
“Jatim telah membuktikan bahwa dengan cinta, ilmu, dan kolaborasi, stunting bukan takdir yang tak bisa dilawan. Ia adalah masalah yang bisa ditangani, selama pemimpinnya peduli dan masyarakat bersatu.”
Oleh Dr H ROMADLON, MM
DI TENGAH hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur dan dinamika politik nasional, terdapat kisah senyap yang menggugah: perjuangan melawan stunting—gangguan pertumbuhan kronis akibat kekurangan gizi pada anak-anak Indonesia.
Jawa Timur muncul sebagai harapan, dengan prevalensi stunting hanya 14,7 persen pada tahun 2024, terbaik di Pulau Jawa dan kedua secara nasional setelah Bali. Capaian ini bukan hasil keajaiban semalam, melainkan buah dari strategi panjang, sinergi lintas sektor, dan kepemimpinan yang memprioritaskan tumbuh kembang anak-anak.
Pendahuluan
Di sebuah desa kecil di pelosok Jawa Timur, seorang ibu muda tersenyum lega saat anaknya ditimbang di posyandu. Berat badan si kecil naik signifikan, dan dokter menyampaikan bahwa tumbuh kembangnya kini dalam jalur yang sehat. Tak ada air mata seperti tahun lalu, ketika ancaman stunting membuatnya diliputi kecemasan dan rasa bersalah. Perubahan ini bukan sekadar angka dalam grafik pertumbuhan, tapi kisah nyata tentang perjuangan, pendampingan, dan kerja kolektif yang membuahkan harapan. Jawa Timur kini berdiri sebagai provinsi dengan penanganan stunting terbaik di Pulau Jawa, dan peringkat kedua secara nasional setelah Bali—sebuah pencapaian yang bukan kebetulan, melainkan hasil dari kepemimpinan yang berpihak pada kehidupan.
Angka bisa saja jadi simbol keberhasilan, namun di balik penurunan prevalensi stunting yang signifikan, ada ribuan cerita yang menyentuh kalbu. Dari kader posyandu yang tanpa lelah menyusuri rumah ke rumah, bidan desa yang jadi tempat curhat para ibu muda, hingga kepala daerah yang menolak diam ketika anak-anak daerahnya terancam kehilangan masa depan. Di Jawa Timur, penanganan stunting bukan sekadar program, melainkan gerakan kemanusiaan. Di sinilah negara benar-benar hadir dalam bentuk paling konkret: makanan tambahan bergizi, edukasi menyeluruh, dan intervensi lintas sektor yang menyasar hingga akar masalah.
Keberhasilan ini juga lahir dari keberanian untuk mendobrak pendekatan lama. Jawa Timur tidak memilih jalan instan, melainkan merumuskan strategi jangka panjang dengan mengintegrasikan layanan kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Gubernur Khofifah Indar Parawansa bersama jajarannya menggandeng tokoh agama, pemuda, pengusaha, bahkan pesantren untuk bersama-sama menjaga generasi emas dari ancaman keterlambatan tumbuh kembang. Sinergi inilah yang membedakan: semua pihak merasa memiliki tanggung jawab yang sama dalam menyehatkan bangsa.
Namun, capaian ini bukanlah garis akhir. Di balik peringkat yang membanggakan, masih ada tantangan yang harus dituntaskan: kesenjangan antarwilayah, budaya diam terhadap gizi buruk, dan minimnya kesadaran pada 1.000 hari pertama kehidupan. Maka, keberhasilan ini justru menjadi pemicu semangat, bukan pelengkap prestasi. Jawa Timur memilih untuk tidak cepat puas. Karena setiap anak yang lahir sehat dan tumbuh optimal adalah investasi terbesar negeri ini.
Jawa Timur telah membuktikan bahwa dengan cinta, ilmu, dan kolaborasi, stunting bukan takdir yang tak bisa dilawan. Ia adalah masalah yang bisa ditangani, selama ada kepemimpinan yang peduli dan masyarakat yang bersatu. Dan dari tanah para pejuang ini, lahirlah generasi masa depan yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih siap memimpin Indonesia menuju puncak kejayaan.
-
Membaca Data, Menggali Nyawa di Balik Angka
Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting nasional turun menjadi 21,5 persen dari 37,6 persen pada 2018. Di Pulau Jawa, Jawa Timur mencatat angka 14,7 persen, lebih baik dibanding Banten (21,1%), DIY (17,4%), DKI Jakarta (17,3%), Jawa Tengah (17,1%), dan Jawa Barat (15,9%).
Namun, di balik angka tersebut terdapat kerja sistemik yang panjang. Pada 2019, angka stunting di Jawa Timur masih 26,9 persen. Dalam lima tahun, provinsi ini berhasil menurunkan angka tersebut sebesar 12,2 persen, sebuah lompatan signifikan.
Prof. dr. Soetjipto, pakar gizi komunitas dari Universitas Airlangga, menyatakan, “Ini bukan soal memberi makanan tambahan. Ini kerja lintas sektor, dari pendidikan, sanitasi, pemberdayaan perempuan, hingga rekayasa sosial di tingkat keluarga.”
-
Strategi Sistemik: Dari Desa ke Dapur, dari Ibu ke Negara
Keberhasilan Jawa Timur tidak lepas dari pendekatan holistik yang dirumuskan dalam Strategi Terintegrasi Percepatan Penurunan Stunting, disinergikan langsung di bawah koordinasi Gubernur Khofifah Indar Parawansa sejak 2019.
Program ini mencakup: Program “Bapak Asuh Anak Stunting”: Kepala daerah, pejabat, hingga tokoh masyarakat menjadi pengampu langsung bagi keluarga-keluarga rentan stunting.
Juga Revitalisasi Posyandu dan Puskesmas: Digitalisasi data dan pelatihan kader kesehatan berbasis kecamatan. Gerakan Cegah Stunting dari Desa: Melibatkan perangkat desa, bidan, dan kader PKK sebagai garda terdepan.
Integrasi data keluarga berisiko stunting dengan P3KE: Untuk ketepatan intervensi. Kemitraan dengan Perguruan Tinggi dan LSM: Seperti Universitas Airlangga, Muhammadiyah, dan NU Care-LAZISNU untuk edukasi gizi dan pola pengasuhan.
Gubernur Khofifah menegaskan, “Anak yang sehat bukan hanya tanggung jawab ibunya, tapi tanggung jawab negara.” Di sinilah program Jawa Timur menemukan kekuatan moral dan politiknya.
-
Lompatan Dibanding Lima Tahun Lalu
Perjalanan Jawa Timur dalam menurunkan angka stunting selama lima tahun terakhir adalah kisah keberhasilan pembangunan manusia yang layak menjadi rujukan nasional. Pada 2019, prevalensi stunting masih 26,9 persen. Tahun 2020 mencatat penurunan menjadi 24,2 persen, dan 2021 menjadi 23,5 persen.
Perubahan drastis terjadi pada 2022, saat prevalensi stunting menurun tajam menjadi 19,2 persen. Tahun berikutnya, 2023, angka tersebut kembali berhasil ditekan menjadi 16,8 persen. Puncaknya terjadi pada 2024, ketika angka stunting Jawa Timur berhasil ditekan hingga 14,7 persen.
Tren lima tahun ini menunjukkan pola yang stabil dan progresif. Jawa Timur mampu menurunkan lebih dari 12 persen dalam kurun waktu setengah dekade, sebuah pencapaian luar biasa di tengah tantangan kompleks seperti pandemi COVID-19 dan tekanan ekonomi global.
-
Kunci Sukses: Kepemimpinan, Kolaborasi, dan Ketekunan*
Pengamat kebijakan publik, Prof. Eko Prasojo dari Universitas Indonesia, menilai keberhasilan Jawa Timur sebagai model kepemimpinan kolaboratif. “Gubernur Khofifah bukan hanya membangun narasi anti-stunting, tapi mengorkestrasi aktor-aktor lokal hingga ke level keluarga. Inilah governance yang tak hanya struktural tapi juga kultural,” ungkapnya.
Keberhasilan ini juga didorong oleh anggaran kesehatan yang terus meningkat secara proporsional, termasuk penggunaan Dana Desa untuk pemberdayaan ibu hamil, penyediaan makanan lokal bergizi, hingga peningkatan sanitasi.
-
Pandangan Lembaga Nasional dan Internasional
Keberhasilan Jawa Timur dalam menurunkan angka stunting mendapatkan perhatian dari lembaga internasional. UNICEF Indonesia menyoroti bahwa stunting bukan satu-satunya masalah gizi yang dihadapi anak-anak Indonesia. “Satu dari lima anak di bawah lima tahun mengalami stunting, dan satu dari dua belas mengalami wasting,” ungkap UNICEF, menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam menangani masalah gizi anak-anak.
Dari sisi kebijakan nasional, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menegaskan bahwa pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan memiliki dampak signifikan dalam menurunkan prevalensi stunting di seluruh provinsi, termasuk di luar Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa alokasi anggaran yang tepat dan terarah dapat mempercepat penurunan angka stunting secara nasional.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, juga mengapresiasi penurunan angka stunting yang terjadi selama masa pandemi. “Penurunan stunting ini terjadi di masa pandemi, bukan di masa biasa,” ujarnya, menekankan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari upaya bersama yang luar biasa di tengah tantangan global.
Penutup: Menjaga Masa Depan dari Perut yang Lapar
Dalam sejarah pembangunan, prestasi sering diukur dari gedung pencakar langit, jalan tol, dan angka-angka pertumbuhan ekonomi. Namun di Jawa Timur, ukuran keberhasilan juga ditentukan oleh satu hal yang sangat sederhana namun mendalam: berat badan dan tinggi badan anak-anak yang kini tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih bahagia.
Mengatasi stunting bukan hanya soal menurunkan angka, melainkan merawat peradaban. Jawa Timur telah membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang visioner, strategi yang tepat, dan kerja kolektif dari bawah ke atas, hal itu bukanlah utopia.
Dan mungkin, di dapur sederhana seorang ibu di pelosok Bondowoso, Trenggalek, atau Sumenep—yang kini tahu pentingnya protein hewani dan air bersih—masa depan Indonesia sedang diselamatkan, satu sendok demi satu sendok.
*Dr H ROMADLON, MM adalah Pemerhati dan Pemberdaya SDM Insan Kamila Nusantara.





































