SURABAYA | duta.co – Jelang akhir masa jabatan, Wagub Jatim Saifullah Yusuf mengaku kurang puas dengan hasil kerja memimpin Jatim saat mendampingi Gubernur Jatim Soekarwo.

Alasannya, selama dua periode memimpin provinsi ujung timur di Pulau Jawa tidak memiliki legacy (sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan memiliki dampak jangka panjang) yang bisa dikenang dan mampu memberi manfaat dikemudian hari bagi masyarakat Jatim.

“Semua penghargaan yang didapat Gubernur Jatim Soekarwo selama 10 tahun memimpin Jatim adalah normatif karena posisi Jatim memang diuntungkan dari segi geografis dan ekonomis sehingga wajar dan memang selayaknya mendapatkan penghargaan itu,” ujar Gus Ipul sapaan akrab Saifullah Yusuf saat silaturrahim dengan pimpinan media di Jatim, di Surabaya, Senin (28/1/2019).

Ia mengakui dan bersyukur selama kepemimpinan Pakde Karwo sapaan akrab Soekarwo banyak kemajuan yang didapat Jatim. Namun yang disesali mereka berdua tidak memiliki legacy sehingga punya warisan dan memiliki dampak jangka panjang pada masyarakat luas.

Padahal gubernur lain di Indonesia bisa melakukan itu, seperti Gubernur Alex Nurdin membuat stadion Jakabaring, Gubernur DKI Jakarta Jokowi membuat MRT.

Menurut Gus Ipul, gagasan pembangunan monumental sebenarnya sudah dirancang tapi tak kunjung terealisasi.

“Dulu kami pernah bercita-cita bikin rumah sakit setara RS dr Soetomo di wilayah Madura karena masyarakat di daerah itu jauh tertinggal dibanding kabupaten/kota lain di Jatim,” jelasnya.

Dari situ, ujarnya, kemudian membuat semacam Islamic Center di Bangkalan yang isinya ada museum tentang Madura dan masjid yang mercusuar seperti di Dubai sehingga bisa menjadi destinasi wisata yang bisa dikunjungi siapapun, ungkapnya.

Sayangnya, yang dikejar Gubernur Jatim hanyalah penghargaan yang normatif padahal tanpa ada gubernur sekalipun, Jatim jelas maju dibanding provinsi lain sebab banyak instansi pusat, seperti TNI, Polisi dan Kejaksaan yang berkantor di Jatim sehingga alokasi angaran dari pusat juga besar dan bisa menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi.

“Saya tak bangga dengan ratusan penghargaan yang diraih Pemprov Jatim karena tak ada yang istimewa, sebab itu hanya bersifat normatif. Apalagi di era kepemimpinan saya dan Pakde Karwo banyak kepala daerah yang ditangkap KPK, itu dapat diartikan Gubernur gagal membina bupati/walikota di Jatim,” tegas Gus Ipul.

Pertimbangan lainnya, banyak kepala daerah di Jatim yang berprestasi. Sepeti Kota Surabaya ada Tri Rismaharini yang banyak meninggalkan legacy. Kemudian juga Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang banyak membikin legacy sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat hingga sekarang.

“Kalau banyak bupati dan walikota di Jatim bisa membuat legacy seperti itu tentu Jatim akan tambah maju lagi,” dalih Gus Ipul

Ia menyadari selama mendampingi Pakde Karwo memimpin Jatim jarang mendapat kritik sehingga Gubernur menjadi sedikit manja.

“Saya berharap Gubernur Jatim mendatang Khofifah paling tidak, bisa lebih baik,” harap pria yang juga ketua PBNU ini.

Diantara persoalan yang perlu mendapat perhatian Gubernur Jatim mendatang, kata Gus Ipul adalah masalah lapangan kerja sebab setiap tahun tidak kurang ada 300 ribu lulusan SMA/SMK yang membutuhkan pekerjaan.

Bahkan lulusan SMA dapat kerja juga tak nyambung jadi pramusaji dan SPBU meskipun itu baik.

Begitu juga kaum petani juga terhitung bekerja dan masuk dalam hitungan BPS tapi penghasilan mereka sangat minim dikisaran 300 ribu perbulan sehingga dikategorikan miskin.

“Itulah yang menyebabkan angka kemiskinan di Jatim masih tinggi. Ini persoalan yang serius dihadapi Jatim ke depan, sekaligus otokritik dari saya, makanya saya ingin Gubernur Khofifah bisa melakukan akselerasi,” pinta Gus Ipul.

Yang menarik, mantan Cagub Jatim ini juga membebarkan bahwa dirinya kalah di Pilgub Jatim itu karena sengaja dikalahkan. Bahkan banyak bukti yang dimiliki sejak awal yang bisa dibaca tapi Gus Ipul membiarkan karena itu sudah masa lalu yang tak baik untuk diungkap.

“Pertama, saya menggandeng PDIP maju di Pilgub Jatim dan berharap dukungan dengan presiden, tapi ternyata harapan itu tak terpenuhi, sehingga benteng presiden jebol. Padahal PDIP sudah berusaha meminta Jokowi mempertahankan Khofifah sebagai Mensos,” jelas Gus Ipul.

Kemudian kedua, penggantinya Mensos jangan sampai dari orang-orang yang bisa menghancurkan perjuangan kami.

“Walaupun sempat disepakati tapi akhirnya jebol juga,” kelakar Gus Ipul.

Di tengah-tengah persoalan itu ada masalah dengan Abdullah Azwar Anas yang menjadi bagian dinamika politik di detik-detik terakhir jelang pendaftaran.

Tapi yang lebih serius adalah dari awal memang sudah dirancang langkah politik untuk memenangkan Khofifah melalui program PKH yang jumlahnya 1,5 juga kepala keluarga dikawal oleh 7 ribu pendamping selama 3 tahun secara berkesinambungan.

“Bayangan saya waktu itu bisa dihadang oleh Gubernur Soekarwo. Tapi ironisnya, gubernur Jatim malah ikut memperkuat program dengan nilai anggaran mencapai 5 triliun pertahun,” ungkapnya.

Yang menjadi pertanyan kenapa Pak Gubernur ikut. Padahal awalnya memang Pakde Karwo mendukung dirinya, tapi jelang detik-detik penentuan calon wakil gubernur, Pak SBY (Ketum Partai Demokrat) memaksa minta jatah wakil gubernur padahal awalnya sudah sepakat itu jatahnya PDIP dengan kompensasi ini itu.

Janjinya Omong Kosong

Bahkan SBY mengancam lagi akan ikut mendukung Khofifah jika tak diberi jatah Wagub. Jadi komitmen awal itu dilanggar, akhirnya kami tidak bisa memenuhi permintaan SBY.

“Orang tak pernah tahu sebenarnya saya ini dikerjai, sebab sebelum berpasangan lagi dengan Pakde Karwo diperiode kedua, SBY dan Pakde Karwo juga pernah berjanji akan mengatur segala macam, itu juga omong kosong. Pakde Karwo yang tandatangan di atas kertas mau bantu pencalonan gubernur berikutnya disaksikan kiai-kiai juga omong kosong semua,” katanya dengan nada kesal.

Bukan hanya program PKH di Kemensos, Kementerian Agama, Kementerian Perindustrian hingga BUMN-BUMN juga ikut membantu pihak lawan. Jadi paling tidak ada 6 instansi kementerian yang membantu Khofifah, makanya sehari setelah pengumuman Emil sebagai wakil Khofifah, kami tahu kami akan dikerjai dan kalah.

“Itulah pernak-pernik Pilgub Jatim lalu dan sudah saya sampaikan ke Pak Presiden Jokowi. Jadi saya kalah itu karena dikalahkan dan saya tidak mempermasalahkan karena itu bagian dari pertarungan politik. Dan buat saya dinamika seperti itu sudah biasa karena pernah menjadi menteri dan direshufle dan menjadi wakil gubernur dikhianati dua kali,” beber Gus Ipul.

“Kalau dengan lain-lain saya sih oke tak ada masalah termasuk dengan Bu Khofifah saya tidak ada masalah karena ini realita dan pertarungan, tapi kalau soal pribadi dengan Pakde Karwo terlalu,” tegas mantan Ketum PP GP Ansor ini. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.