Mahfud MD (kiri) dan Gus Yasin

SURABAYA | duta.co – Tidak adakah jalan lebih arif? Mengapa para ulama diam menyaksikan proses sidang Habib Rizieq Shihab yang penuh gontok-gontokan? Benarkah hati atau iman kita sudah lemah, mati? Ini pertanyaan Tjetjep Muhammad Yasin SH, MH usai menyaksikan sidang Habib Rizieq Shihab, Jumat (19/3/21).

“Ya! Saya mempertanyakan itu. Ke mana ulama-ulama kita ketika kedholiman dipertontonkan seperti itu. Ke mana tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad? Apakah ini yang disebut dalam hadits Kanjeng Nabi adhaful iman?,” jelas Gus Yasin panggilan akrabnya kepada duta.co, Sabtu (20/3/21).

Proses persidangan HRS (Habib Rizieq Shihab) yang berlangusng Jumat kemarin, memang beredar luas di medesi sosial. Merinding. Isinya mengerikan. Majelis hakim ngotot sidang secara online. Sementara HRS menolaknya.

Ini jelas berbeda dengan persidangan Irjen Polisi Napoleon Bonaparte, Djoko Tjandra dan lainnya di pengadilan Tipikor yang dilakukan secara langsung, secara fisik. Sementara persidangan HRS terus dipaksakan secara virtual oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Bahkan, meski HRS dan team pengacaranya menolak hadir bila sidang dilakukan secara virtual, tetap saja HRS dibawa secara paksa ke ruangan yang disiapkan untuk mengikuti sidang virtual, ironisnya diduga sempat mengalami perlakuan kasar.

Kuasa Hukum Habib Rizieq yaitu Aziz Yanuar SH, Habib Ali Alatas SH dan lainnya menyampaikan kepada faktakini.info bahwa Habib Rizieq hari ini telah dikeroyok Hakim dan Jaksa. Dijelaskan: IB-HRS dikeroyok HAKIM dan JAKSA. Hakim memerintahkan Jaksa utk hadirkan IB-HRS dlm Ruang Sidang Online dg cara apa pun.

Jaksa dan puluhan petugas kejaksaan mendorong dan menyeret paksa IB-HRS yang duduk di kursi depan sel tahanan. Dua pengacara Aziz dan Ali yang menyaksikan mencoba melindungi IB-HRS, shg mereka didorong dan dipukul petugas kejaksaan, namun pengacara sempat mengelak. 

Melihat itu IB-HRS bangkit dari kursi mengejar dan menyerang Si Petugas yg memukul Pengacara, namun dihalangi oleh Provost.

IB-HRS tidak gentar dikeroyok, bahkan bangkit melawan puluhan petugas kejaksaan, namun ditenangkan oleh pengacara, dan akhirnya IB-HRS terdesak masuk ke dalam ruang Sidang Online.

Karutan dan Para Petugas Rutan Mabes Polri hanya bengong menonton, mereka bingung dan prihatin serta sedih melihat perilaku Jaksa dan para petugasnya yg beringas, tapi mereka tdk tahu harus berbuat apa. Yg mereka tahu bhw IB-HRS di dalam tahanan sangat baik dan sangat membantu pembinaan Warga Tahanan. 

Di dalam ruang Sidang Online IB-HRS dg gagah dan lantang adu argumentasi dg Hakim dan Jaksa. IB-HRS tetap menuntut Sidang Offline, serta menyatakan menolak Sidang Online sambil menyatakan keluar dari sidang. 

Namun puluhan petugas menghadang dan menghalangi IB-HRS keluar ruangan. Akhirnya IB-HRS ditemani Dua Pengacaranya Aziz dan Ali, memilih duduk di sudut ruangan jauh dari jangkauan camera. 

Hakim dan Jaksa menggunakan kekuasaan dan kekerasan, sdg IB-HRS hanya seorang terdakwa yg tak punya kuasa apa pun. 

Akhirnya pada sidang lanjutan, IB-HRS mengambil sikap tidak melawan scr fisik, namun melawan dg DIAM.

Berikutnya dihadirkan KH Ahmad Sobri Lubis dan Hb Hanif Alattas beserta Ust Haris dkk, semua sepakat tuntut Sidang Offline, dan menyatakan menolak Sidang Online, lalu semua melawan dg DIAM.

DIAM adalah sikap. DIAM adalah PERLAWANAN. Dengan DIAM semakin kentara Sidang Dagelan Rezim Zalim.

Gus Yasin, langsung mengingatkan Mahfud MD sebagai Menko Polhukam. Menurut alumni PP Tebuireng Jombang ini, ketika kedholiman sudah dilakukan oleh penguasa secara blak-blakan, maka, kita tinggal menunggu kehancuran sebuah negara.

“Ini khotbahnya Mahfud MD. Sudah viral di media sosial. Dalam khotbahnya, Mahfud MD menyampaikan bahwa dalam kehidupan ini manusia dituntut selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah satu aspek ketakwaan adalah memperjuangkan dan menegakkan keadilan. Jangan sampai kebencian kepada suatu kelompok membuat kita tidak adil terhadapnya. Ini yang ngomong dia,” jelas Gus Yasin.

Mahfud MD, lanjutnya, juga mengatakan, bahwa, keadilan merupakan pondasi tegaknya negara. Apabila pemerintah dan rakyat berlaku tidak adil, maka tunggulah saat kehancuran sebuah negara.

“Bahkan Mahfud MD mengutip hadits Nabi Muhammad SAW, intinya hancurnya bangsa-bangsa dan negara-negara besar sebelum Islam adalah karena ketidakadilan, di mana hukum hanya ditegakkan terhadap orang lemah sedangkan terhadap orang kuat sama sekali tidak tegak,” urai Gus Yasin.

Hal yang sama disampaikan KH Abdul Malik, pengasuh PP An-Nahdliyah, Sukodono Sidoarjo. Menurut Kiai Malik, apa yang dialami HRS ini sudah kelewatan, dholim. “Dan kita harus bergerak untuk mengingatkan penguasa. Kalau kita diam, sama dengan setuju, berbahaya,” tegasnya.

Kiai Malik setuju dengan khotbah keras Mahfud MD, bahwa, kedholiman, ketidakadilan itu bisa merusak soko guru sebuah negara bangsa.

“Jangan dibiarkan. Saya yakin kiai-kiai juga merasakan hal yang sama, ada kedholiman yang dipertontonkan. Masalahnya: Apa tidak ada cara yang lebih arif untuk mengadili HRS? Terlepas dari masalahnya, permintaan HRS sidang ofline, itu wajar. Apalagi, faktanya yang lain bisa,” tegasnya.

Sementara Gus Yasin mengaku heran mendengar komentar Ketua Majelis hakim yang mengatakan ini sidang negara, karena dibelakangan hanya ada Burung Garuda, tidak ada foto presiden. Ini menurutnya, sangat memalukan didengar publik.

“Kalau negara mestinya adil. Kalau yang lain bisa sidang ofline, mengapa seorang Habib tidak bisa? Kalau hakim takut massa datang, karena terbuka untuk umum, maka, tinggal minta polisi untuk mengamankan jalannya sidang,” jelasnya.

Gus Yasin yakin, bahwa, para penegak hukum, termasuk para pejabat yang dholim, cepat atau lambat bakal menghadapi dampaknya.

“Percayalah! Kekuasaan tidak langgeng. Tidak mungkin seseorang menjadi Menko Polhukam seumur hidup. Kalau sekarang mereka bisa rekayasa, maka, saatnya Allah swt menunjukkan kehebatan rekayasa-Nya,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry