Tim Lazisnu Jombang saat brangkat ke Aceh.

JOMBANG | duta.co – Tidak semua duka bisa dijelaskan dengan angka, data, atau laporan resmi. Ada luka yang hanya bisa dipahami ketika kaki benar-benar menjejak lumpur, dan mata bertemu langsung dengan wajah-wajah lelah yang kehilangan segalanya. Itulah kesan pertama yang dirasakan Neng Santi Zaki, Ketua LAZISNU Jombang, saat berada di lokasi bencana banjir Aceh Tamiang.

“Bukan menarik, tapi menyedihkan,” ucapnya lirih, Jumat (9/1), menuturkan pengalamannya kepada duta.co melalui pesan WhatsApp.

Neng Santi berangkat ke Aceh Tamiang sejak Rabu (7/1/2026) bersama tim kecil relawan NU Peduli asal Jombang yang tergabung dalam relawan LAZISNU PWNU Jawa Timur. Mereka datang dari lintas badan otonom dan lembaga NU dua orang dari LAZISNU, satu dari LP Ma’arif NU, dan satu dari PCNU Jombang.

Tim tersebut terdiri dari Neng Santi Zaki dan Luluk Mu’rifah (LAZISNU), Muhammad Ridwan (PCNU Jombang), serta Zainal dari LP Ma’arif NU. Kehadiran mereka bukan semata membawa bantuan logistik, tetapi juga menjadi saksi bagaimana warga bertahan di tengah keterbatasan yang nyaris melumpuhkan seluruh sendi kehidupan.

“Sedihnya nggak bisa diucapkan dengan kata-kata,” tutur Neng Santi.

Saat memberikan bantuan secara simbolis PCNU Jombang ke PCNU Tamiang Aceh.

Ia menggambarkan rumah-rumah yang terendam, harta benda yang hanyut, serta aktivitas warga yang berhenti seketika. Banyak keluarga hanya bisa pasrah, menunggu bantuan sambil berharap air segera surut dan kehidupan perlahan kembali normal.

Di Posko NU Peduli Aceh Tamiang, para relawan bekerja bahu membahu menyalurkan bantuan, mendata kebutuhan mendesak, sekaligus memberi penguatan moral bagi para penyintas. Anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi kelompok yang paling merasakan dampak banjir, baik secara fisik maupun psikologis.

“Melihat langsung ke lokasi membuat hati ini seperti diremas,” ujarnya.

(Baju merah) Kyai Musthafa Rais, syuriah Aceh Tamiang, bersama tim relawan PCNU Jombang.

Bagi para relawan, bencana ini bukan sekadar berita atau laporan harian. Ia menjelma menjadi wajah-wajah letih yang tetap bertahan demi keluarga. Atas nama kemanusiaan, ke-Nahdliyyin-an, dan kebangsaan, mereka rela meninggalkan keluarga serta pekerjaan untuk hadir di tengah saudara sebangsa yang sedang diuji musibah alam.

Rencananya, tim relawan NU Peduli dari Jombang akan berada di Aceh Tamiang hingga akhir pekan. “InsyaAllah Minggu kita pulang,” kata Neng Santi.

Sebelum kembali, mereka dijadwalkan melakukan rapat evaluasi guna memastikan seluruh amanah bantuan tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran. Di tengah duka Aceh Tamiang, kehadiran relawan NU menjadi penanda bahwa solidaritas umat masih hidup. Dari Jombang hingga Tanah Rencong, kepedulian menjelma doa, tenaga, dan pengabdian menguatkan mereka yang sedang diuji. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry