
MOJOKERTO | duta.co – Di tengah hangatnya suasana pedesaan yang sarat nilai-nilai tradisi, bertempat di Balai Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, terselenggara kegiatan yang menggugah semangat kebangsaan dan kesadaran kolektif akan pentingnya kepemimpinan masa depan. Sharing Session Pancasila dengan tema “Penguatan Transformational Leadership Berbasis Kearifan Lokal dalam Mendukung Transformasi Digital di Desa.” Sabtu, tanggal 14 Juni 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) yang mengusung cita-cita luhur untuk membumikan kembali nilai-nilai Pancasila dalam realitas sosial masyarakat desa. Tema besar yang diangkat menjadi refleksi mendalam atas tantangan zaman: bagaimana membentuk pemimpin desa yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga berakar kuat pada budaya dan kearifan lokalnya.
Di tengah derap perubahan zaman yang makin cepat, desa-desa di Indonesia menghadapi tantangan besar: bagaimana memelihara identitas dan nilai luhur budaya, sembari merangkul transformasi digital sebagai jalan menuju kemajuan. Maka dari itu, kegiatan ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan ajakan moral dan intelektual untuk bersiap menghadapi masa depan dengan jiwa yang arif dan hati yang terbuka.
Kepala Desa Pesanggrahan menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menjawab kebutuhan zaman. Balai desa dipenuhi oleh beragam kalangan—tokoh masyarakat, perangkat desa, pemuda-pemudi karang taruna, ibu-ibu PKK, serta para pemuda lintas agama yang duduk berdampingan dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan.
Sesi pemaparan materi dan diskusi menjadi inti dari kegiatan ini, menghadirkan dua pemateri inspiratif yang mengupas tema dari dua sisi penting. Moh. Najmuddin, S.Hum., M.Si. dalam materi berjudul “Kewaspadaan Digital”, beliau memaparkan bagaimana era digital membawa serta peluang dan ancaman. Internet bisa menjadi jembatan informasi atau justru jurang disinformasi.
Beliau mengajak masyarakat untuk cerdas dalam bermedia sosial, membentengi diri dengan literasi digital, serta tetap menjadikan Pancasila sebagai kompas dalam bersikap. Suasana hening ketika ia berbicara, bukan karena sepi, tetapi karena setiap kata menyentuh relung kesadaran peserta akan pentingnya menjadi warga digital yang beretika.
Sementara Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina, S.S., M.A. dengan penuh semangat, beliau menyampaikan materi “Leadership Berbasis Kearifan Lokal”. Pemimpin yang baik, kata beliau, adalah mereka yang tidak tercerabut dari akar budaya. Dalam setiap petuah leluhur, dalam gotong royong, dalam musyawarah di balai desa, di situlah nilai-nilai kepemimpinan sejati tumbuh. “Transformasi digital bukan ancaman, tetapi peluang jika dipimpin oleh orang-orang yang mengenali identitasnya sendiri.”
Acara dipandu dengan hangat oleh Moderator Muhammad Nuril Mukminin, S.Psi., M.Psi., yang dengan gayanya yang santai namun cerdas, membuka ruang diskusi yang penuh dinamika. Peserta terlibat aktif, tidak hanya menyimak, tetapi juga bertanya, menanggapi, dan berbagi cerita lokal mereka tentang kepemimpinan dan perubahan.
Kegiatan ini bukan hanya sukses secara teknis, tetapi juga menyentuh secara emosional. Banyak peserta mengaku merasa “dibangkitkan kembali,” melihat bahwa kepemimpinan bukan milik mereka yang bergelar tinggi saja, tapi milik siapa pun yang peduli, mau belajar, dan mencintai desanya. Semangat untuk membawa desanya lebih maju melalui pemanfaatan teknologi kini disertai kesadaran bahwa nilai-nilai lokal harus tetap menjadi pijakan.
Pada akhirnya, kegiatan ini menjadi penanda bahwa Desa Pesanggrahan tidak hanya siap menyongsong era digital, tetapi juga bertekad untuk tetap berdiri kokoh di atas nilai-nilai budaya dan kebangsaan. Melalui kepemimpinan yang transformasional, yang berpijak pada kearifan lokal, dan berorientasi pada masa depan, desa ini meneguhkan langkahnya sebagai bagian dari Indonesia yang tangguh dan berdaulat. Ekp








































