Dr. H. Sukron Djazilan, S.Ag., M.Pd.I – Dosen FKIP

DAKWAH dalam Islam merupakan fenomena religio-sosiologi dan sejarah yang panjang dalam melahirkan masyarakat muslim di belahan dunia. Keberhasilan dakwah ini melibatkan berbagai unsur, metodologi, pola tertentu yang dibuat dengan matang dan penuh pertimbangan.

Dengan kata lain, dakwah Islam yang dikomandoi oleh Rasulullah ini dengan perencanaan matang, strategi jitu dan manajemen yang bagus sehingga wajar jika keberhasilannya mampu mengukir sejarah peradaban dunia.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi semakin canggih, perbedaan lokasi dan budaya masyarakat yang heterogen, metode dakwah juga dituntut untuk berbenah dan berinovasi yang lebih efisien.

Metode dakwah yang komunikatif dan ramah, sangat dibutuhkan masyarakt sekarang ini, tidak dakwah dengan kata-kata kasar dan memaksa. Hal itu akan menyebabkan mereka akan sakit hati dan merasa disalahakan akan kondisinya mereka sekarang.

Islam merupakan agama yang menyerukan atau menugaskan pada umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam kepada seluruh umat manusia sebagai rahmatan-lil ‘alamin.

Selain itu Islam juga dapat menjamin akan terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan, dan pada dasarnya ajaran Islam itu dapat dijadikan sebagai pedoman hidup umat Islam yang dilaksanakan secara konsisten serta konsekuen.

Sedangkan dakwah Islam adalah setiap upaya positif baik yang berupa aktivitas lisan, tulisan, perbuatan maupun ketetapan guna meningkatkan taraf hidup manusia dan nilainya sesuai dengan tuntunan hidupnya dan mengacu kepada konsep kehidupan yang ditetapkan Tuhan atas mereka.

Dakwah Islam tidak terlepas dari transformasi ajaran-ajaran Islam untuk disampaikan pada umatnya, karena hakikat dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha mengubah suatu situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat.

 Perwujudan dakwah bukan sekadar usaha peningkatan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas.

Dengan demikian dakwah juga berarti memperjuangkan yang ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Dan memotivasi umat manusia agar melaksanakan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta memerintah berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar supaya manusia itu memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Segala macam dakwah dalam Islam akan bersinggungan dengan masyarakat yang ada disekitarnya, dengan kata lain ada hubungan interdependent antara dakwah dengan masyarakat sekitar.  Menurut Miftah Farid (2000) dalam Dakwah Ilsam Pada Masyarakat Informasi hubungan interdependent tersebut mengibaratkan dua hal hubungan penting.

 Pertama, realita sosial merupakan alat ukur keberhasilan dakwah dalam suatu pihak, yang sekaligus menjadi cermin sosial dalam merumuskan dakwah pada masa yang akan datang. Kedua, aktifitas sendiri pada hakikatnya merupakan pilihan strategis dalam membentuk arah sebuah masyarakat tertentu.

 Karena itu eksistensi dakwah tidak bisa dilepaskan dari dinamika kehidupan bermasyarakat. Dakwah merupakan proses yang berkesinambungan sehingga perlu terus dievaluasi dan dikembangkan sesuai dengan idelitas ataupun tuntutan realitas yang dihadapi.

Dengan demikian, penggalian atas jejak sejarah dakwah itu mutlak harus dilakukan, baik kebutuhan dalam bidang akademik dalam rangka pengembangan teori-teori dakwah, maupun pengambilan teladan secara praktis.

Ada berbagai macam pisau analisa yang digunakan dalam berdakah dalam masyarakat antara lain dengan pendekatan psikologi, sosiologi, sejarah, komunikasi, dan lain-lain yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang dibidik.

Karena itulah kita harus bisa menyesuaikan dengan siapa kita berkomunikasi (mad’u), tidak bisa  memberikan perilaku yang sama terhadap orang yang baru masuk islam dengan mereka yang sudah lama mengenal agama.

Semua itu harus disesuaikan dengan siapa kita berbicara, beda orang beda cara kita dalam bertutur kata. Dengan santun dan komunikatif adalah metodologi mengajak kebaikan yang cerdas.

Sebagaimana yang kita saksikan bersama, akhir-akhir ini ada beberapa da’i yang menyampaikan dakwah dengan kata-kata kasar dan memaksa kepada para jamaah, inilah yang sekiranya perlu untuk kita luruskan.

 Berdakwah adalah sebuah anjuran bagi kita semua untuk selalu menebarkan nilai-nilai kebaikan kepada sesama. Dakwah ini tidak hanya sebatas memerintahkan orang lain untuk berbuat baik, namun lebih dari itu seorang da’i harus bisa untuk mengaplikasikannya dalam kehidpuan sehari-hari.

Mereka bermodal dengan beberapa dalil untuk memerintahkan jamaahnya untuk berbuat baik, namun ia sendiri ingkar atas apa yang telah ia katakan khususnya dalam aplikasi dalam bermasyarakat. Dakwah yang tidak hanya sebatas ucapan yang diteriakkan dengan menggelegar nan lantang, namun dengan suri tauladanlah yang perlu ditunjukan kepada para jamaah.

Kita harus belajar dari pengalaman yang ada dalam masyarakat, diantaranya sistem marketing “kernek” angkutan umum. Mereka akan mengarahkan siapapun yang datang di terminal dengan berbagai fasilitas yang dimiliki oleh armada mereka tanpa menjelekkan angkutan yang lain.

Serta tidak ada paksaan terhadap mereka yang ingin naik armada mereka, karena tugas mereka hanya memberikan sebuah informasi tentang kebaikan, entah para calon penumpang naik atau tidak bukan urusannya lagi. Kemudian para penumpang yang sudah masuk dalam angkutan, sudah menjadi kewajiban para kernek untuk menarik biaya kepada mereka atas fasilitas yang mereka terima.

Begitu juga dalam sistem berdakwah dalam Islam, kita hanya bisa untuk memberikan sebuah informasi yang sekiranya baik dan dibutuhkan bagi masyarakat tanpa harsus memaksa mereka sesuai dengan kita. Lebih-lebih menyalahkan sikap mereka lakukan sekarang ini. Masalah ia akan menerima dalam waktu dekat atau lama hanyalah Tuhan yang tau, dan tugas kita untuk terus menyampaikan kebaikan kepada mereka yang yang membutuhkan.

Ketika mereka sudah tahu akan nilai dan kebaikan yang yang kita sampaikan. Kita bisa menuntut terdahap mereka tentang kewajiban yang harus lakukan, diantaranya amalan yang disyariatkan kepada umat muslim diantaranya yang tertuang dalam rukun islam dan rukun iman. Nah, strategi dakwah yang santun dan ramah dalam menyampaikan kebaikan inilah yang kita butuhkan dalam membangun Islam rahmatan lil alamin. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.