
“Kami yakin, masih banyak bangunan pesantren yang kurang memadai sebagaimana ikhtiar dari para pengasuh PP Al Khoziny. Mari kita sisir bersama, demi masa depan anak kita.”

Oleh : Moh Mukhrojin*
ROBOHNYA bangunan mushalla Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo adalah sebuah musibah yang memilukan, ratusan korban (santri) bergelimpangan. Cucuran air mata wali santri, terus membasahi bumi Al Khoziny. Ini sekaligus menjadi pelajaran berharga tentang perlunya perhatian lebih terhadap kondisi pembangunan dan fasilitas pesantren.
Keterbatasan dana yang dihadapi banyak pesantren, terutama yang terletak di daerah dengan ekonomi menengah ke bawah, sudah menjadi masalah yang memprihatinkan. Sebagian besar pesantren beroperasi dengan anggaran yang terbatas, sehingga sulit menyediakan fasilitas yang memadai dan aman bagi santri. Sementara, tuntutan zaman terus berjalan.
Sebagai lembaga pendidikan yang sangat berperan dalam mencetak generasi berakhlak mulia, pesantren sering kali harus berjuang sendiri dengan dana yang sangat terbatas. Para pengasuh pesantren memilih untuk tidak membebani wali santri lebih jauh, mengingat banyak orang tua yang juga menghadapi kesulitan ekonomi. Subhanallah!
Keputusan ini, meskipun didorong oleh rasa empati dan tanggung jawab, seringkali mengorbankan kualitas bangunan dan fasilitas yang seharusnya lebih aman dan layak. Itulah risiko terselubung. Dengan kondisi ini, pengurus pesantren terpaksa menghadapi tantangan besar tanpa dukungan yang cukup dari luar.
Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Sebagai lembaga pendidikan yang penting dalam membentuk karakter dan moral bangsa, pesantren sudah seharusnya mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam hal alokasi dana.
Selama ini, sebagian besar dana pemerintah lebih banyak diarahkan untuk lembaga pendidikan formal, sementara pesantren yang memiliki kontribusi besar dalam pendidikan karakter bangsa seringkali mendapatkan anggaran yang sangat minim. Ini tentu tidak adil dan perlu segera diperbaiki. Dari sini, tragedi Al Khoziny, menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua.
Pemerintah harus turun tangan dengan memberikan bantuan yang cukup dan tepat sasaran untuk mendukung pembangunan fasilitas pesantren. Bantuan ini bisa berupa dana untuk pembangunan dan pemeliharaan fasilitas, pelatihan untuk pengelola pesantren, serta penyediaan sarana dan prasarana yang lebih memadai.
Dengan dukungan yang memadai, pesantren akan lebih mampu memberikan pendidikan yang berkualitas baik dari sisi akademik maupun moral, yang tentunya sangat penting dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Maka, musibah seharusnya menjadi titik balik bagi kita untuk lebih peduli terhadap pendidikan pesantren. Semua pihak, mulai dari pengasuh pesantren, wali santri, hingga pemerintah, harus bekerja sama agar pesantren dapat terus memberikan pendidikan yang layak dan aman bagi santri.
Semoga dengan adanya perhatian pemerintah (yang cukup) terhadap pesantren, kejadian serupa tidak akan terulang lagi, dan pondok pesantren dapat terus berkembang dengan fasilitas yang memadai dan memberikan kontribusi positif terhadap bangsa ini. Kami yakin, masih banyak bangunan pesantren sebagaimana ikhtiar pengasuh PP Al Khoziny. Mari kita sisir bersama demi masa depan anak kita.





































