
“Saya mempunyai dua kenangan yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali mengingat Banser.”

Oleh Fahmi Arif El Muniry, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
AROMA khas kopi dan suara pelan pejalan kaki berpadu di pagi Tebuireng. Dari kedai kecil tepat di depan pintu masuk kompleks makam, saya melihat para peziarah datang tanpa putus. Ada rombongan santri yang masih bersarung, para kiai yang melangkah perlahan, keluarga muda yang menggandeng anak-anaknya, hingga mahasiswa yang tampak khusyuk selepas berziarah. Segelas kopi di hadapan saya perlahan mendingin, sementara pikiran justru melayang kepada Muktamar, satu peristiwa yang selalu membuat Nahdlatul Ulama tampak begitu hidup dengan dinamikanya.
Beberapa menit sebelumnya saya baru selesai berziarah ke makam KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurrahman Wahid di Kompleks Pesantren Tebuireng. Duduk di kedai kopi tepat di depan pintu masuk makam, saya menyaksikan orang-orang datang dengan doa, lalu pulang dengan wajah yang lebih teduh. Tebuireng selalu menghadirkan rasa pulang. Saya sedikit bernostalgia tahun lalu ketika diamanahi untuk menyiapkan sebuah perhelatan yang luar biasa, Ithlaq Peringatan Hari Santri.
Mungkin karena di sinilah saya selalu diingatkan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya dibangun oleh keputusan-keputusan besar. Ia tumbuh dari tradisi mengaji, adab kepada guru, musyawarah yang panjang, dan kebiasaan duduk bersama selepas pengajian sambil menyeruput secangkir kopi.
Karena itu, setiap kali mendengar kata Muktamar, yang terbayang di kepala saya bukanlah hiruk-pikuk kontestasi. Yang muncul justru wajah-wajah sahabat lama, para kiai, para santri, warung kopi yang penuh tawa, bazar yang ramai, dan ribuan orang yang datang dari berbagai penjuru Indonesia untuk berkumpul dalam satu rumah besar bernama Nahdlatul Ulama.
Bagi warga nahdliyin, Muktamar memang lebih dari sekadar forum organisasi. Ia adalah perjumpaan akbar. Tempat melepas rindu, menyambung silaturahmi, memperbarui semangat pengabdian, sekaligus merawat tradisi yang diwariskan para masyayikh. Ada yang datang sebagai muktamirin. Ada yang menjadi peninjau. Ada yang menjadi panitia. Ada yang membuka stan bazar. Ada yang menjadi relawan. Bahkan ada yang datang hanya karena tidak ingin kehilangan suasana Muktamar. Semuanya datang dengan kegembiraan. Ngangeni.
Di pesantren, kesungguhan tidak pernah menghilangkan kegembiraan. Musyawarah bisa berlangsung serius, tetapi selepas itu semua kembali duduk bersama. Perbedaan pandangan boleh muncul, tetapi persaudaraan tidak pernah ikut pergi. Saya berharap suasana itulah yang kembali mewarnai Muktamar NU yang akan datang.
Banser dan Adab Pesantren
Kalau ada kelompok yang paling sedikit menikmati Muktamar, mungkin jawabannya adalah Banser. Ketika peserta baru berdatangan, mereka sudah berjaga. Ketika sidang dimulai, mereka mengatur arus manusia. Ketika malam semakin larut, mereka masih memastikan seluruh arena tetap aman. Mereka juga menjadi tempat bertanya hampir semua urusan. Dari lokasi ruang sidang, penginapan, bazar, sampai warung makan yang paling ramai.
Saya mempunyai dua kenangan yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali mengingat Banser.
Kenangan pertama terjadi pada Muktamar NU di Solo. Saat itu saya bersama seorang teman mendapat amanah dari Mas Bisri Effendi, Direktur Desantara, untuk melakukan pengamatan terhadap salah satu dinamika Muktamar sebagai bagian dari penelitian. Kami datang sebagai peninjau.
Pengamanan berlangsung sangat ketat. Setiap pintu masuk dijaga Banser dengan disiplin. Kartu identitas diperiksa satu per satu. Masalahnya, kami hanya memiliki satu kartu identitas peninjau. Sebagai anak-anak muda yang sedang bersemangat menjalankan tugas, kami berusaha mencari cara agar tetap bisa melaksanakan amanah tersebut. Akhirnya, kartu identitas saya pegang di tangan tanpa tali, sementara tali pengenal dikenakan oleh teman saya di leher tanpa kartu. Dengan segala kepolosan dan kreativitas masa muda, kami akhirnya dapat memasuki arena Muktamar.
Kini, setiap kali mengingat peristiwa itu, saya hanya bisa tersenyum. Yang saya kenang bukan lagi kecerdikan masa muda, melainkan romantika Muktamar yang selalu menyimpan cerita-cerita kecil untuk ditertawakan ketika sahabat lama kembali bertemu. Justru yang paling membekas adalah dedikasi Banser. Mereka berdiri berjam-jam tanpa banyak dikenal, memastikan ribuan orang dapat mengikuti Muktamar dengan tertib. Dari mereka saya belajar bahwa sebuah Muktamar yang sukses bukan hanya ditentukan oleh jalannya sidang, tetapi juga oleh orang-orang yang mengabdi tanpa banyak sorotan.
Kenangan kedua bahkan lebih berkesan. Di tengah ketatnya penjagaan pintu masuk oleh para Banser, datanglah Mbah Lim, KH. Muslim Imampuro Klaten. Begitu mengenali beliau, para Banser spontan menyambut dan mencium tangan sang kiai dengan penuh hormat. Kosonglah pintu masuk. Dan beberapa muktamirin masuk tanpa penjagaan. Pemandangan itu berlangsung sangat singkat, tetapi meninggalkan kesan yang sangat panjang.
Di situlah saya melihat wajah asli pesantren. Disiplin organisasi berjalan beriringan dengan ta’dhim kepada guru. Ketegasan tidak menghilangkan adab. Prosedur tidak menghapus penghormatan. Barangkali hanya di lingkungan pesantren kita menemukan pemandangan seperti itu. Banser tidak hanya menjaga pintu masuk Muktamar. Mereka juga menjaga ruh pesantren yang hidup dalam diri setiap warga nahdliyin.
Ruang NU dan Ruang UN
Semakin sering mengikuti Muktamar, saya semakin percaya bahwa setiap Muktamar selalu memiliki dua ruang. Yang pertama adalah Ruang NU. Di ruang inilah sidang pleno berlangsung. Forum komisi bekerja. Bahtsul Masail menghadirkan diskusi ilmiah yang kaya dengan khazanah kitab. Program kerja dibahas. Kepemimpinan dipilih. Masa depan organisasi dirumuskan.
Namun ada satu ruang lagi yang tidak pernah tertulis dalam buku panduan Muktamar. Saya menyebutnya Ruang UN. UN adalah singkatan dari Untuk Ngopi. Ruang ini bisa berada di warung kopi, teras penginapan, sudut bazar, atau bangku sederhana di bawah pohon. Tidak ada mikrofon. Tidak ada palu sidang. Tidak ada tata tertib. Tetapi justru di ruang inilah wajah Nahdlatul Ulama yang paling cair terlihat.
Ada yang baru selesai mengikuti sidang komisi. Ada yang baru keluar dari forum Bahtsul Masail. Ada yang sibuk mencari kitab. Ada yang berburu kaus Muktamar. Ada yang memilih sarung tenun terbaru. Ada yang menikmati bazar UMKM pesantren. Dan tentu saja ada rombongan yang sejak awal tampaknya memang menjadikan UN sebagai agenda utama: berpindah dari satu warung kopi ke warung kopi berikutnya.
Di Ruang UN semua mendadak menjadi analis. Prediksi beredar lebih cepat daripada pengumuman resmi. Pembahasan melompat dari dinamika organisasi, masa depan pesantren, ekonomi umat, sampai kopi terenak di sekitar arena. Guyonan khas nahdliyin bahkan menyebutnya sebagai “ghibah tingkat tinggi”. Namun semuanya berakhir dengan tawa. Sebab semua sadar bahwa siapa pun yang nanti menerima amanah tetaplah saudara sendiri.
Keputusan Muktamar lahir di Ruang NU. Kenangannya lahir di Ruang UN. Kalau Ruang NU menjaga organisasi, maka Ruang UN menjaga persaudaraan.
Kopi di hadapan saya akhirnya habis. Para peziarah masih terus keluar-masuk melalui gerbang makam. Saya kembali memandang ke arah kompleks tempat para masyayikh beristirahat. Saya membayangkan Muktamar NU yang akan datang. Semoga tetap menjadi ruang yang teduh. Ruang yang dipenuhi adab, bukan amarah. Ruang yang melahirkan gagasan, bukan sekadar persaingan. Ruang yang mempertemukan kembali para sahabat, bukan menjauhkan mereka karena perbedaan pilihan.
Mari kita sambut Muktamar Nahdlatul Ulama dengan riang gembira. Riang mengikuti sidang di Ruang NU. Riang menikmati secangkir kopi di Ruang UN. Riang bertemu kembali dengan sahabat lama. Riang menyapa Banser yang berjaga tanpa lelah. Sebab Muktamar bukan sekadar forum memilih pemimpin. Muktamar adalah perayaan budaya pesantren yang selama lebih dari satu abad menjaga Nahdlatul Ulama tetap teduh.
Saya menghabiskan tegukan terakhir kopi di depan pintu masuk makam Tebuireng. Para peziarah masih berdatangan. Saya pun beranjak pulang dengan satu keyakinan bahwa Muktamar Nahdlatul Ulama akan selalu menemukan jalannya, selama warga nahdliyin tetap menjaga tiga warisan para masyayikh. Ilmu yang terus dikaji, adab yang terus dirawat, dan persaudaraan yang tak pernah selesai diseduh, sebagaimana secangkir kopi yang selalu menghangatkan setiap perjumpaan. Selamat bermuktamar. Mari kita datang membawa cinta, bermusyawarah dengan adab, dan pulang membawa persaudaraan.(*)





































