroza. Ternyata, 2 km perjalanan menuju Dr Soetomo Surabaya, dia bilang: sudah tidak sesak. Apa yang terjadi? Posisi duduk sangat penting dan meringankan nafas. Alhamdulillah.

Terima kasih KBIH Mabruro, KH Salim Imron diberi kesempatan duduk di kursi VIP.

Begitu sampai RSUD, disarankan opname. Saat itu, seorang dokter senior memprediksi bulan Agustus 2002, atau enam bulan kemudian, bakal ambruk lagi, dan sulit tertolong. Ternyata, tidak. Agustus 2002 dia sangat sehat. Bahkan sampai 12 tahun kemudian, 2014, meski sempat keluar masuk RS, tetapi semua bisa dilalui dengan baik. Bahkan bisa mendampingi anak-anak dengan indah. Sejak tahun 2015 dia harus menggunakan alat bantu (oksigen) untuk bertahan.

Dan Alhamdulillah, selama  5 tahun (sampai wafatnya Senin, 25 Februari 2019 dalam usia 48 tahun) dia bisa menata hati, menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadap kepada-Nya.

Innalillahi wainnailahi rajiun! Sungguh, semua itu untuk Allah dan akan kembali kepada-Nya. Allahummaghfirlaha, warhamha waafiha wa’fuanha.  Semoga amal baiknya diterima dan kekhialafannya diampuni oleh Allah swt, amin.  (dari berbagai sumber)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.