
Azmil Chusnaini, SIP, MSM
Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Teknologi Digital (FEBTD)
SOCIAL media kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari setiap orang. Banyak sekali interaksi yang dilakukan dengan Social media. Gelombang ini juga menyadarkan dunia pemasaran digital untuk menjadikan Social media sebagai alat komunikasi dan media persuasif yang dahsyat dampaknya pada customer.
Mereka para customer terus-menurus memberikan perhatian dan semakin meningkat interaksinya dengan sosok pada social media yang kita sebut influencer. Menurut penelitian yang berjudul “micro, macro, and mega-influencer on Instagram: The power of persuasion via the parasocial relationship” ditulis oleh Rita Conde dan Beatriz Casais yang di terbitkan pada Journal of Business Research menjelaskan pada dasarnya social media influencer adalah hanya sosok pengguna internet pada umumnya, tetapi yang membedakan adalah jumlah follower dan audiens yang mereka miliki di social media diatas rata-rata pengguna social media yang lain.
Jumlah follower ini kemudian menjadi kekuatan utama untuk mempengaruhi perilaku orang lain, sehingga muncul influencer marketing yang menjadi strategi pemasaran yang melibatkan kolaborasi antara merek dengan individu yang memiliki pengaruh besar terhadap audiens mereka. Pengaruh tersebut bisa berasal dari popularitas mereka di media sosial, blog, podcast, atau platform lainnya. Influencer berperan sebagai jembatan antara merek dan konsumen, dengan harapan dapat memengaruhi keputusan pembelian mereka melalui rekomendasi atau promosi produk.
Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa social media influencer terbagi dalam beberapa kategori, dan biasanya tergantung jumlah follower mereka; Mega-influencer, Macro-influencer, dan micro-influencer. Mega-influencer memiliki keahlian di bidangnya dan sangat terkenal sehingga followernya juga sangat besar, dan hamper semua orang mengenalnya.
Micro-influencer memiliki circle paling kecil dan yang jumlah followernya pun paling sedikit diantara tiga ketegori, tetapi kelompok ini dapat memainkan kepercayaan dan interaksi customer lebih baik daripada kelompok lain. Trend saat ini bergeser pada banyaknya perusahaan yang lebih memilih melakukan kerjasama dengan micro-influencer ketimbang mega dan macro-influencer. Lalu kenapa dengan Micro-influencer, dan mengapa perusahaan lebih memilih Micro-influencer sebagai bagian dari startegi pemasaran mereka?
Micro-influencer yang memiliki follower sedikit dapat berkomunikasi dengan audiens lebih intens dan pada kenyataannya follower merasa lebih terhubung dan terlibat dengan sosok panutan mereka. Sebaliknya, selebriti dengan pengikut yang besar akan kesulitan berinteraksi dan berkomunikasi intens, interaksi akan terasa seperti ada jarak dan kurang personal.
Ini menjadi alasan utama mengapa Micro-influencer semakin diminati, walaupun jumlah follower sedikit tetapi mereka dapat terhubung secara emosional dengan konten yang mereka bagikan. Dalam dunia pemasaran keterikatan ini akan meningkatkan kepercayaan pengikut, audiens akan cepat percaya dengan rekomendasi-rekomendasi dalam konten yang mereka unggah.
Audiens bahkan dapat merasakan bahwa konten dan rekomendasi yang diberikan bersifat “honest-review”, autentik dan tulus bukan untuk tujuan promosi. Salah satu ciri Micro-influencer, mereka memiliki audiens yang tersegmentasi dengan ciri-ciri yang sama disbanding dengan selebritas papan atas.
Contoh, setiap daerah biasanya memiliki food-influencer tersendiri yang khusus mereview makanan-makanan yang ada di daerah tertentu. Follower mereka adalah penduduk setempat atau orang-orang yang interest dan mungkin akan singgah di kota tersebut.
Follower-follower pada Micro-influencer punya niche tertentu seperti: kecantikan, kesehatan, teknologi atau pun kuliner. Ini mempermudah perusahaan memilih audiens yang spesifik dan tertentu misalnya penggemar produk kecantikan atau pengikut gaya hidup sehat dapat memanfaatkan Micro-influencer yang sudah memiliki audiens yang sesuai dengan demografis atau minat mereka. Hal ini membuat kampanye pemasaran lebih tepat sasaran dan efektif.
Yang terakhir tentunya dari kacamata marketer, selebriti dengan follower kecil tidak akan membandrol biaya yang besar. Tidak jarang biaya marketing biasanya menyedot budget yang super besar, terkadang hasil kurang memuaskan. Selebritas papan atas akan membandrol dirinya sampai ratusan juta. Semakin popular dan besar follower yang mereka miliki, semakin mahal harga yang harus dikeluarkan marketer. Micro-influencer pastinya lebih terjangkau, dan ini memberikan benefit untuk pelaku-pelaku usaha yang masih berkembang untuk memanfaatkan kekuatan influencer dengan biaya yang affordable.
Dunia digital marketing terus berkembang, strategy-strategy yang digunakan juga akan terus bertransformasi. Dulu selebriti yang kita kenal selalu ada di layer kaca TV dirumah, sekarang level selebriti pun berubah menjadi lebi banyak dan lebih spesifik.
Mikro-influencer hadir memberikan alternatif dalam dunia pemasaran dengan mengedepankan hubungan yang lebih dekat menciptakan engagement yang lebih intens antara selebriti dengan audiens. Micro-influencer menjadi pilihan yang semakin populer bagi merek yang ingin memperluas jangkauan mereka secara efektif. *







































