Petani bawang merah Desa Suwaluh, Kecamatan Balongbendo, panen ditengah serangan hama sejenis serangga, Senin, (30/8/21). (FT/LOETFI)

SIDOARJO | duta.co – Walau mengalami penurunan harga, petani bawang merah Desa Suwaluh, Kecamatan Balongbendo, khususnya Gapoktan Ngudi Utomo I, masih bertahan menanam bawang merah. Harga bawang merah mengalami penurunan dengan harga basah (baru panen belum dijemur) kisaran Rp10 ribu perkilo. Hal ini dijumpai duta saat panen, Senin, (30/8/21).

Seperti salah satunya Pak Giban (65), petani asli warga Desa Suwaluh ini mengatakan, awalnya ia belajar menanam bawang merah dari YouTube, karena menanam padi selalu diserang hama tikus dan gagal.

Alhamdulillah, dari Dinas kabupaten Sidoarjo memberi support datang ke kelompok tani di desa Suwaluh. Dibantu bibit sebanyak 5 kwintal (500kg) plus pupuk organik dapur. Dengan alasan apa saya membuat hari dan tanggal itu, karena saya khawatir pekerjanya tidak bersedia membantu saya,” jelasnya.

Pak Giban melanjutkan, masalah atau kesulitannya adalah tanah dan hama. Maka dari itu, lanjutnya, mengenai hama kupu-kupu yang bertelur pada daun, dirinya berinisiatif membuat dari bekas botol diberi perekat (lem tikus).

“Dengan adanya harga turun, tidak rugi, tapi keuntungannya sendiri tidak dapat seperti yang diharapakan atau sedikit,” ucap Giban.

Sementara, ditemui di lokasi panen bawang merah, Dian Andriani, penyuluh Kecamatan Balongbendo mengatakan, ini adalah tantangan bagi petani karena lahannya dari awal sudah berat. Pengolahannya perlu proses yang panjang agar bisa menjadi lahan yang siap untuk ditanami bawang merah.

“Tantangan dilahan ya pengaira, terus perawatan juga. Karena ini kan bukan petani bawang murni. Namun, baru dua kali coba, dengan hasil yang seperti ini alhamdulilah,” ujar Dian.

Dengan harga bawang merah yang saat ini turun, Dian berharap hasil panen bisa disimpan terlebih dahulu oleh petani, dikeringkan di rumah, bahkan bisa disimpan sampai harga agak stabil.

“Kalau dilihat seperti kemarin kan sempat naik sampai harga segitu kan agak susah, tapi tidak rugi, namun tetap ada hasilnya. Seperti ini perawatan setiap hari,” imbuhnya.

“Menanam bawang seperti merawat bayi, jadi setiap hari harus ke sawah dengan melihat kondisi tanaman, sehingga tahu ada serangan hama atau tidak, perlu pengairan tambahan atau sudah cukup. Jadi intinya perlu perhatian setiap hari,” terang Dian Andriani saat ditemui duta, Senin (30/8/21).

Senada, perwakilan Dinas Pangan dan Pertanian, Suharmanto, dari Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) didampingi Lilis Sujiatmi, staf Sarpras, menjelaskan, melihat wilayah lain contohnya Nganjuk dan Probolinggo, produksi bawang seperti itu ternyata setelah dicoba petani Sidoarjo di sini juga produksinya hampir menyamai lokasi-lokasinya seperti kedua wilayah tersebut.

“Hasil di Sidoarjo bisa menyamai seperti di Nganjuk dan Probolinggo, namun perlu didampingi dinas, alhamdulilah dari Dinas itu ada 7 demplot yang kebetulan Suwaluh itu tanam yang terakhir dan panen yang terakhir,” ungkap Suharmanto.

Dirinya berharap, demplot ini dapat sebagai percontohan, sehingga petani-petani lain bisa meniru budidaya bawang merah. “Kelompok tani atau Gapoktan pelaksana bawang merah ini sebenarnya di Sidoarjo sudah ada, secara untuk suport-suport bawang merahnya. Tapi itu masih sebatas suport dan belum berkelompok masih orang perorang,” imbuhnya.

Dinas berharap dapat memfasilitasi demplot supaya petani atau kelompok itu dapat beralih dengan salah satunya ketanaman bawang merah. Alasannya, selain keuntungan yang diterima oleh petani itu lebih tinggi, salah satunya karena ada beberapa daerah yang endemik tikus, sehingga dialihkan ke petani bawang karena tikus tidak mau bawang.

Sementara, mewakili Camat Balongbendo. Wasis Kasi Perekonomian mengatakan, kegiatan ini dari koordinasi Dinas terkait, dari desa sendiri yang diprakarsai Kepala Desa Suwaluh, bapak H. Heru. Di Balongbendo, ada 3 lokasi yaitu Desa Suwaluh, Desa Wonokupang, dan Desa Kedung Sukotani.

“Mudah mudahan dengan adanya ini petani yang baru menanam bawang merah, petani desa sejahtera bisa mandiri untuk perekonomian wilayah kecamatan Balongbendo dan bisa meningkat,” harapnya.

Selaku Kasi Perekonomian mewakili bapak Camat, ia mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pangan dan Pertanian kabupaten Sidoarjo yang telah memberikan bantuan dan bimbingan secara teknis untuk menanam bawang merah ini.

“Karena, ini masih pemula. Jadi, mudah-mudahan bisa berkelanjutan tetap memberikan bimbingan secara teknis agar petani pemula ini untuk menanam bawang merah bisa jaya,” ucap Wasis. (loe)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry