Oleh: Suparto Wijoyo*

TEPAT Sabtu 28 Februari 2026, Teheran terhentak dan dunia menjadi terperanjat. Israel dan Amerika Serikat bertindak brutal menyerang sebuah negara yang diajaknya untuk bernegosiasi. Tarik ulur masih tersaji tetapi Israel-USA bertindak keji. Dalam konteks ini semua kaedah hukum internasional telah diabaikan, norma diplomasi dinistakan, kemanusiaan dinjak-injak. Atas nama keangkuhanlah mereka menyerang dan demi ketertundukan sebuah bangsa, maka tindakan militer digencarkan. Iran membuat sorot mata dunia tertuju kepadanya. Kesanggupannya untuk melawan sebagai sebuah bangsa yang memiliki martabat tentu niscaya. Teheran memberikan kisah yang sangat perkasa serta duka yang menimpuk kemanusiaan internasional. Hari-hari berkabung dibentangkan dan tangisan rintih warga Iran menggema. Rakyat Republik Islam Iran menunjukkan kelamnya batin untuk tetap menyulang  ruhani kebangkitan dan memberikan balasan. Untaian doa dan luberan air mata mengalir mewarnai Bumi Persia.

Apa yang menimpa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Hosseini Khamenei mendebarkan hari-hari yang terusik isak anak-anak, orang dewasa dan lansia. Keteguhannya memimpin dan kharisma keteladannya, serta akhir hayat yang tertorehkan, semakin melengkapi kisah-kisah yang terus aktual di tanah Karbala. Sebagai perenungan di bulan Ramadhan ini saya hendak mengingat kembali bahwa saat ini para kolega minta dipintalkan kisahnya untuk menemani puasa mereka, di waktu Teheran digempur rudal.

Saya dengan tulisan ini pun sekadar memberi tanda kenang mengenai selembar hayat yang terkoyak di Tanah Karbala, yang di era modern ini terlukiskan di Teheran. Perihnya jiwa dan menghunjamnya luka   membawa “larung sesaji” ke ranah prahara di Karbala. Tentu pemaknaan ini  sekadar memanen hikmahnya dengan tautan jiwa yang terluka, hingga lahirlah desah kesedihan yang membuncah. Rentang waktunya amatlah jauh ke masa silam. Kisah peristiwa Karbala berkelambu  takdir yang menyulam Sayyidina Husain bin Ali untuk “berangkat lebih cepat” sebagai “Pemimpin Pemuda Surga” pada 10 Muharram 61 H yang melintas di jejak tanggal 9-10 Oktober 680 M. Ribuan pustaka dapat dirujuk dengan validasi sesuai “mazhab” penulisnya, dari yang klasik sampai yang terbit di abad 21 ini.

 

Tampak Ada Urainab binti Ishaq

Tumpahnya darah sesama insan yang berserumpun iman di Karbala membawa akibat yang terus dibisikkan “seperlirihan nasib” di keluarga Nabi Muhammad saw. Di Karbala jiwa raga Sayyidina Husain dihempaskan, jiwa raga  orang yang lahir dari rahim suci Bunda Sayyidah Fatimah Az-Zahra, pemandu wanita mulia di surga, anak kinasih Kanjeng Nabi Muhammad saw, istri Imam Ali, karamallhuwajha. Jiwa raga Sayyidina Husain “dipangkas” oleh muslim yang bernama Yazid, anak Muawiyah, turun Abu Sufyan dan Hindun. Ya Hindun tercatat laksana laku “sumanto” di tahun 3 H,  memakan jantung Hamzah bin Abdul-Muththalib yang berjuluk Singa Allah, Pemimpin Para Syuhada, yang terkena tombak Wahsy, suruhan Hindun dalam Perang Uhud. Dari sini umat dapat menyisir keislaman dari garis bobot-bibit-bebet Kanjeng Nabi Muhammad saw, dan yang “bermetamorfosis” dari darah Abu Sufyan-Hindun.

Kisah Karbala mengajak  ingatanku membaca ulang Risalah Asyura 10 Muharram karya KH Abdullah Bin Nuh yang syair-syairnya termuat kembali dalam karya Muhammad Syafii Antonio, Al-Ghazali Dari Indonesia, KH Abdullah Bin Nuh Ulama Sederhana Kelas Dunia (2015). Dari berpuluh-puluh buku tentang Karbala, yang paling mudah kuingat apa yang terekam di The Spirit of Islam (A History of The Evolution and Ideals of Islam) oleh Syed Ameer Ali (1978), bacaan waktu saya di Madrasah Tsanawiyah Lamongan maupun Al-Imamah wa As-Siyasah dari Ibnu Qutaibah (2009/2016), apalagi Shah kar-e Ofarinesy: The Masterpiece of Creation tulisan Abbas Syaikh Rais Kermani (2017). Orientasi para penulisnya memang memiliki “ruang ide” yang “sebersit”  dengan Ali Syariati, intelektual besar asal Iran yang namanya diabadikan melalui The Syariati Foundation and The Hamdani Publishers.

Sampai dan sesudah tahun 680 M itu, peristiwa Karbala mengguncangkan  jiwa setiap anak manusia untuk tertunduk  tak mampu beranjak hingga hidupnya terhimpit tanpa jarak dengan setiap butiran debu Karbala (Kerbela/Karbela). Sayyidina Husain memang tidak berkehendak  berbaiat melegitimasi kekuasaan Yazid bin Muawiyah menjadi “Khalifah” (679-683) hingga Yazid amatlah murka tanpa kendali dan memecut pasukan, meski rotasi di luar urusan Khalifah juga menyentuh titik-titik eksotisme wanita jelita yang memukau Putra Muawiyah ini, yaitu Urainab binti Ishaq. Ini kisah lain yang amat indah untuk dibaca.

 

Saksikanlah Senyum Bibir Itu

Sayyidina Husain menempuh jalan berkhidmat dengan pergi ke Kufa beserta keluarga dan  71 orang “peserta muhibbah”. Perjalanan dari Madinah menuju Kufa melintasi gurun Arab yang terik menyengat ditemani Abbas. Ketika mendekati Irak, suasana alamnya membersitkan kenyunyian yang menyayat dengan firasat adanya “operasi senyap”  pengkhianatan  Umayyah. Al-Husain bin Ali lantas menghentikan langkah dan memasang tenda tanda istirah sedang dipersiapkan tepat di wilayah Karbala, dekat tepi Barat sungai Furat. Firasat dan dugaan atas sergapan itu semakin menggetar memberi sinyal pada Sayyidina Husain dengan datangnya beribu-ribu pasukan Yazid yang mengepung dalam  komando Ubaidullah ibn-Ziyad yang berperangai bengis. Berhari-hari kema manusia yang pernah ditimang Rasulullah saw, bahkan main “kuda-kudaan” di punggung paling mulia, Rasulullah Muhammad saw. Aliran sungai Tigris yang terhubung diblokade hingga kemah keluarga itu tidak memiliki akses air bersih serta stok pangan semakin menipis sebelum akhirnya habis.

Penderitaan hidup di tengah tanah Padang Karbala tak tertanggungkan. Sayyidina Husain  menyodorkan tiga opsi yang terhormat dalam situasi yang sangat sulit itu, yaitu:  diizinkan kembali ke Madinah; atau ditugasi menjadi garnisun dan martil menghadapi musuh dari Turki; maupun siap dibawah menghadap Yazid. Terhadap ketiga pilihan itu, tentara Yazid tidak memberi toleransi  karena perintah “Sang Khalifah” sangat terang bahwa Husain dan pengikutnya “harus dibereskan” dimanapun mereka diketemukan. Pilihan yang disodorkan adalah perang, dan Sayyidina Husain meminta agar dalam perang itu cukup dirinyalah saja yang dibunuh, jangan membunuh wanita, anak-anak dan orang tua. Sayyidina Husain meminta sahabat-sahabatnya untuk “melarikan diri”. Cukuplah dirinya menghadapi kematian dalam kepungan ribuan pasukan bersenjata lengkap ini.

Dalam menghadapi kematian yang tidak terelakkan itu, karena takdir memiliki jalannya sendiri, semua pengikut Sayyidina Husain justru menyodorkan diri turut  mengarungi jalan surga, bahkan 30 pasukan Yazid  serta merta bergabung menjemput maut. Semua pasukan telah tamat, kini tinggal Sayyidina Husain seorang yang berlumur darah dan berbercak luka. Dalam kesempatan ini Sayyidina Husain merasa kehausan dan meminta untuk diperkenankan minum meski seteguk. Dalam luka yang mengoyak inilah, Sayyidina Husain merangkak ke tepian sungai untuk minum yang terakhir, tapi malang, pasukan Yazid mengusir dari tepi sungai dengan menembakkan anak panah, sampai Sayyidina Husain nglesot memasuki kemahnya dan mendekap jabang bayi yang diajaknya, dan bayi itu pun ditombak dengan geram oleh tentara Yazid.

Sayyidina Husain ke luar kemah dan hadirlah seorang wanita memberi secangkir air  minum. Tahukah  pembaca, tatkala cangkir itu diangkatnya dan menempel dibibir yang mana bibir Rasulullah saw pernah menciumnya, sebuah tombak pasukan Yazid ditusukkan ke mulut itu hingga tempus ke kerongkongannya; putra dan ponakannya terbunuh pula dalam pangkuan lelaki yang disabdakan menjadi pemimpin para pemuda di surga. Sayyidina Husain meski demikian tetap menengadahkan tangan berdoa untuk kebaikan umat dan dalam sekejap kepalanya dipenggal, tubuhnya diinjak dan diperlakukan dengan segala kekejian yang tidak masuk dalam ajaran peperangan model Rasulullah saw. Kepala Sayyidina Husain disaduki hingga diriwayatkan dari sinilah “olah raga sepak bola itu bermula” untuk selanjunya kepala ini ditusuk tombak dan di arak seperkilatan kisahnya laksana Hindun (nenek Yazid) memberlakukan Hamzah. Kepala Sayyidina Husain dipertontonkan disepanjang jalan menuju Kufa, dan Panglima Perang Ubaidillah itu memukul-mukul mulut penggalan kepala Sayyidina Husain. Dalam mengenang peristiwa ini ada orang tua yang turut berdesakan di jalanan yang mencekam dan meraungkan jerit duka waktu melihat arakan kepala Sayyidina Husain sambil mengacungkan telunjuknya: di bibir itulah aku melihat bibir Rasulullah saw.

 

Tragedi yang Diukir Sejarah

Kisah itulah yang diulang dan ditimang setiap saat hingga menimbulkan simpati yang membuncahkan “iman” sampai “pensucian tanah Karbala” oleh aliran tertentu. Disejarhkan itu niscaya, tapi menampilkan festival pendritaan bukanlah dianjurkan. Meski demikian, ini bukan soal “aliran itu” yang mengalirkan “keperihan kehidupan” tetapi “kelopak tabiat”  kekejian yang disematkan di rezim Yazid “sulit dilukiskan”. Salah prediksi dan pengambilan keputusan yang tidak presisif hingga “melanggengkan kesedihan” dari sejarah Islam. Walaupun soal ini sendiri terus menjadi diskusi akademik mengenai kesahihannya. Ada pihak yang meragukan dan menafikannya dengan sebutan sebagai “dongen” belaka, tapi ingatlah implikasi dongeng yang “mengorek duka” itulah yang sesungguhnya perlu dicarikan solusi. Dan para “penikmati kisah Tanah Karbala” yang telah berikhtiar merakit “kenangan realitas duka” menjadi “perekat hati” kewilayahan adalah tindakan mulia meski terhadapnya ada yang merasa “ditinggalkan”, belum tahu nikmatnya sebuah perkenangan.

 

Tak Usah Mengilmiahkan Kisah

Terhadap kisah ini ada yang nyeletuk   bahwa soal  itu tidak layak dibincang secara ilmiah atau sains dapat mengenali ghirahnya. Inilah uniknya, orang selalu berpikir dengan mengira semua yang ada itu harus ilmiah. Bukankah khalayak akademisi sudah biasa melakukan diskusi-diskusi yang mengkualifikasi sesuatu sebagai leganda dan yang satu ilmiah model  Archie J. Bahm waktu menulis buku  What is Science? Dia  berupaya untuk memberikan penguasaan intelektual tentang ilmu secara substantif dengan mengetengahkan enam komponen dasar “sesuatu” yang dinamakan “ilmu”, yaitu: masalah, sikap, metode, aktivitas, simpulan dan efek.

Tetapi tetaplah sadar bahwa sikap mengetengahkan ukuran keilmiahan tanpa menjadikan keenam komponen secara kumulatif sebagai kriteria baku, semakin meneguhkan perspektif filsafat ilmu bahwa tidaklah ada jawaban tunggal yang tersepakati tentang apa yang menjadi karakteristik ilmu,   sehingga A.F. Chalmers  perlu bersuara: “… Ia menyangka bahwa ada suatu kategori ‘ilmu’ dan menganggap berbagai macam bidang pengetahuan, fisika, biologi, sejarah, sosiologi, dsb. harus termasuk kategori-kategori itu atau tidak. Saya tidak tahu bagaimana karakterisasi umum tentang ilmu demikian dapat dikukuhkan atau dibela. Para filusuf tidak mempunyai jalan keluar yang bisa mensahkan suatu kriteria yang harus dipenuhi untuk menilai apakah suatu bidang pengetahuan dapat diterima atau dianggap ‘ilmiah’ …”.

Dengan demikian, A.F. Chalmers telah mendeskripsikan adanya problema kolosal bagi filsafat ilmu dalam menghadapi “klaim” kondusif dalam memproyeksikan kriteria ilmu. Ia menyatakan: “bahwa tidak ada konsepsi tentang ilmu yang abadi dan universal. Hal ini berarti bahwa: Setiap bidang pengetahuan dapat dianalisis sebagaimana apa adanya. Artinya, kita dapat menyelidiki apa tujuannya, yang mungkin berbeda dengan tujuan yang diperkirakan secara umum. Dan kita dapat menyelidiki cara-cara yang digunakannya untuk sampai pada tujuan itu dan derajat keberhasilannya yang telah dicapainya”.

Maka Jujun S. Suraisumantri berujar: Setiap bentuk buah pemikiran manusia dapat dikembalikan pada dasar-dasar ontologi, epistimologi, dan aksiologi dari pemikiran yang bersangkutan. Analisis kefilsafatan ditinjau dari tiga landasan ini akan membawa kita kepada hakekat buah pemikiran tersebut. Demikian juga  mempelajari ilmu ditinjau dari titik tolak yang sama untuk mendapatkan gambaran yang sedalam-dalamnya. Dari itulah saya senantiasa mengulang-ulang pandangan A.F. Chalmers bahwa: “setiap bidang pengetahuan dapat dianalisis sebagaimana apa adanya”. Apalagi Paul Feyerabend telah menandaskan: ilmu tidak mempunyai segi-segi istimewa yang dapat menyatakan dirinya mempunyai keunggulan secara hakekat terhadap cabang-cabang pengetahuan lain seperti mitos purba atau voodoo”.

Akhirnya di saat Ramadhan menggenapkan perjalananya memasuki episode 10 hari kedua, sungguh maghfirahlah yang hendak kita rengkuh. Helatan yang ada di Teheran mari menjadi instrumen untuk mengheningkan  jiwa,  mengelanakan diri di rimba ilmu yang tetap menyeliakan ruang misteri sambil menyelami hidup semakna bunyi gamelan: nang ning nung neng gung. Hidup tak henti oleh tragedi dan kisah selalu terceritakan sepanjang ada nafas yang menghantarnya. Teguhlah dalam iman. Puasa Ramadhan 1447 H ini membisikkan kebangkitan tersendiri bagi umat Isalam untuk terus merapatkan kekuatannya. Semangatlah selalu.

*Suparto Wijoyo adalah Guru Besar Hukum Lingkungan dan Wakil Direktur III  Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Bidang Hukum dan Kerjasama MUI Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry