
(Pelajaran Berharga Studi Peradaban ke Jepang Bersama PERSEMKI)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif*
INDONESIA sedang memasuki fase demografi baru. Jumlah penduduk lansia terus meningkat, sementara sistem pelayanan kesehatan dan sosial masih lebih fokus pada layanan ibu dan anak. Tidak salah, bahkan sangat penting. Namun ada satu kelompok yang secara perlahan justru semakin rentan, yakni para orang tua yang telah memasuki usia senja. Mereka adalah generasi yang telah menanam, tetapi kini sering kali tidak menikmati hasil panen kasih sayang dari generasi setelahnya.
Padahal, dalam perspektif Islam, berbakti kepada orang tua, terutama ketika mereka telah memasuki usia lanjut, bukan sekadar etika sosial, melainkan perintah langsung dari Al-Qur’an, teladan Rasulullah SAW, serta tradisi agung para sahabat dan orang-orang saleh.
*Perintah Al-Qur’an: Birrul Walidain Setelah Tauhid*
Al-Qur’an menempatkan kewajiban berbakti kepada orang tua dalam posisi yang sangat tinggi, bahkan sering disandingkan langsung dengan perintah tauhid.
Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu dari keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali engkau mengatakan ‘ah’ kepada mereka, jangan membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23)
Ayat ini mengandung pesan sangat dalam. Allah tidak hanya memerintahkan berbuat baik kepada orang tua, tetapi secara khusus menegaskan kondisi ketika mereka telah lanjut usia. Pada fase inilah orang tua sering mengalami penurunan fisik, perubahan emosi, bahkan ketergantungan total kepada anak. Islam justru menempatkan fase ini sebagai momentum tertinggi pengabdian anak kepada orang tua.
Bahkan dalam ayat berikutnya Allah mengajarkan doa khusus:
وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.” (QS. Al-Isra: 24)
Ayat ini menegaskan bahwa merawat lansia sejatinya adalah bentuk pengembalian cinta masa kecil yang dahulu tanpa syarat diberikan oleh orang tua.
Teladan Nabi: Jalan Menuju Surga Ada pada Ridha Orang Tua
Rasulullah SAW menjadikan berbakti kepada orang tua sebagai salah satu amal paling utama. Ketika seorang sahabat bertanya tentang amal yang paling dicintai Allah, Nabi menjawab:
“Shalat pada waktunya.” Sahabat bertanya lagi: “Kemudian apa?” Nabi menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain Rasulullah memberikan peringatan keras:
“Celaka, celaka, celaka.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang celaka wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya telah lanjut usia, tetapi ia tidak masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)
Hadis ini bukan sekadar motivasi spiritual, melainkan peringatan moral bahwa keberadaan orang tua lansia sebenarnya adalah pintu surga yang terbuka. Mengabaikannya berarti menutup kesempatan keselamatan diri sendiri.
*Teladan Para Sahabat dan Orang Saleh*
Para sahabat Nabi menunjukkan standar pengabdian yang luar biasa. Abdullah bin Umar RA dikenal sangat berhati-hati terhadap ibunya. Ia pernah menolak memutus perjalanan hanya karena ibunya menginginkan sesuatu yang tampak sederhana. Ia memahami bahwa ridha ibu bukan sekadar kewajiban moral, tetapi jalan keselamatan spiritual.
Dalam tradisi ulama salaf, Imam Abu Hanifah dikenal tidak pernah meninggikan suara di hadapan ibunya. Bahkan beliau rela meninggalkan perdebatan ilmiah jika hal itu berpotensi membuat ibunya tidak nyaman.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa melayani orang tua termasuk bentuk ibadah sosial tertinggi, karena di dalamnya terkandung pengorbanan, kesabaran, dan kerendahan hati sekaligus.
*Layanan Ramah Lansia: Manifestasi Birrul Walidain dalam Peradaban Modern*
Dalam konteks kekinian, berbakti kepada orang tua tidak cukup hanya dalam bentuk penghormatan personal, tetapi harus berkembang menjadi sistem sosial dan pelayanan publik yang ramah lansia.
Fenomena modern menunjukkan banyak lansia mengalami:
– Penyakit degeneratif kronis
– Kesepian sosial
– Ketergantungan ekonomi
– Gangguan kesehatan mental
Minimnya sistem pelayanan terpadu
Padahal Islam memandang masyarakat sebagai satu tubuh. Rasulullah bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)
Lansia yang terlantar sejatinya adalah indikator melemahnya solidaritas sosial sebuah bangsa.
Pengembangan layanan kesehatan geriatri, panti lansia berbasis kasih sayang, home care lansia, hingga integrasi pelayanan kesehatan dan spiritualitas bukan hanya program teknokratis, tetapi bagian dari pengamalan nilai Qur’ani dalam skala peradaban.
Belajar dari Tradisi Jepang dan Spirit Filial Piety
Beberapa negara seperti Jepang telah lama mengembangkan sistem penghormatan lansia sebagai nilai budaya nasional. Dalam tradisi Islam, konsep ini sebenarnya telah jauh lebih dahulu dikenal melalui konsep birrul walidain. Pertemuan antara pendekatan profesional modern dan nilai spiritual Islam berpotensi melahirkan model pelayanan lansia yang bukan hanya efektif secara medis, tetapi juga bermakna secara kemanusiaan.
Kontemplasi: Lansia Adalah Cermin Masa Depan Kita Sendiri
Merawat lansia sesungguhnya bukan hanya kewajiban generasi muda kepada generasi tua. Ia adalah investasi moral bagi masa depan manusia sendiri. Setiap anak sejatinya sedang menulis bagaimana kelak ia akan diperlakukan ketika memasuki usia senja.
Allah SWT berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman: 60)
Jika sebuah bangsa ingin dikenal sebagai bangsa yang beradab, maka ukuran utamanya bukan hanya kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi bagaimana bangsa tersebut memperlakukan orang tua dan lansianya.
Karena pada akhirnya, peradaban yang besar bukanlah peradaban yang hanya membangun gedung tinggi, tetapi peradaban yang mampu merendahkan hati untuk memegang tangan orang tua yang mulai rapuh.
#Persemki
#BerkarakterBerkaryaMendunia
#BencmarkJepang
#PeradabanAgung
#RamahLansia





































