Dari kiri: Bingky Irawan, Virdi, Cak Anam dan Dr Suhermanto. (FT/mky)

“Jika pidato Kiai SAS itu benar adanya, berarti benar pula tuduhan santer yang selama ini dialamatkan kepada Kiai SAS sebagai pembuka jalan bagi berkembangnya Syi’ah di Indonesia.”

Oleh: Choirul Anam*

PERTANYAAN tentang kitab suci semua agama (nilainya) sama, belum terjawab. Tapi sudah keburu beredar buku Kiai SAS bertajuk: “Tasawuf sebagai kritik sosial, Mengedepankan Islam sebagai inspirasi bukan aspirasi”.

Dalam buku  itu, terdapat penjelasan bahwa Allah SWT (dalam Al-Qur’an) kerap mengulang seruan: “ya aiyuhalladziina amanu” sebanyak 70 kali. Sebaliknya, seruan: “ya aiyuhalladzina aslamu” tidak satupun ditemukan(?). Begitu pula, satu di antara asma Allah yang berjumlah 99 adalah “Al-Mukmin” bukan “Al-Muslim”. Yang ada justru “As-Salam”—Mahadamai.

Setelah membaca buku Kiai SAS, banyak pengurus NU terperangah dan terkagum-kagum. Kejeniusan Kiai SAS meneliti seruan Allah SWT dalam al-Qur’an terkesan hebat. Seruan hanya ditujukan kepada orang yang beriman, bukan orang yang berislam. Luar biasa dahsyat kiai kita satu ini bro!.

Dalam bertoleransi yang terpenting adalah keimanan, bukan keislaman. Pantesan sekarang banyak warga NU salat tarawih di gereja, tahlilan, marhabanan, yasinan dan shalawatan bersama di vihara. Dipadu dengan jogetan pula. Mungkin saja, pertunjukan toleransi campur-aduk yang kini marak  dan berseliweran di medsos itu, berdasar pada buku karya Kiai SAS.

Memang, Kiai SAS kemudian menyimpulkan bahwa Allah Robbul ‘Alamin mengajarkan kepada manusia untuk menjadi umat inklusif. Toleran dan terbuka. Dan hakekat keimanan mencakup berbagai kepercayaan. Keimanan lebih inklusif dari keislaman.

Umat beriman bukan monopoli umat Islam. Yahudi, Kristen, Shabi-in, Budha, Hindu, Konghucu dan kepercayaan lainnya, adalah umat beriman. Sepanjang dalam keyakinan mereka itu terselip butir-butir keimanan kepada Allah, Tuhan, Sang Hyang Widi atau apapun namanya.

Inklusif dalam banyak kamus berarti “termuat, termasuk, terhitung dan tercantum di dalamnya”.  Menurut Kiai SAS: Allah SWT mengajarkan manusia menjadi umat inklusif, berarti semua umat beragama hakekatnya sama dalam keimanan. Karena keimanan mencakup berbagai kepercayaan. Bukan monopoli umat Islam. Keimanan lebih inklusif dari keislaman.

Buktinya dalam al-Qur’an tidak ditemukan satu pun seruan: ”ya aiyuhalladzina aslamu”. Luar biasa jeniusnya Ketum PBNU ashabul qoror ini. Rupanya sudah “maqam” Rais Aam di muktamar mendatang. Karena sudah menyaingi Nabi SAW dalam hal menjelaskan isi dan kandungan al-Qur’an.

Kalau misalnya kata “Islam” tidak dijumpai di dalam al-Qur’an(?), atau dalam bahasa Kiai SAS “tidak ditemukan satu pun” seruan: ya aiyuhalladzina aslamu”, lalu kenapa Nabi SAW mengatakan: “al-Islamu ‘alaniyah, wal imanu fil qalbi”. Bukankah al-hadits merupakan tuntunan praktis al-Qur’an bro?

Banyak sekali Nabi SAW menjelaskan persoalan keimanan maupun keislaman. Dan sumber utama ajaran Islam itu al-Qur’an dan al-Hadits. Jangan karena otaknya tidak menjangkau, lalu dibilang “tidak satu pun ditemukan”. Nabi SAW juga menyebut: “al-Islamu ya’luu wala yu’laa”. Ditambah lagi: “khairu al-muslimina (al-muslimu) man salima al-muslimuna min lisanihi wayadihi”—sebaik-baik orang Islam adalah orang Islam yang selamat dari (kejahatan) lidah dan tangannya.

“Jadi Kiai SAS itu bukan jenius bro! Itulah cara berfikir diabolisme, liberalisme dan sekularisme,”kata seorang tokoh NU yang mengaku lama mengikuti dan mencermati jejak langkah Kiai SAS. Ia pun berpesan: NU harus hati-hati, terutama para kiai pengasuh pesantren, karena organsasi para ulama ini sudah dihuni banyak kaum liberal dan politisi.

Ia juga memberikan satu contoh lagi tentang Kiai SAS yang “dituduh” Syi’ah. Para ulama muassis—pendiri NU—sejak dari awal mengajarkan nahdliyin  menjauhi Syi’ah. Tapi belakangan ini (konon kabarnya) Kiai SAS menanda-tangani MoU dengan Universitas Al-Musthafa ‘Alamiyah Iran, di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan, di Qom pada 27 Oktober 2011. Tanpa sepengetahuan Rais Aam waktu itu KH MA Sahal Mahfud.

Lalu diperkuat lagi dengan pidato Kiai SAS di depan kaum Syi’ah dalam peringatan Asyura. Pidato menekankan pentingnya menghidupkan “tragedi Karbala” sekaligus terkesan merendahkan NU.

Potongan video pidato Kiai SAS itu, tersebar luas dan tak pernah ada bantahan. Isi pidato, antara lain, begini: ”…mari kita pertahankan, yaitu ihya-i asyura, ihya-i arba’in, ihya-i syuhada-i Karbala…. Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa, maklum belum mengerti. Kita do’akan saja “Allahummahdihim fainnahum la ya’lamun”. Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam, warga Nahdliyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti tentang apa yaumul asyuro…yaumul arba’in…dst”.

Jika pidato Kiai SAS itu benar adanya, berarti benar pula tuduhan santer yang selama ini dialamatkan kepada Kiai SAS sebagai pembuka jalan bagi berkembangnya Syi’ah di Indonesia. Dan kini, dikabarkan ada sekitar 7.000 mahasiswa Indonesia (termasuk kader NU) yang belajar Syi’ah di Iran. Apakah itu termasuk buah pemberian beasiswa yang dikelola PBNU—sebagaimana diberitakan NU Online— atau bukan? Wallahu a’lam.

Yang terang, ada pihak yang mencermati bahwa sejak awal—sejak kepulangannya dari Unversitas Ummul Qura Makkah—Kiai SAS sudah mengkritik keras konsep teologi NU dan meragukan kesahihan hadis “iftiraqul ummah“ yang menyebut adanya “firqatun najiyah”.

Tapi setelah mendapat gempuran keras dari banyak ulama pesantren, Kiai SAS tiba-tiba meralat pendapatnya. Bahkan kemudian  memuji-muji konsep teologi NU sudah benar, lurus dan tawasuth (pertengahan). Rupanya, sikap meralat itu hanya untuk taktik sebagaimana pepatah Arab “khalif tu’raf” (bersikap bedalah, maka kamu akan dikenal).

Dan setelah dikenal, terpilih-lah Kiai SAS sebagai Ketum PBNU dalam muktamar ke-32 yang diduga sarat money politics. Dan berhasil menyingkirkan rivalnya, KH Salahuddin Wahid (Allah yarham), yang didukung penuh sejumlah ulama sepuh.

Setelah menduduki puncak kepemimpinan NU, warna asli Kiai SAS mulai terbuka dari jejak digital yang banyak dikeluhkan nahdliyin. Bahkan ada yang menuduh Kiai SAS dan kawan-kawan liberalnya, telah membelokkan  Aswaja kearah Mu’tazilah dan Syi’ah. Pembelokan itu diduga kuat dengan cara “memanipulasi” sanad keilmuan hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan dasar-dasar paham keagamaan NU, serta rujukan kitab dari Aswaja ke Mu’tazlah (KKNU’26: Hilmy, Kesimpulan Tebuireng: Pembelokan Aswaja, Maret 2020).

Selain mengubah jati diri NU menjadi Ashabul Qoror, memaknai dan menerapkan khitthah NU secara Mutaghaiyirah. Memotong/membelokkan sanad keilmuan para ulama Aswaja ke arah Mu’tazilah dan Syi’ah. Kemudian menggerakkan program aktivitas beserta banomnya (terutama Ansor Banser) yang (diduga kuat) berbau titipan agenda islamophobia. Masih juga ada lagi tampilan-tampilan dan statement oknum elite petinggi NU yang sulit dipahami kalangan nahdliyin.

Kini hampir semua struktur formal NU berparas parpol, kecuali yang masih berpegang teguh pada khitthah nahdliyah. Terutama PW/PC NU yang pimpinan puncaknya kebetulan ASN dan/atau kader partai (terutama dari PKB), pasti hari-hari gini (menjelang Pemilukada serentak) sibuk berebut kekuasaan dan jabatan. Fenomena ini rupanya sengaja dibangun dan diskenario oleh oknum elite petingginya. Tujuannya, tiada lain untuk menjadikan NU sebagai modal guna berebut kekuasaan dan meninggikan derajat kepartaian (terutama PKB).

Contoh kasus, tengoklah apa yang terjadi pada kesibukan NU Jawa Tmur menjelang Pemilukada serentak musim pandemi 2020 ini. Hari-hari menghadapi serangan Covid-19 gini, PCNU Surabaya justru saling serang dengan kawan sendiri. Bukan karena berebut mempertahankan tegaknya khitthah NU, melainkan lebih pada beda kepentingan mendukung pasangan Cawali Kota Surabaya.

Ketika ditelusuri kenapa sampai tega-teganya menjadikan perkumpulan ulama untuk berebut kepentingan di luar jati diri NU? Jawabnya sederhana: meniru yang di atas.  Ibarat ikan membusuk, pasti dimulai dari kepalanya. PWNU sendiri, hari-hari gini, juga sibuk membai’at Cakada di beberapa kabupten /kota di Jawa Timur. Terutama Cakada (Calon Kepala Daerah) yang diusung PKB.

Sampai-sampai, ada seorang intelektual muda NU yang ingin berkhidmat dalam suasana sejuk, mengurungkan niatnya. Ia lalu menulis buku (belum terbit-red) berjudul: “Rais Aam Putar Haluan, NU Jadi Anak Perusahaan PKB”.  Nah, jadi, setelah ditelusuri, PWNU Jatim sendiri taqlid kepada yang diatas, yakni PBNU ashabul qoror.

Loh…Rais Aam kan sudah putar haluan. Sudah menjadi RI 2 berkat ashabul qoror. Apa PBNU masih juga berorientasi merebut kekuasaan? Atau berebut kepentingan lain guna memenuhi kebutuhan sementara bro? Tentu bukan NU-nya, sekali lagi bukan NU-nya. Tapi oknum-oknum elite petingginya.

Marilah kita simak beberapa pernyataan Kiai SAS belakangan ini. Apakah menggambarkan kepentingan NU, kepentinan warga nahdliyin, atau justru untuk kepentingan diri dan koleganya? (bersambung).

*Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa   Timur.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry