
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan bising, kemarahan seperti komoditas yang murah. Ia meletup di mana-mana di jalan raya, kantor, ruang keluarga, bahkan di kolom komentar media sosial. Ironisnya, banyak dari kita merasa wajib membalas setiap gelombang emosi dari luar dengan gelombang yang setara. Padahal, tidak semua api harus dibalas dengan api.
Oleh: Muhammad Ainur Rifqi
Ketika seseorang sedang marah kepada kita, kita sering kali ikut tenggelam dalam arus emosinya. Padahal, respons terbaik kadang justru dengan diam sejenak, mendengar intisari kebenaran jika ada dan membiarkan sisanya kembali kepada pemiliknya.
Ada kisah sederhana tentang seorang ayah yang mengajak anaknya berteriak di lereng gunung. Ketika sang anak melontarkan kata-kata baik, kebaikan pula yang kembali. “Begitulah hidup,” kata si ayah. Apa yang keluar dari diri kita adalah cerminan kualitas batin, dan pada akhirnya kembali kepada kita.
Namun dalam hidup modern, banyak orang meleburkan diri dengan hal-hal di luar dirinya: mobil penyok dianggap sama dengan hati yang penyok, wajah orang cemberut dianggap sebagai ancaman personal. Kita lupa bahwa yang seharusnya kita jaga adalah batas detachment yang membuat kita tidak mudah terseret ombak emosi orang lain.
Detachment bukan dingin. Ia adalah kecakapan mengatur emosi, memastikan bahwa dirilah yang mengendalikan emosi, bukan sebaliknya.
“Wajah Penjual Itu Urusan Dia”
Kisah dua mahasiswa di bazar buku menguatkan pelajaran itu. Yang satu pulang tanpa membawa apa-apa karena penjualnya cemberut. Temannya menegur: “Wajah penjual adalah urusan dia. Urusanmu mencari buku. Mengapa hatimu ikut cemberut?”
Begitulah kita hari ini: sedikit saja tersenggol ego seseorang, emosi pribadi langsung pecah berantakan.
Sains dan Tradisi yang Bertemu
Psikologi modern menyebut kemampuan ini sebagai the intentional pause: jeda singkat yang mengaktifkan korteks prefrontal pusat logika dan penilaian untuk menahan reaksi spontan sistem limbik. Latihan jeda ini membangun jalur saraf baru. Dalam bahasa sederhana: kita memprogram ulang otak agar tidak menjadi budak stimulus luar.
Dalam Islam, pondasinya sudah sangat kuat. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa seseorang dapat mencaci kedua orang tuanya sendiri karena ia memaki orang tua orang lain hingga dibalas. Logika sebab-akibat emosi itu juga ditegaskan Al-Qur’an: “Jangan memaki sesembahan mereka… nanti mereka memaki Allah tanpa ilmu.” (QS. Al-An‘ām: 108). Pesannya jelas: jangan memantik kemarahan yang efek baliknya merusak ruang bersama.
Dari Krisis Individu ke Krisis Bangsa
Krisis detachment ini akhirnya merembes ke politik dan ruang publik. Di media sosial, algoritma hidup dari panen kemarahan. Semakin keras kita bereaksi, semakin tinggi keuntungan pihak tertentu. Echo chamber kemarahan membuat setiap kelompok merasa wajib menyerang, membalas, mengunggah, memaki.
Fenomena kriminalitas dan kekerasan yang meningkat tidak melulu soal ekonomi atau pendidikan. Ini adalah krisis budaya pengendalian diri. Bangsa ini semakin mudah tersulut. Satu komentar pedas dibalas dua kali lebih pedas. Kritik dianggap serangan personal yang tak terampuni.
Kita seperti berdiri di antara tebing-tebing emosi, berteriak tanpa jeda, dan gema kemarahan itu kembali kepada kita dalam bentuk konflik, luka sosial, dan polarisasi yang menganga.
Saatnya Belajar Jeda
Meredam kemarahan bukan soal menjadi “orang baik” yang pasif. Ini soal kedewasaan personal dan sosial. Detachment adalah kebijaksanaan untuk tidak membiarkan orang lain memegang kendali atas batin kita. Ia adalah bentuk tertinggi dari kemerdekaan diri.
Dan seperti gema di gunung itu, apa yang kita suarakan kata-kata, emosi, tindakan akan kembali kepada kita cepat atau lambat. Jika kita menyebarkan kemarahan, kemarahan pula yang kembali. Jika kita memilih kebaikan, maka kebaikan pula yang pulang ke pangkuan kita.
Bangsa ini butuh jeda. Butuh detachment. Butuh pengendalian diri. Sebelum gema itu berubah menjadi badai yang tak lagi bisa kita hentikan.
Penulis : Muhammad Ainur Rifqi, Dosen Ma’had Aly Darul Ulum.






































