Dr. M. Sukron Djazilan, S.Ag, M.Pd.I – Dosen  Prodi S1 PGSD

SETELAH jemaah haji menjalani thawaf ifadlah, maka sempurnalah ibadah haji seseorang. Dan “Tidak ada balasan yang setimpal bagi haji mabrur kecuali surga”, demikian sabda Rasulullah SAW. Pertanyaannya, apa dan bagaimana kriteria, parameter atau indikator haji mabrur?

Pemahaman yang umum dijumpai di masyarakat kita tentang haji mabrur adalah kesalehan pascahaji; apakah ada peningkatan dari sisi kuantitas, frekuensi atau volume ibadah (mahdlah) atau tidak.

Jika ada peningkatan, berarti hajinya mabrur. Sebaliknya; jika sama, apalagi terjadi penurunan, berarti tanda-tanda hajinya tidak mabrur.

Oleh karena itu, sebagai contoh sederhana, jika sebelum haji seseorang tidak atau jarang menjalankan shalat berjamaah di masjid kemudian menjadi lebih rajin berjamaah berarti hajinya mabrur.

Jika sebelum berhaji seseorang jarang atau tidak pernah baca Al-Qur’an kemudian berubah menjadi lebih sering membacanya, berarti tanda hajinya mabrur. Dan seterusnya dan sebagainya.

Demikianlah pemahaman awam tentang haji mabrur. Sebuah pemahaman yang tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Secara terminologis mabrur bermakna: diberi atau ditambah kebaikan.

Ada sebuah ayat Al-Qur’an (QS Ali Imron, 92) yang berbunyi: lan tanalu al-birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun” (tidaklah sempurna kebaikan kalian jika belum menginfakkan apa-apa yang kalian cintai/sukai).

Jika ukurannya adalah frekuensi kesalehan vertikal-individual, apa yang dipahami oleh kebanyakan orang tentu saja benar.

Pemahaman yang demikian telah menjadi common knowledge tentang kriteria atau parameter haji mabrur. Tetapi harus diingat, parameter kesalehan bukan hanya itu. Ada parameter lain yang tidak kalah pentingnya, yakni kesalehan sosial kemanusiaan dan publik.

Jenis kesalehan kedua ini harus diakui jarang mendapatkan penekanan. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena “kesalahan” konstruksi sosial tengang rancang bangun kesalehan yang melulu ibadah mahdlah-sentris.

Peningkatan empati sosial, filantropi, dan sikap-sikap sejenis dianggap tidak termasuk ke dalam bentuk kesalehan. Akibatnya, masyarakat cenderung melihat minor para jamaah haji yang tidak mau menjalankan shalat berjamaah di masjid terdekat.

Padahal, sebagaimana sering dikisahkan dalam sumber-sumber klasik, banyak orang yang berhaji mabrur hanya dengan bermodalkan menolong si miskin yang sedang membutuhkan, sementara ia sendiri mengurungkan keberangkatan hajinya kantaran seluruh perbekalannya disumbangkan kepada si miskin yang jauh lebih membutuhkan.

Ada pula kisah seorang pelacur yang masuk surga gegara memberi minum anjing yang tengah kehausan. Apa artinya itu semua? Artinya adalah profil kesalehan masih menekankan pada dimensi teosentrisme, bukan antroposentrisme.

Dimensi pertama menganggap orang bekerja untuk menafkahi anak-istri tidak termasuk ibadah. Atau orang yang membangun fasilitas publik seperti jalan raya, jembatan, sekolah dan rumah sakit masih belum bisa disebut sebagai ibadah.

Pendek kata, ibadah adalah menyembah Tuhan (terutama melalui shalat) agar Dia twrsenyum bahahia kepada si penyembah. Itulah mengapa, di negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia jumlah penduduk miskin tetap tinggi.

Demikian pula dengan angka pengangguran, rasio gini (kesenjangan ekonomi), gizi buruk, kematian ibu melahirkan, buta huruf, korupsi, dan seterusnya. Kenyataan ini menunjukkan absennya daya ungkit atau daya dorong ibadah ritual bagi terjadinya transformasi sosial.

Di sisi lain, angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia) tetap rendah, seperti halnya indeks usia harapan hidup, angka partisipasi kasar pendidikan, indeks demokrasi dan semacamnya. Artinya, terdapat kesenjangan yang dalam antara kesalehan individual dan kesalehan sosial-kemanusiaan-publik.

Inilah yang disebut sebagai paradoks kesalehan atau kesalehan yang terbelah (split piety). Di satu sisi orang sangat antusias naik haji, tetapi abai terhadap penderitaan sesama. Di satu sisi orang berlomba-lomba membangun rumah-rumah ibadah, tetapi kebanyakan orang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Di satu sisi orang sangat taat beribadah, tetapi dia gemar melakukan pencurian dan kejahatan. Di satu sisi orang sudah bergelar haji (bahkan sudah pergi haji berkali-kali), tetapi dia tetap melanggar peraturan lalu lintas. Orang bilang STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan).

Karena itu, diperlukan satu upaya bersama untuk mendekonstruksi profil kesalehan beragama dengan cara memasukkan kesalehan sosial-kemanusiaan-publik sebagai kategori kesalehan lain yang juga penting untuk dikembangkan.

Memerangi buta huruf, menanggulangi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan ummat, membangun infrastruktur publik, dan hal-hal lain semacamnya dapat dikategorikan bernilai ibadah.

Para pendakwah, guru dan tokoh agama harus dibekali dengan pemahaman yang baik tentang profil kesalehan yang sempurna. Barulah setelah itu, profil haji mabrur yang benar dapat diajarkan dengan baik kepada masyarakat luas. Profil kemabruran haji yang lebih lengkap dan sempurna diharapkan mampu memberikan energi positif dalam rangka mengurai berbagai persoalan sosial-kemanusiaan yang masih membelit bangsa ini. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry