Salah satu pelajaran dari KH Sholeh Qosim adalah kesederhanaan. Edisi hari ini Duta menurunkan catatan Gus Ahmad Miftahul Haq, cucu beliau yang diambil dari web halaqah.net. Kita pun dibuat merinding membacanya.

Oleh: Ahmad Miftahul Haq


Mif, engko awakmu tak jak nang Ampel, melu Haul  (Mif, nanti kamu saya ajak ke Ampel, ikut Haul),” dawuh Abah KH Sholeh Qosim kepadaku di bulan Sya’ban — seperti saat ini –sesaat setelah Aku sampai di rumah dari Pondok Ploso.

Aku membayangkan, ada semacam mobil penjemput atau semisalnya. Selepas Dzuhur aku menghadap Abah dan kami berangkat. Biasa! Berjalan ke arah Barat, lalu belok ke kiri menuju arah masjid, lalu ke kanan hingga bertemu jalan raya di ujung Ngelom Gang I.

Aku mulai berfirasat ‘buruk’. “Alamat numpak Lyn iki,” pikirku.

Sebagai sosok lemah dalam hal ‘permontoran’, karena Aku selalu merasa mual ketika di dalam kendaraan apapun beroda lebih dari tiga dan biasanya mengatasinya dengan tidur atau macak tidur.

Dan benar. Kami naik Lyn G menuju Joyoboyo. Usia beliau sudah 70 tahun lebih (88 tahun red.) dan masih segar, sehat, dan bersemangat, meski hanya naik Lyn. Dan Aku yang berusia 20 tahun-an, yang baru saja menempuh perjalanan kurang lebih 3.5 jam dari Ploso Kediri ke Ngelom terlihat loyo dan ‘tersakiti’.

Tak terlalu banyak penumpang siang itu, hingga kemudian hanya tersisa Aku dan Abah. Beliau lalu memanjangkan kakinya hingga ke kursi di depannya. Sepanjang perjalanan beliau berdzikir dan sesekali beliau bertanya perihal ‘mondokku’ di Ploso, yang tentunya kujawab dengan ‘sedekat mungkin pada realita’.

Karena selama 7 tahun di Ploso aku tak pernah sekalipun bertahan 40 hari di pondok, standar angka minimum ke-bertahan-an. Maksimal 29 hari dan itupun rasanya seperti setiap apa yang aku sentuh akan terbakar, panas. Konon itulah proses pembakaran dosa-dosaku selama ini. Apapun itu, itu berat dan Aku tak kuat.

Sesampainya di Joyoboyo Abah ‘menggeretku’ (menarik) untuk naik Bis Damri jurusan Jembatan Merah. Dan ‘penderitaanku’ menjadi bertambah. Dan semakin berlipat ketika di dalam Bis Abah dawuh, “engko atek wes totok Jembatan Merah mlaku ae. Gak usah numpak becak” (Nanti kalau sudah sampai Jembatan Merah, jalan kaki saja. Tidak usah naik becak).

Derita ini sepertinya tiada akhir dan tak berkesudahan. Panas cuaca dan mual yang semakin lama semakin susah ditahan serta beberapa tekanan psikologis, meski sejatinya hanya berupa kata ‘Lyn’, ‘Bis’, dan ‘jalan kaki’, semakin sukses menemu keluaran psikologisnya.

Dan Allah selalu menemukan cara untuk membuat hamba selalu bersyukur. Turun dari Bis, kami berjalan kaki hingga mendekati jembatan merah. Tiba-tiba terdengar seruan dari arah belakang. “Kiai, njenengan nitih becak mawon kale kulo. Niki sampun kulo panggihaken becak kaleh. Njenengan sareng kulo mawon.” (Kiai, panjenengan naik becak saja dengan saya. Ini sudah saya sewakan dua becak. Panjenengan bersama saya saja).

Yang menarik, Abah KH Sholeh Qosim menjawab, “Gak, Aku bareng putuku ae,”  jawabnya.

Tetapi, kami pun naik becak bersama hingga Ampel, sedangkan yang menyewakan becak kami naik sendiri.

Dan sepertinya ‘derita’ itu terbayarkan. Selepas beberapa jam di Kamar Imam Masjid Ampel, selepas Ashar, Habib luthfi masuk ke Kamar Imam dan Abah memperkenalkanku pada beliau Habib Luthfi.

“Ini cucu saya Bib. Sekarang masih mondok di Ploso. Doakan Bib,” kata Abah.

Dan lalu Aku menyalami beliau. Ketika Aku mencium tangan beliau, punggungku di tepuk, Habib sambil dawuh, “barokah.. barokah..” Lalu aku mencium tangan beliau lagi dan beliau dawuh hal yang sama.

Sebelum itu Aku tak pernah berjumpa dan sowan Habib Luthfi karena diantara cucu-cucu Abah yang lain, Aku jarang memperlihatkan diri dan selalu menjauh, ya mungkin karena “Naik Lyn”, “Bis”, “jalan kaki” dan semisalnya.

Sebelumnya Aku tak pernah sedekat itu dengan Makam Sunan Ampel. Dan sebelum itu aku tak pernah mendengar ungkapan menarik dari MC Tahlil Akbar Haul Sunan Ampel. “Tahlil akan dipimpin oleh Imam Besar Masjid Agung Sunan Ampel KH. Sholeh Qosim.”

Menjadi ‘Imam’ Aku sering melihat, tapi menjadi ‘Besar’ itu sesuatu yang baru kala itu, bahkan hingga kini. Menjadi ‘Besar’ itu adalah sebuah pencapaian beliau yang didapat dari keistiqomahan dzohir-bathin, daya tahan fisik dan psikologis yang luar biasa dalam menjaga fokus, dan baiknya relasi orang tua dan guru-guru Abah sehingga ridlo dan doa beliau-beliau kepada Abah terus mengalir dalam menjaga khidmah Abah pada masyarakat, pada NU, pada Bangsa.

Abah dengan segala keterbatasannya mampu berbuat banyak. Entah kami yang ditinggalkan. Pandungane. Lahul Fatihah.. (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.