Oleh: Dr H A. Effendy Choirie, MAg., MH.*
Muktamar ke-35 dan Tantangan Abad Kedua NU

MUKTAMAR ke-35 Nahdlatul Ulama merupakan momentum bersejarah bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Setelah memasuki abad kedua, NU dituntut tidak hanya mampu menjaga tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah, mengembangkan pendidikan pesantren, merawat persatuan bangsa, dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga dituntut mampu menjawab tantangan besar yang dihadapi umat di bidang ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Selama hampir satu abad, NU telah menunjukkan peran yang luar biasa dalam kehidupan bangsa. Ribuan pesantren berdiri dan berkembang di seluruh Indonesia. Jutaan santri dan alumni pesantren berkiprah dalam berbagai bidang. Para ulama dan kiai NU berada di garis depan perjuangan kemerdekaan, mempertahankan negara, mengawal demokrasi, dan menjaga harmoni sosial kebangsaan.

Namun memasuki abad kedua, terdapat satu agenda besar yang belum sepenuhnya terwujud, yaitu bagaimana kekuatan sosial Nahdliyin yang sangat besar dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga NU dan masyarakat Indonesia secara luas.

Karena itu, sudah saatnya pembangunan ekonomi umat ditempatkan sebagai salah satu agenda strategis utama Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

Nahdlatut Tujjar: Akar Historis Ekonomi NU

Sesungguhnya gagasan membangun ekonomi umat bukanlah sesuatu yang baru dalam tradisi NU. Sebelum Nahdlatul Ulama berdiri pada tahun 1926, para ulama pesantren yang dipimpin KH Wahab Chasbullah telah mendirikan Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Para Saudagar.

Nahdlatut Tujjar lahir dari kesadaran bahwa perjuangan agama dan kebangsaan memerlukan fondasi ekonomi yang kuat. Para pendiri NU memahami bahwa umat yang lemah secara ekonomi akan sulit mandiri dalam pendidikan, dakwah, maupun perjuangan sosial-politik.

Karena itu, semangat berdagang, berwirausaha, membangun koperasi, dan memperkuat ekonomi umat sesungguhnya telah menjadi bagian dari DNA perjuangan NU sejak awal.

Sayangnya, dalam perjalanan sejarah, perhatian terhadap penguatan ekonomi umat sering kali tidak sebesar perhatian terhadap bidang dakwah, pendidikan, dan politik kebangsaan. Akibatnya, NU tumbuh menjadi organisasi yang sangat besar secara sosial, tetapi belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi yang sebanding dengan besarnya jumlah jamaahnya.

Padahal semangat Nahdlatut Tujjar merupakan warisan besar para pendiri NU yang perlu dihidupkan kembali memasuki abad kedua organisasi ini.

Potensi Ekonomi Nahdliyin yang Sangat Besar

NU memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Ribuan pesantren, puluhan ribu lembaga pendidikan, jutaan santri dan alumni, jutaan petani, nelayan, peternak, pedagang, pelaku UMKM, profesional, akademisi, birokrat, dan pengusaha merupakan aset yang sangat berharga.

Berbagai survei menunjukkan bahwa lebih dari separuh umat Islam Indonesia memiliki kedekatan kultural dengan NU. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 300 juta jiwa, maka warga Nahdliyin mencapai puluhan bahkan lebih dari seratus juta orang.

Apabila potensi tersebut dapat dikonsolidasikan dalam satu gerakan ekonomi yang terorganisasi, NU berpotensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi rakyat terbesar di Indonesia.

Tantangan utamanya bukan kekurangan sumber daya manusia atau kekurangan jamaah, melainkan bagaimana membangun sistem, manajemen, jaringan usaha, akses permodalan, teknologi, dan pasar yang mampu menghubungkan seluruh potensi tersebut dalam satu ekosistem ekonomi yang kuat.

Belajar dari Visi Ekonomi Gus Dur

Salah satu tokoh NU yang memiliki perhatian besar terhadap kemandirian ekonomi umat adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Ketika memimpin PBNU, Gus Dur tidak hanya berbicara tentang demokrasi, pluralisme, dan kebangsaan. Beliau juga mendorong berbagai inisiatif ekonomi yang bertujuan memperkuat kemandirian warga Nahdliyin.

Pada masa itu lahir berbagai usaha ekonomi seperti pengembangan industri tapioka di Lampung, pengolahan buah nanas di Subang, Jawa Barat, serta pendirian Bank Nusumma melalui kerja sama NU dengan Bank Summa.

Bank Nusumma dirancang sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi warga NU. Bahkan terdapat gagasan besar untuk membangun hingga seribu jaringan Bank Nusumma di berbagai daerah.

Walaupun berbagai inisiatif tersebut menghadapi berbagai kendala, baik faktor ekonomi, manajemen, maupun situasi politik pada masa itu, visi besar Gus Dur tetap relevan hingga sekarang: organisasi sebesar NU harus memiliki basis ekonomi yang kuat agar mampu memperjuangkan kesejahteraan umat secara lebih nyata.

Belajar dari Pesantren NU yang Berhasil

Sesungguhnya model ekonomi NU sudah ada. Bahkan beberapa pesantren telah menunjukkan keberhasilan yang patut menjadi inspirasi bagi seluruh warga Nahdliyin.

Pesantren Sidogiri Pasuruan

Pesantren Sidogiri merupakan salah satu model ekonomi pesantren paling sukses di Indonesia. Melalui koperasi, lembaga keuangan syariah, jaringan ritel, dan berbagai unit usaha lainnya, Sidogiri berhasil membangun sistem ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.

Keberhasilan Sidogiri membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi umat.

Pesantren Sunan Drajat Lamongan

Pesantren Sunan Drajat berhasil mengembangkan berbagai unit usaha di bidang perdagangan, manufaktur, jasa, dan sektor ekonomi lainnya.

Pesantren ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan, dakwah, dan aktivitas ekonomi dapat berjalan secara harmonis serta saling menguatkan.

Pesantren Langitan Tuban

Pesantren Langitan Widang Tuban merupakan salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh dalam sejarah NU. Selain kiprahnya dalam pendidikan dan dakwah, keluarga besar pesantren bersama para alumni dan santri juga mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi produktif.

Salah satu yang cukup dikenal adalah produksi Air Demineral KESAN, singkatan dari Keluarga Alumni dan Santri Langitan.

Produk tersebut menunjukkan bahwa jaringan alumni dan santri tidak hanya dapat menjadi kekuatan sosial dan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi kekuatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Keberhasilan Sidogiri, Sunan Drajat, dan Langitan membuktikan bahwa ekonomi pesantren bukan sekadar teori. Modelnya sudah ada, tinggal diperluas dan direplikasi ke ribuan pesantren NU lainnya.

Saatnya Membangun Sentra-Sentra Ekonomi NU

Belajar dari sejarah Nahdlatut Tujjar, visi ekonomi Gus Dur, dan keberhasilan sejumlah pesantren, maka sudah saatnya NU melahirkan agenda ekonomi yang lebih konkret dan terukur.

Muktamar ke-35 NU perlu menetapkan program strategis pembangunan sedikitnya **100 Sentra Ekonomi NU** sebagai fondasi awal kebangkitan ekonomi abad kedua.

Sentra ekonomi tersebut dapat dibangun berdasarkan potensi unggulan masing-masing daerah.

Daerah pertanian mengembangkan sentra agribisnis modern. Daerah pesisir mengembangkan sentra perikanan dan industri hasil laut. Daerah perkebunan mengembangkan industri pengolahan hasil perkebunan. Sementara kawasan perkotaan mengembangkan UMKM, perdagangan, ekonomi digital, industri kreatif, dan industri halal.

Setiap sentra ekonomi dapat dilengkapi dengan koperasi modern, lembaga keuangan syariah, pusat pelatihan kewirausahaan, inkubator bisnis, pusat pemasaran digital, serta kemitraan usaha dengan pemerintah, perguruan tinggi, BUMN, dan sektor swasta.

Target 100 sentra ekonomi bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal menuju pembangunan jaringan ekonomi NU yang menjangkau seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

Pesantren Sebagai Motor Penggerak Ekonomi Umat

Pada abad kedua, pesantren perlu mengambil peran yang lebih besar dalam pembangunan ekonomi masyarakat.

Pesantren memiliki modal sosial yang tidak dimiliki banyak lembaga lain, yaitu kepemimpinan kiai yang dipercaya masyarakat, jaringan alumni yang luas, budaya gotong royong yang kuat, serta basis massa yang besar.

Karena itu, pesantren dapat dikembangkan menjadi pusat pelatihan kewirausahaan, pusat pengembangan UMKM, pusat koperasi, pusat industri halal, pusat pertanian modern, hingga pusat ekonomi digital.

Pesantren tidak hanya mencetak ulama dan santri yang alim, tetapi juga dapat mencetak pengusaha, profesional, teknokrat, dan inovator yang mampu bersaing di era global.

Mengelola Sumber Daya Alam untuk Kesejahteraan Umat

Belakangan ini muncul peluang bagi organisasi kemasyarakatan keagamaan untuk ikut mengelola sumber daya alam yang diberikan oleh negara.

Dalam perspektif kebangsaan, hal tersebut merupakan sesuatu yang logis dan wajar. NU adalah salah satu komunitas bangsa yang sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga sekarang telah memberikan kontribusi besar bagi agama, bangsa, dan negara.

Karena itu, apabila NU memperoleh kesempatan mengelola sumber daya ekonomi, termasuk sektor pertambangan, maka pengelolaannya harus dilakukan secara profesional, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan umat.

Keuntungan yang diperoleh harus digunakan untuk memperkuat pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pengentasan kemiskinan, pengembangan pesantren, beasiswa santri, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Nahdliyin.

Tambang bukan tujuan akhir. Tambang hanyalah instrumen untuk mewujudkan kesejahteraan umat.

Dari Kekuatan Jamaah Menuju Kekuatan Kesejahteraan

Jika abad pertama NU berhasil melahirkan ribuan ulama, pesantren, dan pejuang kebangsaan, maka abad kedua NU harus mampu melahirkan ribuan pengusaha, koperasi, lembaga ekonomi, dan sentra-sentra usaha umat.

Agama yang kuat memerlukan pendidikan yang kuat. Pendidikan yang kuat memerlukan ekonomi yang kuat. Dan ekonomi yang kuat akan mengantarkan umat menuju kesejahteraan yang lebih bermartabat.

Karena itu, NU harus tetap menjadi kekuatan moral, kekuatan keagamaan, dan kekuatan kebangsaan. Namun pada saat yang sama, NU juga harus menjadi kekuatan ekonomi rakyat yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi warga Nahdliyin.

Penutup

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama hendaknya menjadi titik tolak kebangkitan ekonomi abad kedua NU.

Semangat Nahdlatut Tujjar harus dihidupkan kembali. Visi ekonomi Gus Dur harus dilanjutkan. Keberhasilan Pesantren Sidogiri, Pesantren Sunan Drajat, dan Pesantren Langitan harus dijadikan model nasional. Pesantren harus diperkuat sebagai pusat pemberdayaan ekonomi. Pengusaha Nahdliyin harus diperbanyak. Koperasi harus dimodernisasi. Sentra-sentra ekonomi harus dibangun di seluruh Indonesia.

Sudah saatnya NU tidak hanya dikenal sebagai organisasi Islam terbesar, tetapi juga menjadi gerakan ekonomi umat terbesar yang mampu menghadirkan kesejahteraan bagi warga Nahdliyin dan seluruh rakyat Indonesia.

Sebagaimana para pendiri NU dahulu memulai Nahdlatut Tujjar sebelum mendirikan Nahdlatul Ulama, maka memasuki abad kedua ini sudah saatnya NU menghidupkan kembali semangat tersebut dalam bentuk gerakan ekonomi modern yang terorganisasi, profesional, dan berkelanjutan.

Dari Nahdlatut Tujjar menuju Kebangkitan Ekonomi Abad Kedua NU. Dari kekuatan jamaah menuju kekuatan kesejahteraan. Dari NU untuk kemaslahatan umat, kemajuan bangsa, dan kejayaan Indonesia.

*Dr H A. Effendy Choirie, MAg., MH adalah Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) 2024–2029. Anggota DPR/MPR RI 1999–2013. Mantan Ketua Fraksi PKB DPR RI, Mantan Wakil Ketua Komisi I DPR R.

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry