“Apa NU masih bisa diharapkan menjadi solusi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang acakadut ini bro?
Oleh: Choirul Anam*

PIDATO Gus Mus cukup menenteramkan batin muktamirin. Ada secercah solusi, meski belum sampai pada tataran praktis. Pada intinya, beliau menasehatkan, bahwa  pemilihan Rais Aam adalah domain kiai. Para kiai yang menjabat Rais Syuriyah PC/PW NU akan memilih Rais Aam sebagai pimpinannya.

Silahkan bermusyawarah untuk mufakat. Jika tidak, bisa dicapai kesepakatan, ambillah keputusan dengan cara pemungutan suara atau voting. Itu  AD/ART kita. Nah, pertanyaannya dalam forum apa Ahwa bisa divoting?

Sidang Pleno Tatib sudah tiga kali macet. Pimpinan sidang tak ingin mengambil keputusan dengan cara voting. Jika kemudian Rais Aam membuka peluang untuk melakukan pemungutan suara, lalu forum apa yang representatif untuk keperluan itu. Pleno Tatib pun sudah buntu, sidang komisi sudah ada aturan mainnya, apa perlu dibuatkan komisi khusus? Solusi teknis inilah yang belum/tidak disinggung Gus Mus dalam pidatonya.

Akhirnya, panitia mengambil langkah membelah sidang komisi organisasi. Berdasar nasehat Rais Aam itu. Dalam aturan, sidang komisi diikuti peserta dari unsur Tanfidziyah (bukan kiai) maupun unsur Syuriyah (kiai). Guna menyelesaikan perbedaan pandang soal pemilihan Rais Aam, maka sidang komisi organisasi (kali ini) dibagi menjadi dua Sub Komisi: Komisi  Tanfidziyah dan  Komisi Khusus Syuriyah. Sidang berlangsung di Pondok Denanyar pada Selasa pagi (4 Agustus 2015) pukul 09.00 wib.

Sebelum sidang dibuka tepat waktu, panitia mengadakan  screening—penyaringan—super ketat. Terkesan baik memang, tetapi yang terjadi justru penolakan terhadap beberapa Rais Syuriyah yang terlambat. Dan anehnya, meski ditolak masuk karena sedikit terlambat, ternyata dalam ruang sidang sudah banyak calon pengganti, Sejumlah Rais Syuriyah “abal-abal” (dari oknum partai maupun ormas pemuda) itu, telah disiapkan panitia sebagai pengganti yang terlambat. Mereka tidak saling kenal, namun membawa misi sama: setuju Ahwa bikinan panitia/PBNU.

Hal itu terungkap jelas, ketika seorang politisi (diduga bukan dari PKB) memarahi seorang oknum (diduga kiai) dengan kata-kata kasar. Sang oknum dianggap tidak becus membawa misi. Kejadian aneh  itu lalu membuat banyak peserta menduga-duga bahwa, kemarahan sang politisi yang demikian kasar dan arogan itu, mungkin saja, karena yang dimarahi bukan kiai. Tapi berpakaian ala kiai, guna mengganti rais syuriyah yang dilarang masuk karena terlambat tadi.

Orang (kiai) yang kena marah tadi, dianggap oleh sang politisi tidak sukses  membawa misi karena, faktanya, penolak Ahwa semakin militan dan menjadi-jadi. Atau, mungkin juga kiai beneran, tapi tak ada yang mengenali. Kalau benar kiai, berarti sang politisi su’ul adab dong? Berani memarahi kiai sekasar itu? Ya…mungkin, karena sudah terlanjur keluar banyak, tapi hasilnya belum pasti. Begitulah dugaan para kiai.

Meski sudah banyak peran pengganti, sidang Komisi Khusus Syuriyah ini masih saja berjalan alot dan memakan waktu sekitar 12 jam. Dimulai pukul 09.00 wib dan baru berakhir  pukul 21.00 wib. Alotnya persidangan disebabkan masing-masing peserta mempertahankan pendapatnya. Vis a vis antara pesarta setuju Ahwa dan yang tidak setuju Ahwa. Suasana tegang dan hampir terjadi baku-hantam tak terhindarkan, ketika syuriyah NU Papua tiba-tiba usul: minta diberlakukan sistem NOKEN, khusus bagi 30 suara NU Papua.

NOKEN adalah sistem pemungutan suara aklamasi yang diwakili seorang kepala adat. Dan itu hanya dikenal di masyarakat adat Papua. Tidak dikenal sama sekali di daerah lain di seluruh Indonesia. Lagi pula, sejak berdirinya NU sampai dengan saat ini, tidak mengenal sistem demokrasi NOKEN. Juga tidak pernah ada tulisan NOKEN baik dalam PO (Peraturan Organisasi) maupun  dalam AD/ART NU. Tapi kenapa tiba-tiba ada usul nyeleneh dan langsung digedog setuju pimpinan sidang?

Itulah cara tipuan terakhir panitia muktamar guna memuluskan sistem Ahwa yang telah disiapkan sejak pra-muktamar. Dan kenapa panitia yang didominasi politisi dan kaum libaralis itu, berani menghalalkan segala cara hanya untuk menerapkan sistem Ahwa? Loh, ada kepentingan lebih besar bro!

Bagi politisi (apalagi yang berbau liberalisme, sekularisme dan diabolisme)  perbuatan munkar semacam itu dianggap biasa, lumrah. Bagi nahdliyin memang durhaka, haram, dosa dan melanggar syara’. Bagi politisi, menipu, curang, melakukan pemaksaan dan kekerasan, itu semua halal, asal bisa menang, atau bisa mempertahankan kekuasaan.

Dan benar! Sidang Komisi Khusus Syuriyah berakhir dengan voting dan khusus NU Papua menggunakan NOKEN—diwakili seorang kepala adat dengan mengantongi 30 suara (terdiri 29 PC dan 1 PW NU Papua).

Padahal Rois Syuriyah PWNU Papua yang asli mengaku tidak tahu siapa dan asal dari mana si kepala adat yang mewakilinya itu. Putusan hasil voting: 253 SETUJU AHWA dan 235 TIDAK SETUJU. Sedangkan 9 suara dinyatakan rusak dan abstain.

Jelas sekali, kemenangan tipis (18 suara)  pihak SETUJU AHWA karena disokong NOKEN  NU Papua. Tapi secara moral dan akhlak nahdliyin pemenangnya adalah pihak yang TIDAK  SETUJU AHWA. Apa perlu digelar forum Bahtsul Masail bro?

Belum saatnya! Karena, masih ada sidang pleno pemilihan Rais Aam yang, menurut jadwal, akan dilangsungkan pada Rabu pagi (5 Agustus 2015) pukul 09.00 wib. Hasil voting setuju Ahwa itu dasar hukum atau aturan mainnya. Sedangkan siapa-aiapa 9 orang Ahwa-nya, masih harus dilakukan pemilihan dalam sidang pleno.

Muktamirin pun mulai mamadati ruang sidang pleno di Alun-Alun. Agenda pertama pembacaan hasil sidang komisi melalui jubir masing-masing. Namun, karena agenda pertama ini baru selesai menjelang zuhur, maka sidang diskors untuk makan dan shalat. Habis shalat sidang dilanjutkan lagi.

Muktamrin bergegas menuju ruang sidang. Kali ini setting ruang sidang berubah. Para Rais Syuriyah (kiai) ditempatkan di deretan tempat kusus. Sedang Tanfidziyah duduk berderetan di kanan kirinya. Ketika sidang dibuka, ternyata bukan pemilihan 9 angogta Ahwa. Melainkan pembacaan hasil rekapitulasi Ahwa yang sudah jadi.

Ternyata, panitia telah merangking sendiri (secara tertutup) 9 (sembilan) anggota Ahwa, berdasar pada formulir yang telah diisi peserta saat pendaftaran. Padahal, saat pendaftaran yang kacau itu, banyak sekali  peserta yang tidak melakukan pengisian formulir Ahwa. Karena, selain tidak ada aturannya dan Tatib pun belum dibahas, juga kenapa mesti dipaksa mengisi 9 nama dan harus diambil dari 39 nama yang sudah ditetapkan panitia. Karena itu, mereka tetap berharap, dan lazimnya memang seperti itu, dapat melakukan pengisian 9 nama Ahwa dalam sidang pleno pemilihan.

Tetapi, karena pemilihan ditiadakan, maka mereka siap menjadi saksi bahwa muktamar Jombang benar telah merampas hak-hak dasar peserta. Hak pilih atau hak suara dirampas, hak berbicara diberangus karena LPJ tanpa PU, hak menjadi peserta muktamar dipasung karena banyak peserta kamuflase. Dan yang paling fatal, adalah hak berdemokrasi serta kewajiban menjaga tegaknya aturan AD/ART, ternyata diserobot sitem NOKEN NU Papua.

Komposisi sembilan Ahwa bikinan panitia sesuai urutan tertinggi perolehan suara adalah: KH. Ma;ruf Amin, Jakarta (333 suara), KH. Nawawi Abdul Djalil, Pasuruan (302 suara), KH. Tuan Guru Turmudzi Badrudin, NTB (298 suara), KH. Cholilurraham, Kalsel (273 suara), KH. Dimyati Rais, Jawa Tengah (236 suara), KH. Syah Ali Akbar Marbun, Sumatera Utara (186 suara), KH. Maktum Hanan, Jawa Barat (162 suara), KH. Maemun Zubair, Sarang (156 suara), dan KH. Mas Subadar, Pasuruan (135 suara).

Karena urutan tertinggi perolehan suara adalah KH, Ma’ruf Amin, maka sidang pleno tanpa pemilihan itu, menetapkan KH. Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2015-2020. Dan setelah itu, seperti sudah diduga sebelumnya, KH. SAS tetap perkasa menpertahan gelar sebagai Ketua Umum.

Beberapa waktu setelah menduduki jabatan tertinggi NU, Kiai Ma’ruf pernah bercerita mengenai keterpilhannya. Dengan ketulusan hati seorang ulama, beliau mengatakan: “Saya terpilih menjadi Rais Aam itu “ min ghairu la yahtasib”—tidak dalam perhitungan siapa pun.

Pendeknya, terpilihnya Kiai Ma’ruf Amin itu merupakan janji Allah SWT bagi hamba yang bertakwa. Wow dalam proses pemilihan yang acakadut itu bro? Padahal, tukang merangking Ahwa yang belakangan diketahui berprofesi sebagai politsi, telah mengakui diperintah boss untuk menempatkan Kiai Ma’ruf Amin pada rangking teratas. Nah, lo!

Berbeda dengan Kiai SAS. Ketum dua perode ini mengakui terus terang bahwa dia menang karena memang curang. Kalau tidak curang, kagak bakalan bisa menang. Jika Gus Mus menangis, sedih melihat muktamar penuh kecurangan dan kegaduhan, Kiai SAS justru sebaliknya. Dia tampak berbinar dan bergembira. Di hadapan pengurus JQH di kantor PBNU, Kiai SAS mengatakan:” Lebih baik menang meskipun curang, dari pada kalah tapi kemudian menjelek-jelekkan.” (SYAHADAH KESAKSIAN MUKTAMAR; Muhasabah: Ihtiar Memulihkan Martabat NU; Buku Putih tentang Muktamar Hitam, Forum Lintas Wilayah NU).

Dari gestur respon tiga ulama penanggungjawab muktamar Alun-Alun itu, ternyata, memiliki kesan berbeda. Kiai Ma’ruf lebih memaknai sebagai suratan takdir. Gus Mus merasa bersalah, menyesal dan mohon dimaafkan. Sedangkan Kiai SAS justru berbinar-binar kesenangan. Sama dengan penampakan kaum liberal dan politisi, yang kemudian mengendalikan dan mendominasi PBNU produk muktamar Jombang. Apa NU masih bisa diharapkan menjadi solusi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang acakadut ini bro? (bersambung).

Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry