“Suasana sidang semakin panas. Ungkapan-ungkapan kasar bermunculan ke arah pimpinan sidang yang terkesan mengulur waktu. Mengapa tidak dlakukan voting? Karena, pimpinan tahu persis jika divoting, pasti dimenangkan peserta yang menolak Ahwa.”

Oleh: Choirul Anam*

KARENA pada awal permulaan sudah diwarnai kegaduhan, kekerasan dan pemaksaan, maka agenda selanjutnya tentu semakin kacau dan berjalan di luar nalar, nilai maupun tradisi nahdliyin. Pembahasan Tatib misalnya, sampai mengalami tiga kali dead lock hanya karena panitia  memaksakan penggunaan AHWA.

Sidang pleno pembacaan LPJ apalagi. Sarat dengan rekayasa. Sidang yang dimulai Senin malam (3 Agustus 2015) sekitar pukul 20.00 wib itu, sudah dipenuhi peserta (kamuflase sebagai peninjau) yang terdiri sejumlah besar kader PKB dan Banser. Peserta yang dicurigai akan mengkritisi dan menolak LPJ, sudah dipetakan dan ditandai tempatnya. Microphone yang biasanya tersedia di setiap koridor, sudah tidak terlihat lagi. Hanya Banser dan peserta kamuflase yang boleh pegang mic. Inilah cara licik panitia muktamar yang digawangi politsi. Sehingga muktamar kiai disulap menjadi mirip kongres partai.

Dan benar! Begitu LPJ selesai dibacakan Kiai SAS, pimpinan sidang (Marsudi Syuhud) langsung angkat palu sambil berteriak “setuju…bisa diterima..? Peserta kamuflase pun  berteriak bersama sekeras-kerasnya setujuuuu….sah…diterima dog…dog…dog”. Selesailah sidang LPJ tanpa PU. Beberapa peserta kritis yang ingin menyampaikan pandangan umum, langsung digeruduk peserta kamuflase dan Banser hingga tak berkutik. Tapi kegaduhan semakin memuncak, bahkan terjadi adu jotos, karena peserta merasa dipasung hak bicaranya.

Untuk menenangkan suasana, pimpinan sidang Marsudi berjanji akan memberikan kesempatan pemandangan umum esok hari. Tapi janji Marsudi itu, sebenarnya hanya strategi untuk menipu diri. Karena esok hari, pemandangan umum tak pernah terjadi. Karena itu, banyak peserta lantas menuduh PBNU ketakutan dikoreksi. Karena, selama lima tahun perjalanannya, justru banyak melakukan cacat organisasi.

Mereka siap mengoreksi, agar PBNU memberi penjelasan secara rinci. Sejumlah peserta memberi bukti kasus yang akan disoroti, Salah satunya adalah, tanah milik NU Batam seluas lima hektar yang raib di tangan oknum PBNU. Juga janji-janji Ketum PBNU akan selalu menghadiri undangan PC/PW NU, ternyata janji tinggal janji. Dan paling serius, adalah MoU Kiai SAS dengan Universtas Iran di Qom,  akan diminta penjelasan untuk diadili. Tetapi sayang, muktamar tidak berdemokrasi. LPJ tanpa PU dianggap sukses memasung hak peserta sambil cekika-cekiki.

Kembali pada tontonan pleno pembahasan Tatib (Tata Tertib) yang sempat dead lock. Padahal Tatib ini mestinya harus selesai lebih dulu, karena akan membimbing atau dijadikan acuan dasar bagi semua agenda muktamar. Menurut jadwal, Pleno Tatib dibuka setelah pembukaan muktamar oleh Presiden Jokowi (Sabtu malam), yakni pada Ahad pagi (2 Agustus 2015) pukul 10.00 wib. Tetapi karena ruang sidang masih berantakan, belum ada pengaturan kursi meja dan papan zona wilayah layaknya sidang pleno, maka  sidang Tatib baru bisa dimulai sehabis shalat zuhur.

Sidang yang dipimpin Slamet Efendy Yusuf (Allahu yarham) itu, pada awalnya berjalan lancar. Pasal demi pasal dilalui dengan cepat tanpa banyak instrupsi. Namun, ketika sampai pada Bab VII Pasal 19 tentang tata cara pemilhan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, pembahasan mendadak terhenti. Pasalnya, sebagian besar peserta (sekitar 65% dari sekitar 500 peserta muktamar) menolak pemberlakuan sistem Ahwa untuk pemilihan Rais Aam. Sisanya, sekitar 35% setuju saja Ahwa apapun bentuknya.

Perdebatan antar peserta setuju Ahwa dan yang tidak setuju, semakin seru dan panas. Menurut AD/ART, jika pembahasan suatu masalah tidak dapat dicapai kesepakatan dalam permusyawaratan, maka diberlakukan dengan cara pengambilan suara atau voting. Banyak peserta yang mengusulkan voting. Tapi pimpinan sidang rupanya ingin terlihat demokratis. Sehingga, menjelang maghrib, sidang diskors untuk shalat. Habis shalat Isya’ sidang dibuka kembali. Tambah ruwet, ruwet dan ruwet.

Suasana sidang semakin panas. Ungkapan-ungkapan kasar bermunculan ke arah pimpinan sidang yang terkesan mengulur waktu. Mengapa tidak dlakukan voting? Karena, pimpinan tahu persis jika divoting, pasti dimenangkan peserta yang menolak Ahwa. Dan jika itu terjadi, Slamet Efendy pasti dipecat, atau (minimal) diganti. Karena itu, lebih afdol diulur-ulur sambil menunggu skenario B untuk memenangkan Ahwa, yang sedang dibahas panita. Meski dengan resiko pimpinan sidang diserang habis peserta.

Baru setelah ada kode aman sekitar pukul 23.00, pimpinan sidang menyatakan sidang diskors. Dan kemudian di luar persidangan, Slamet Efendy Yusuf, mengumumkan keputusan Pasal 19 tentang sistem pemlihan Rais Aam dan Ketua Umum, akan dikonsultasikan kepada para sesepuh NU.

Senin pagi (3 Agustus 2015), muktamirin lalu-lalang di Alun-Alun karena belum ada agenda jelas. Semua menunggu hasil rapat konsultasi PBNU bersama Rais Syuriyah PWNU yang dilakukan di Pendopo Kabupaten Jombang, dan baru berakhir pada pukul 13.00 wib. Dalam rapat konsultasi tersebut, para Rais Syuriyah Wilayah diminta menerima sistem Ahwa yang tertera pada Pasal 19. Namun karena para Rais Syuriyah menolak dengan berbagai argumen yang dibenarkan AD/ART, maka rapat konsultasi tidak menghasilkan kesepakatan apa pun. Dan akhirnya, keputusan dikembalikan kepada sidang pleno lagi.

Namun, sebelum sidang pleno dimulai, terlebih dulu mendengarkan pidato Rais Aam, KH. Mustafa Bisri. Tentu bukan pembacaan puisi. Namun, keprihatinan Gus Mus cukup menggambarkan betapa buruknya pelaksanaan muktamar Jombang. Dengan nada sedih, beliau mengungkapkan keperihatinannya sbb: “Ketika saya ikuti persidangan-persidangan yang sudah lalu, saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktek-praktek tak terpuji dari pihak lain, ternyata digambarkan di media massa begitu buruk.

Saya malu kepada Allah, malu kepada KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri dan para pendahulu kita yang mengajarkan kita akhlakul karimah. Lebih-lebih menyakitkan lagi, ketika pagi-pagi tadi saya disodori koran yang headlinenya “Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadyah Teduh” La haula wala quwwata illa billah.

Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, dan mohon syafaat Nabi besar junjungan kita Muhammad SAW.

Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH.Sahal Mahfudz, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini, saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya.

Tolong dengarkanlah saya sebagai pemimpin tertinggi Anda. Mohon dengarkan saya, dengan hormat. Kalau perlu saya akan mencium kaki-kaki Anda semua agar mengikuti akhlakul karimah, akhlak KH. Hasyim Asy’ari dan pendahulu kita.

Saya panggil kiai sepuh, rata-rata mereka prihatin semua, prihatin yang sangat mendalam. Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan, apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepaskan semua, dan memikirkan Allah dan pendiri kita.

Jadi, setelah mempelajari situasinya di sini, maka para kiai yang berkumpul sampai tadi siang, di samping keprihatinan juga mengusulkan beberapa poin yang perlu dijadikan pedoman pembahasan selanjutnya.

Cuma sedikit yang kita sepakati untuk solusi agar tidak sama dengan Senayan.

Pertama, apabila ada pasal yang belum dsepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Aam, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rais Syuriyah.

Kalau nanti Anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kiai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tidak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Aam, maka kiai-kiai akan memilih pemimpin kiai.

Dan Tata Tertib yang sudah disepakati perlu segera dilakukan. Kalau ini Anda tetap tidak terima, maka saya yang terima, karena saya hanya Mustafa Bisri, saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kiai Sahal. Kalau tidak, lepaskan saya saja.

Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam.

Saya sejak kemarin belum tidur, bukan apa-apa, karena memikirkan Anda Anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan Anda, maafkanlah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan Anda sudi memaafkan saya.” (*) (bersambung)

*Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah), dan Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry