“…KKNU ‘26 menyimpulkan, bahwa pada dekade terakhir kepemimpinan NU berada di tangan Kiai SAS telah menyimpang jauh dari khitthah NU.”

Oleh: Choirul Anam*

BANYAK pernyataan Kiai SAS yang sulit dimengerti jika dikaitkan dengan jabatannya sebagai pimpinan puncak (Ketua Umum) PBNU. Warga NU pun sulit memilah dan memisah antara kepentingan pribadi dan keperluan NU. Pada umumnya mereka memahami Kiai SAS adalah NU, dan NU adalah Kiai SAS. Sehingga, apa saja yang dikemukakan dan ditampilkan Kiai SAS, dianggap personifikasi NU.

Akhir-akhir ini, banyak sekali penampilan dan pernyataan Kiai SAS yang tersimpan dalam jejak digital (baik yang berupa video, meme maupun pemberitaan online), sulit dipahami dan bahkan meresahkan warga NU. Contoh, misalnya, ketika suhu politik DKI Jakarta mulai memanas terkait Pilgub 2017, dan mayoritas rakyat DKI Jakarta menghendaki tampilnya pemimpin (Cagub-Cawagub) yang santun,  bersih, berkualitas dan pro-rakyat.

Bukan pemimpin temperamental, suka marah-marah di depan umum, suka bergaya bersih karena terlindungi, dan bahkan berani melecehkan kitab suci agama Islam. Maka, di saat semangat mencari figur pemimpin yang tepat itu memuncak, dan menggelora dalam berbagai pertemuan komunitas warga DKI Jakarta, tiba-tiba Kiai SAS tampil dengan tegar dan tegas mengatakan: ”Lebih baik pemimpin kafir yang adil, dari pada pemimpin muslim yang lalim.” Coba!

Ketika parpol baru bermunculan bak cendawan di musim hujan menjelang Pemilu serentak 2019. Para petinggi parpol pun dengan piawai mengemas aneka macam platform seolah berpihak kepada rakyat. Lalu kemudian mulai mengatur siasat mendekati pimpinan ormas keagamaan, Kiai SAS pun langsung memuji-muji parpol baru Perindo setinggi langit. “Visi misi Perindo Hary Tanoesoedibjo sama dengan visi misi Rasulullah SAW”. Apa hubungannya Perindo dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW bro!

Lalu, ketika masyarakat ramai membicarakan kemungkinan bangkitnya KGB (Komunis Gaya Baru) atas sponsor Tiongkok. Dan petugas gabungan TNI-Polri-Kejaksaan di beberapa daerah misalnya, di Jawa Timur, Jawaa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera, mulai melakukan sweeping dan menyita beberapa brosur, majalah dan buku-buku berpaham komunis di banyak toko buku. Juga banyaknya angkatan kader partai (terutama dari PDI-P) yang dikirim ke Tiongkok guna latihan kader bersama PKC (Partai Komunis Cina), apa kata Kiai SAS: “Cina  bukan komunis. Yang komunis itu justru Arab.” Luar biasa kiai kita satu ini.

Masih ada satu lagi. Ketika investor Cina disambut dengan perlakuan khusus oleh rezim berkuasa. Digelarkan karpet merah agar kaki mereka tidak terkena debu. Diberikan kemudahan khusus untuk tanam modal di Indonesia. Lalu disusul dengan keharusan memasukkan ribuan TKA Cina secara bergelombang. Tempat kerjanya pun eksklusif, bahkan dibebaskan mengibarkan bendera Cina sesuka hati—seperti di negeri sendiri RRC.

Rakyat pun mulai curiga. Karena mengalirnya TKA Cina diduga disusupi pula personil tentara merah. Sepertinya ada motif politik terselubung dengan menggunakan mantel tenaga kerja. Banyak pengamat lalu mengaitkan dengan pertistiwa terusirnya penduduk pribumi dengan membanjirnya TKA Cina seperti Singapura, dan negara-negara lain yang tersandera utang Cina.

Rakyat pun berteriak: menolak TKA Cina masuk Indonesia. Aksi protes terjadi di mana-mana. Tapi pemerintah tetap saja membuka pintu selebar-lebarnya. Bahkan di musim pandemi Covid-19 yang jelas-jelas berasal dari CIna, pemerintah tetap saja mempersilahkan mereka masuk berleha-leha. Lalu bagaimana Kiai SAS melihat ini semua: “Jangan ganggu Cina, karena politik Cina itu sama dengan NU.” Wow…rupanya ada aspirasi NU Cabang Beijing ‘kale.

Beberapa pernyataan KIai SAS dalam berbagai konteks peristiwa kerakyatan dan keummatan itu, tentu saja sulit dimengerti nahdliyin. Bahkan mungkin tidak ada yang paham apa maksud dan tujuan Kiai SAS mengeluarkan pernyataan seperti itu. Sama seperti ketika Kiai SAS menerima amplop coklat dari Burhanuddin, Ketua PCNU Kota Medan, pekan terakhir Agustus 2020 lalu. Tidak ada yang tahu apa isinya. Warga NU hanya menduga-duga berisi sejumah uang, atau mungkin justru Kartanu spesial yang belum di ttd Kiai SAS.

Yang sudah jelas adalah, video itu kelewat viral di hampir seluruh grup WA. Sehingga cenderung menjadi fitnah. “Enggak apa-apa, biarin saja, saya difitnah itu biasa,” kata Kiai SAS kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (24/8/2020), ketika diminta tanggapan viralnya video amplop coklat.

Kejadian sebenarnya, Kiai SAS menolak keras ketika disodori amplop tebal. Tapi karena Burhan memaksa dan menyebutnya untuk pondok, maka dengan terpaksa diterima. Ketika disinggung tindak lanjut dugaan fitnah melalui jalur hukum, Kiai SAS belum memastikan. “Terserah anak-anak saya. Ada Banser dan Pagar Nusa,” tandasnya.

Pendekar Pagar Nusa, Muhammad Nabil Harun, tengah mempertimbangkan menempuh jalur hukum bila beredarnya video amplop itu mengandung unsur fitnah. “Kami akan mempertimbangkan langkah-langkah hukum jika  nanti dirasa perlu,” katanya kepada RMOL.

Terlepas dari amplop coklat. Banyak hal yang disampaikan Kiai SAS baik menyangkut soal akidah, politik maupun sosial budaya, terutama dalam hal toleransi beragama, yang berpotensi fitnah jika tidak ada klarifikasi atau penjelasan yang semestinya. Bahkan bisa menimbulkan kegelisahan dan keresahan bukan hanya di kalangan elite NU saja, melainkan juga bsa menimbulkan ketidak-percayaan umat nahdliyin sampai ke tingkat paling bawah.

Banyak kiai pengasuh pondok pesantren mufaraqah—memisahkan diri—menjadi makmum PBNU, adalah fakta riel yang tidak boleh dilihat sebelah mata. Pun keresahan nahdliyin telah menggumpal bak air bah. Jika tidak segera dibuatkan kanal, pasti akan meluber ke mana-mana. Itulah sebabnya, wajar sekali jika kemudian lahir NU GL (Garis lurus) bagi mewadahi luberan keresahan nahdliyin.

Seperti diketahui bersama, NU GL yang digawangi kiai muda Gus Luthfi Bashori dan Gus Idrus Romli, telah menjadi jujugan setiap warga NU terkait berbagai penyimpangan yang terjadi dalam tubuh jam’iyah ulama tersebut.

“Penyimpangan di tubuh NU itu, tidak hanya dirasakan dan disaksikan oleh elite NU saja. Tapi umat di bawah rata-rata sudah merasakan dan meresahkannya. Penyimpangan bukan hanya pada bidang politik dan budaya saja, tapi sudah menukik pada wilayah akidah. Ini sangat berbahaya,” tegas Gus Idrus di depan para dzurriyah Muassis NU, habaib dan  para kiai yang tergabung dalam KKNU‘26 dalam halaqah yang berlangsung di Pesantren Nurul Qadim, Probolinggo, Ahad (5/7/2020) seperti diberitakan duta.co.

Gus Idrus Romli lantas bercerita bahwa banyak kawan PCI NU (luar negeri) yang menyatakan sepaham dengan NU GL. “Bahkan beberapa bulan lalu, saya didatangi tamu menceritakan hasil surveinya. Sekitar 40% lebih warga NU mengikuti NU GL. Itu hasil survei sembilan bulan lalu. Sekarang, nahdliyin yang kecewa kepada PBNU dan jajaran struktural NU ke bawah, sudah di atas 50%. Ini yang melakukan survei bukan orang atau lembaga sembarangan. Tapi orang dan lembaga profesional dan kredibel,” tutur Gus Idrus.

Lebih dari itu, masih kata Gus Idrus, kepercayaan dan kecintaan nahdliyin kepada NU struktural, kian hai semakin menipis. Bahkan dari hasil dialognya dengan beberapa aktivis NU di berbagai daerah, kepercayaan mereka  kepada NU struktural sudah nyaris habis. “Hampir semua daerah di Jawa maupun luar Jawa sudah saya datangi. Saya fokus pada konsep teologi atau ideologi NU agar warga nahdliyin tidak terpengaruh Wahabi, Syi’ah dan Islam liberal.” kata Gus Idrus Romli.

Hasilnya? “Kongkrit. Rata-rata nahdliyin tidak lagi mencintai NU struktural lantaran banyaknya penyimpangan. Bahkan kalau diukur dari kitab-kitab karya hadratus syaikh KH. Hasyim Asy’ari—Bapak Pendiri NU—penyimpangan akidah yang terjadi saat ini, sudah pada tingkat stadium murtad,” pungkas Gus Idrus.

Tidak berhenti hanya sampai NU Garis Lurus. KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) semasa hidupnya, juga merintis berdirinya organsasi yang bisa mengawasi dan mengingatkan NU struktural jika terjadi penyimpangan khitthah NU. Para dzurriyah muassis—anak keturunan pendiri—NU baik genetis maupun ideologis, kemudian menggelar halaqah di Tebuireng pada 24 Oktober 2018. Melalui halaqah inilah disepakati berdirinya perkumpulan Komite Khitthah Nahdlatul Ulama 1926 disingkat KKNU ’26.

Setelah mengkaji secara mendalam (hingga 14 kali halaqah) mengenai perjalanan NU, baik sebelum, saat pelaksanaan maupun pasca muktamar NU ke-33 di Alun-Alun Jombang, KKNU ‘26 menyimpulkan, bahwa pada dekade terakhir kepemimpinan NU berada di tangan Kiai SAS telah menyimpang jauh dari khitthah NU. Penyimpangan itu setidaknya terjadi pada tiga bidang atau sektor. Yakni penyimpangan di bidang ideologi atau paham, di bidang politik dan di sektor pengelolaan organsasi NU sebagai Jam’iyah Diniyah Ijtima’iyah.

Namun karena suratan takdir, pada hari Ahad, tanggal 2 Februari 2020, sekitar pukul 20.00, yang viral dengan angka 02.02.2020, Gus Solah berpulang ke Rahmatullah. Sehingga kepemimpinan KKNU’26 saat ini beralih kepada Prof. Dr. Rahmat Wahab (Ketua) dan Gus Sholahul Aam Wahib (sebagai sekretaris). Keduanya adalah dzurriyah dari al-maghfurlah KH. Abdul Wahab Hasbullah. Terkait tindak penyimpangan itu, Prof. Rahmat memberikan kategori sebagai penyimpangan berat (bersambung).

*Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry