KEDIRI | duta.co -Pembangunan exit tol dan bandara di wilayah Kabupaten Kediri segera dilaksanakan, tentunya memberikan dampak bagi Kota Kediri. Merespon hal tersebut, Pemerintah Kota Kediri mempersiapkan beberapa langkah agar nantinya siap.

Salah satu dampak yang timbul kemacetan mengingat Kota Kediri pusat dari daerah di sekitarnya. Untuk itu, pemerintah kota menggelar Kediri Infrastructure Discussion dengan tema “Menyongsong Jalan Tol dan Bandara untuk Masa Depan Transportasi di Kota Kediri”, Kamis (10/01/2018) di Warunk Upnormal.

Narasumber Dr. Ir. Ibnu Sasongko, Pakar Tata Ruang dari ITN Malang, Achmad Wicaksono, Ph.D Pakar Transportasi dari Universitas Brawijaya dan Fauzul Rizal, MT kandidat doktor dari Cornel University, New York.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar memaparkan upaya yang dilakukan pemerintah kota dalam menjawab hal tersebut. Posisi Kota Kediri sebagai pusat perdagangan dan jasa menjadikan kendaraan dari luar kota banyak yang beraktivitas di Kota Kediri.

Selain itu, Kota Kediri juga memiliki pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang bagus. Serta Kota Kediri menjadi pusat pendidikan, jasa dan perdagangan bagi daerah sekitar.

“Kota Kediri sebagai hub menjadikan kota ini semakin padat. Pada pagi hari orang yang beredar di Kota Kediri mencapai dua juta padahal penduduk di Kota Kediri sekitar tiga ratus ribu,” ungkapnya.

Pemerintah Kota Kediri juga melakukan pendekatan relasi pembangunan pusat kota dan pinggiran. “Kita ingin mewujudkan keserasian dan keseimbangan antara kawasan pusat dengan pinggiran. Salah satu langkah yang kita ambil adalah membuat layanan di kelurahan menjadi online. Jadi pelayanan bisa diakses di mana saja,” ujar pria akrab disapa Mas Abu.

Sementara dalam pola pengelolaan sektor transportasi terdapat tiga pola. Pertama pola membangun sistem, yakni dengan membentuk sistem yang terencana, menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan sesuai tata ruang dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Kedua, pola kolaborasi pendanaan, mengkolaborasikan sumber-sumber pendanaan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dengan APBD Kota dalam rangka meningkatkan pelayanan sektor transportasi.

Ketiga, pola pemberdayaan masyarakat, pembangunan dan pengembangan sektor transportasi dilakukan dengan memberdayakan komunitas dan para pemangku kepentingan. Sementara untuk mengurai kemacetan, Mas Abu menjelaskan pemerintah kota merumuskan beberapa langkah diantaranya ring road dalam kota, Jembatan Brawijaya, implementasi teknologi informasi serta revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Kediri.

“Kita sudah merencanakan membangun ring road dalam kota namun ini harus lintas daerah dan lembaga. Yang telah kita wujudkan adalah  pembangunan jembatan Brawijaya dan ATCS di Dinas Perhubungan Kota Kediri. Kita juga lakukan revisi RT RW untuk membuat jalan baru agar kemacetan di daerah Mrican terurai,” jelasnya.

Wali Kota mengungkapkan banyak masukan yang diberikan kepada Pemerintah Kota Kediri untuk transportasi dan kemacetan yang akan terjadi di Kota Kediri. Diskusi tidak hanya intern pemda namun juga melibatkan pakar dan instansi terkait lainnya.

“Ini diskusi pertama yang kita lakukan ke depan akan kita intensifkan. Dari masukan-masukan ini akan kita pilih mana yang mampu kita lakukan. Kita harus bersiap bila nanti bandara telah dibangun bagaimana kita mengatasi 1,5 juta orang dalam setahun yang menggunakan bandara ” pungkasnya.

Achmad Wicaksono mengungkapkan yang harus segera dilakukan Pemerintah Kota Kediri adalah pembuatan ring road dan angkutan umum masal. Selain itu, Pemerintah Kota Kediri segera mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk membuat master plan pengembangan transportasi wilayah Kediri Raya. “Sehingga bisa terpadu dan sinergi diantara wilayah kediri raya ini,” ujarnya. (nng)

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry